Comscore Tracker

Meraup Cuan di Masa Pandemik, Bisa Kok!

Banyak bisnis terpuruk, namun ada pula yang meroket

Serang, IDN Times - Pandemik COVID-19 memukul semua sektor, terutama perekonomian dan bisnis. Namun, di tengah situasi sulit ini, ada jenis-jenis bisnis yang justru meraup cuan. 

Sebagian bisnis yang justru meroket di tengah pandemik itu, sebagian besar terkait dengan aktivitas orang yang membatasi kegiatan di luar rumah, seperti bisnis tanaman, kuliner, hingga alat-alat olahraga. 

Di Banten, misalnya, pedagang sepeda bisa mendapat pemasukan 70 persen lebih dibanding sebelum pandemik. Hal ini disebabkan animo masyarakat yang ingin tetap bugar agar tidak mudah tertular COVID-19

Berikut kisah-kisah pengusaha yang mampu meraup keuntungan di tengah pandemik COVID-19. Bisa jadi ide bisnis saat pandemik yang cuan banget!

1. Sepeda booming, toko sepeda laris manis

Meraup Cuan di Masa Pandemik, Bisa Kok!Ilustrasi Jalur Sepeda (IDN Times/Dwi Agustiar)

Di masa pandemik COVID-19 yang membuat orang ingin terus menjaga kebugaran tubuh dengan berolahraga, termasuk di Kota Tangerang, Banten. Tren bersepeda ini membuat penjualan sepeda meningkat drastis.

Seperti di toko sepeda Bersaudara di Jalan Kiasnawi, Pasar Anyar, Kota Tangerang. Toko tersebut ramai dikunjungi pembeli maupun calon pembeli. "Selagi tren gini, terutama setelah lebaran kemarin, penjualan meningkat sampai 70 persen,"kata pemilk toko seped, Helen Limanto, Jumat (20/11/2020).

Saat ini, kata Helen, rata-rata 17 unit sepeda laku terjual per harinya. Hal ini berbeda dengan jumlah penjualan saat normal yang hanya di kisaran 10 unit maksimal dalam sehari.

Helen mengakui, bisnis sepeda sempat merosot tajam di awal pandemik. Dalam sehari, dia pernah menjual hanya 3 sepeda saja.

Lalu, sepeda apa yang paling diminati pembeli? "Sepeda gunung dan lipat. Karena pembeli setelah pandemik katanya mau jalan-jalan atau olahraga," ucap Helen. 

Helen menjual sepeda dengan harga bervariasi, mulai dari harga Rp1,5 juta sampai Rp9 juta.

Baca Juga: Pedagang Sepeda Raup Untung di Pandemik

2. Banting setir dari bisnis terdampak pandemik menjadi jualan sayur online

Meraup Cuan di Masa Pandemik, Bisa Kok!Huta Fresh Market (IDN Times/Masdalena Napitupulu)

Terhantam pandemik, seorang pengusaha harus memutar otak agar tetap bisa bertahan. Itulah yang dilakukan Henny Pandiangan (42). 

Semula dia memiliki bisnis eventorganizer di Medan, Sumatera Utara. Seperti pengusaha EO lainnya, usaha miliknya benar-benar terpuruk.

"Kalau dilihat di dalam itu ada booth-booth, printing, banyak dekorasi wedding. Di atas juga ada project officer, ini ada digital marketing, ada designer, kita aslinya agency event organizer," kata Henny, beberapa waktu lalu. 

Di masa pandemik ini, sudah banyak event yang di-reschedule, bahkan beberapa malah batal.

"Event terakhir ada BCA Expo di bulan Maret, kita sudah banyak schedule sampai bulan July, kan ini benar-benar mendadak sekali. Bahkan ketika perintah WFH itu, setengah tim aku udah di Palembang, tiba-tiba pandemik, disuruh pulang".

"Untung saat itu kita masih bisa pulang, karena pada saat itu kan sudah ada yang tidak bisa pulang lagi, kasian banget kalau di Palembang, karena mereka bukan orang Palembang," tuturnya.

Di tengah keterpurukan bisnis itu, Henny harus putar otak untuk mendapatkan penghasilan lain, tanpa merumahkan para tim kreatifnya. Dia pun banting setir dari EO agency menjadi tukang jualan sayur daring. 

Kini, Henny berinisiatif untuk membuka usaha sayur daring dengan sebutan Huta Fresh Market. Sebulan berjalan, Henny sudah menggaet 382 pelanggan. Namun, per harinya ada 40 pelanggan tercatat yang melakukan pembelian.

Meski demikian, dia berharap pandemik ini segera berakhir agar dia dan timnya bisa kembali menggeluti bisnis awalnya, EO agency.

"Secara bisnis persentase (sayur online), ok. Tapi kan nominalnya beda sekali. Tapi ini bisnis baru lah. Di samping kita pengen tetap mencoba kreativitas kita, digital performance. Dengan kita mau bikin Huta Life ya, kita mau menginspirasi," tuturnya. 

Baca Juga: Masa Pandemik, Henny Beralih Profesi dari EO Jadi Jual Sayur Online

3. Jeli melihat peluang bisnis menjadi faktor sangat penting di tengah pandemik

Meraup Cuan di Masa Pandemik, Bisa Kok!Local Brand fashion big size, produknya selalu ditunggu konsumen (Dok.IDN Times/bigboylooksgood)

Jeli melihat peluang di tengah pandemik COVID-19 juga membuat Denny Nugraha (41) mampu bertahan. Semula, Denny menjalankan bisnis fashion big size khusus cowok, Bigboylooksgood,sejak 2012.

Bisnis itu dia geluti karena hasil survey pasar yang ia lakukan saat itu menunjukkan bahwa rupanya tidak ada brand lokal yang menyediakan fashion big size hingga 5L.

“Semua itu paling besar hanya XL (Xtra Large) sama 2L. Yang paling mahal kami nemuin itu kemeja Rp2 juta satu lembar, mentok itu sizenya itu di XL. Terus kami pikir ini orang yang kaya, punya duit, ketika badannya lebih besar dari XL ke mana kah? Kan berarti marketnya kosong kan?” jelasnya.

Pemikiran tersebut kemudian mengantarnya memulai bisnis fashion big size dari ukuran L sampai XL American Size. Saran yang disampaikan oleh konsumen-konsumennya saat itu membuatnya menciptakan ukuran lain seperti 2L, 3L, 4L dan 5L.

“Pada 2018 itu kami mulai naikin sampai 5L. Ternyata permintaannya makin banyak juga,” jelasnya.

Local brand yang berlokasi di Seminyak village ini harganya pun terjangkau sekitar Rp328 ribu hingga Rp428 ribu. Daur hidup koleksinya hanya 3 minggu saja, setelah itu habis barangnya. 

Denny mengungkapkan bahwa pandemik ini baginya malah menjadi tantangan tersendiri. Agar bisa menyiasati income, pihaknya langsung switch produksi yang tadinya membuat baju, kini juga membuat masker dari bahan kain-kain tersebut sehingga matching dengan fashion buatannya.

“Jadi surprisingly, malah disukai sama customer kami. Karena kan customer kami itu modelannya tampil beda gitu kan. Pada saat itu masker masih pada yang polosan, masih yang medis ya,” jelasnya.

Motif yang ia gunakan pun tak kalah seru dengan kemeja-kemejanya, ada yang bermotif apel, ikan, donat, mata, sepatu, dan lain sebagainya. Kain-kain yang gak berani dibeli oleh orang, maka di tangan Denny menjadi sesuatu yang berbeda.

Baca Juga: Dari Fashion Big Size di Bali, Kini Raup Cuan Lewat Produksi Masker

4. Diyakini tingkatkan imun di tengah pandemik, empon-empon pun diburu orang

Meraup Cuan di Masa Pandemik, Bisa Kok!Harga empon-empon di Surabaya merangkak naik. IDN Times/Ardiansyah Fajar

Bisnis lain yang meroket adalah produk herbal, termasuk empon-empon. Jenis herbal satu ini begitu diminati orang karena diyakini bisa meningkatkan imun tubuh, utamanya di tengah pandemik.

Salah satu pengusaha di sektor ini adalah Supriyatin. Saat virus corona merebak pertama kali di Indonesia, warga Boja, Kabupaten Kendal, Jawa Tengah itu mengaku seperti ketiban durian runtuh.

Betapa tidak, sirup jahe gula aren yang sudah ia produksi sejak enam tahun terakhir, mendadak booming! Di bulan pertama hingga bulan ketiga masa pandemik, Supriyatin  kebanjiran orderan. 

Pri, begitu ia akrab disapa, sampai-sampai kewalahan menerima banyaknya pesanan dari para pelanggan. 

Menurut Pri, minuman berbahan baku jahe sebenarnya bisa menghangatkan tubuh dan melegakan tenggorokan. Tapi para pelaku industri jamu sepertinya juga diuntungkan dengan maraknya kabar bahwa empon-empon merupakan salah satu tanaman yang dianggap manjur meredakan gejala infeksi virus corona.

Sang istri Sri Sudarmi berkisah, jumlah pesanan bisa naik sampai lima kali lipat. "Dari yang tadinya gak pernah datang ke rumah, pas pandemik tiba-tiba orang-orang pada kemari. Awalnya kepengin lihat sirup jahenya. Terus langsung dibeli," kata Sri. 

Berbagai cara pun dilakukan suami-istri ini untuk mengantarkan produk buatannya sampai ke tangan konsumen yang tinggal di luar kota. Ya, pelanggan minuman Jahe 33 tersebar di Jakarta, Jabar hingga Yogyakarta. "Biasanya kita kirimnya pakai mobil boks, bisa juga lewat kantor pos dan kalau yang pesan dari Jakarta bisa dititipkan lewat bus juga," tambahnya. 

Jika kondisi normal ia hanya mendapat pesanan 500-1.000 botol per bulan. Namun, kala pandemik jumlahnya meroket hingga bisa melayani pesanan 25.000 botol saban bulan. Wow. 

Baca Juga: Diborong Luhut, Sirup Jahe Kendal Jadi Minuman Favorit Istana Negara

5. Gerakan #dirumahaja membuat mebel pun menjadi bisnis menggiurkan

Meraup Cuan di Masa Pandemik, Bisa Kok!Desainer Interior Mebelux Furnitur memperlihatkan produk mebel miliknya. IDNTimes/Larasati Rey

Kisah bisnis lain yang meroket adalah mebel. Dari Kota Solo, desainer Interior Mebelux, Fitriana mengatakan bahwa penjualan mebel mengalami peningkatan selama masa pandemi mulai bulan Maret hingga saat ini. Peningkatan penjualan meningkatkan hingga 20 persen jika dibandingkan dengan bulan sebelum pandemik COVID-19.

Fitriana menilai, adanya aktivitas masyarakat di rumah selama pandemik ini, menjadi kesempatan masyarakat untuk melakukan renovasi rumah dan membangun rumah.

“Mungkin orang-orang bosan ya di rumah sehingga ingin mempercantik rumahnya, jadi ingin membuat nyaman rumah jadi malah banyak yang melakukan renovasi di rumah,” ungkapnya.

Berbagai mebel dan furnitur ditawarkan, namun menurut Fitriana masyarakat lebih banyak mengincar produk kitchen set saat masa pandemi ini.

“Selama masa ini permintaan meningkat kebanyakan permintaan di kitchen set, backdrop televisi, dan interior-interior lainnya seperti interior kamar, tangga, dan menghias bawah tangga,” jelasnya.

Fitri mengatakan, furnitur sesuai permintaan pelanggan (custom) ditawarkan mulai dari Rp1,8 juta per meter persegi. Selama pembukaan showroom di Solo, Jawa Tengah, Mebelux Furnitur memberikan diskon berupa cashback Rp1 juta untuk pembelian furnitur senilai Rp10 juta menjadi daya tarik bagi masyarakat yang ingin berburu furnitur berkualitas dengan harga terjangkau. Selain di Solo, Mebelux juga membuka cabang dì Jakarta.

Baca Juga: Mau Dapat Cuan Fantastis? Budidayakan Nih 2 Jenis Cupang Ini

6. Cupang, kecil-kecil bawa cuan besar. Penjual Cupang di Lampung sampai bisa bangun rumah

Meraup Cuan di Masa Pandemik, Bisa Kok!Ilustrasi Ikan Cupang (ANTARA FOTO/Adeng Bustomi)

Selain merapikan rumah, banyak orang yang juga menggeluti hobi untuk menghilangkan kejenuhan selama pandemik. Salah satu hobi yang tren kembali adalah cupang.

Tak hanya sekadar hobi saja, popularitas ikan cupang dan tanaman hias membawa untung yang melimpah bagi para penjualnya. Aidan, misalnya, meraup omzet jutaan rupiah dari usahanya berjualan cupang. 

Penjual asal Lampung ini memilih jenis cupang koi multi color untuk dia tawarkan melalui media sosial. Sebetulnya, Aidan sudah melakoni bisnis cupang ini sejak April 2019.

Awalnya dia adalah penjual ikan cupang yang mengambil dari orang lain, namun lama-lama dia mulai belajar sendiri untuk beternak. Saat ini lahan kolamnya sudah cukup luas bahkan dia berencana untuk memperluas lagi.

Sebelum pandemik, Aidan sempat memasarkan ikannya ke luar negeri. Namun sejak pandemik ini terhambat karena banyak negara yang lockdown. Akhirnya dia hanya fokus memasarkan secara lokal. Itu pun tetap meraup untung yang besar.  

“Hampir seluruh Indonesia udah pernah semua, kalau luar negeri kecuali Afrika udah semua juga order ke saya. Gak pernah rugi sih karena kan saya ternak sendiri. Sekarang saya mau bangun rumah sama perluas kolam. Ini semua murni dari hasil jualan cupang,” ujarnya.

Menurut Aidan, dalam memelihara cupang membutuhkan kesabaran dan semangat yang besar. Sebab pada usia satu bulan, adalah masa rawan ikan cupang. Perawatan dan jenis makannya harus benar-benar diperhatikan.

Tapi kalau sudah lewat usia itu sudah biasa saja karena sudah bisa diberi makan pelet atau jenis makanan ikan lain. Menurutnya dalam waktu tiga bulan ikan sudah bisa dipasarkan tapi bergantung pada jenis ikannya. Karena ikan koi multicolor ini membutuhkan mutasi untuk memecahkan warna pada kulit ikan.

Berbisnis cupang juga menjadi pilihan penjual cupang di Kota Bandung, Jawa Barat bernama Yana Waryana. Dia mulai kebanjiran orderan selama pandemik COVID-19, terlebih ketika Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB).

Yana mengaku, penjualan cupangnya meningkat 50 persen dibandingkan sebelum pandemik. "Kebutuhan konsumen lebih tajam daripada dulu," kata Yana. 

Bisnis berjualan cupang ini bahkan menjadi penyelamat bagi Muhammad Iqbal. Pria yang berprofesi sebagai freelance fotografer di salah satu kantor swasta ini, terpaksa banting setir untuk memenuhi kebutuhannya sehari-hari. Menjual ikan cupang dirasakannya merupakan jalan yang tepat untuk kondisi saat ini.

"Baru mulai tiga bulanan. beberapa teman lain yang sudah mulai pendapatannya per-hari bisa kurang lebih Rp10 juta, ini partai besar dan tergantung jenis cupangnya," ujar Iqbal.

Ia pun kini membuka toko sendiri di kediamannya Jalan Cisaranten Kulon, RT04/RW02, Kecamatan Arcamanik, Kota Bandung. Saat ini yang masih ia ternak adalah ikan cupang jenis avatar dan blue rim.

"Saya berharap, ini bisa menolong dalam kondisi pandemik," kata dia.

Baca Juga: Berbisnis Ikan Cupang, si Penghilang Stres di Kala Pandemik COVID-19

Baca Juga: Cerita Penjual Cupang di Lampung, Raup Cuan Rp2 Juta per Posting Medsos

7. Tanaman hias pun turut menjadi bisnis yang gurih bagi millennials

Meraup Cuan di Masa Pandemik, Bisa Kok!Tanaman hias daun bercorak cerah cukup diminati warga PPU (IDN Times/Istimewa)

Selain ikan cupang, fenomena unik yang kembali muncul di tengah pandemik ini adalah  tanaman hias. Tanaman ini digandrungi karena warna dan bentuk yang menarik.

Salah seorang warga Kota Bandung yang kini banyak mendapatkan untung dari berbisnis tanaman hias itu yakni Nisa Nurjanah. Perempuan yang berprofesi sebagai karyawan di salah satu galeri seni di Kota Bandung ini mengaku banyak mendapatkan untung dari usaha tanaman hias.

Hanya bermodalkan suka dengan tanaman hias, ia memulai menanam beberapa potong tanaman pot yang kemudian dirawat di rumah pribadinya. Kondisi pandemik pun akhirnya membuat Nisa banyak memiliki waktu berdiam diri di rumah. Sehingga, hal ini membuatnya terus merawat tanaman-tanamannya dan kemudian berkembang hingga akhirnya berjualan.

"Karena pandemik, tanaman banyak, akhirnya tamanan itu di-posting (di media sosial). Sempat bikin YouTube dulu, terus banyak tertarik," ujar Nisa saat dihubungi IDN Times, Jumat (20/11/2020).

Dengan animo masyarakat yang banyak memesan tanaman-tanamannya itu, Nisa akhinya langsung membuat akun instagram @ber.akarr sebagai wadahnya berjualan. Tidak hanya itu, ia pun membuka toko offline di Jalan Bukit Pakar Timur VI, nomor 131, Dago Atas, Kota Bandung.

Jenis tanaman yang ia jual kebanyakan jenis monstera variegata. Harga satu tanaman itu ia jual dengan harga Rp150 ribu. Menurutnya, harga tersebut merupakan harga yang sudah naik dari sebelumnya yang hanya Rp50 ribu.

"Satu tanaman kisaran Rp50 ribu, kayak janda bolong. Sampai ke tanaman dengan harga sultan, bisa tiga jutaan ke atas, dan itu biasanya tanaman koleksi," ungkapnya.

"Kalau sudah terjun dalam dunia ini makin tidak masuk akal (harganya)."

Rinda Amalia, warga Kabupaten Bandung Barat juga meraup cuan dari bisnis serupa. Wanita berumur 30 tahun ini mengaku sudah memulai bisnis tanaman sejak 2011 lalu. Namun, saat itu ia hanya menyediakan bunga hias dan tanaman untuk dekorasi.

Seiring berjalannya waktu, dengan bisnis tanaman pot yang belakangan semakin hits, Ia akhirnya memantapkan diri untuk ikut serta membudidayakan beberapa tanaman hias dan menjualnya melalui akun Instagram @littlestarflorist. Ia pun berjualan secara offline di Jalan Terusan Sersan Bajuri, Desa Cihideung, Kabupaten Bandung Barat.

"Kami ada sekitar 100 lebih jenis tanaman pot. Ada tanaman bidara, krisan, katusba dan silver dust. Kami sudah ekspor ke mancanegara, seperti Asia di antaranya ke Filipina, Eropa dan Amerika juga pernah," ujar Rinda.

Saat ini, tanaman hias jenis monstera merupakan yang paling banyak dicari oleh pembeli. Tak hanya itu, philodendron dan alocasia juga menjadi primadona. Tiga jenis tanaman itu dikatakannya banyak diburu oleh pecinta tanaman hias di dalam negeri dan di luar negeri.

Harga satu tanaman hias yang ia jual pun bermacam-macam, mulai dari Rp35 ribu hingga jutaan rupiah. Soal keuntungan yang didapat dari bisnis ini, dirasakannya sangat profitable, apalagi saat ini banyak masyarakat yang mencarinya.

"Pesan untuk millennial yang baru mau mulai, intinya harus mau belajar jangan terlalu khawatir akan teknis seperti apa. Masalah pasti ada, intinya mau belajar saja dan mendalami apa yang kita kerjakan nanti. Pahami kemampuan diri juga penting," tuturnya.

Baca Juga: Cupang dan Tanaman Hias Jadi Penyelamat Ekonomi Warga Bandung Raya 

8. Millennial bercocok tanam? Kenapa tidak!

Meraup Cuan di Masa Pandemik, Bisa Kok!Pemilik Sayuran Organik Merbabu (SOM), Shofyan Adi Cahyono. IDN Times/Dhana Kencana

Tidak banyak millennial yang terjun ke dunia pertanian, padahal prospek bisnisnya cukup menjanjikan asalkan mengetahui kunci suksesnya.

Di tengah pandemik, produk sayur mayur organik diburu karena dipercaya menyehatkan tubuh, dan juga mempunyai khasiat serta menjaga imunitas tubuh. Celah inilah yang dilirik Shofyan Adi Cahyono, millennial asal Kabupaten Semarang, Jawa Tengah. 

Usaha Sayuran Organik Merbabu (SOM) yang dia rintis sejak 2014 di Dusun Sidomukti, Desa Kopeng, Kecamatan Getasan tetap eksis dan konsisten menghasilkan pangan sehat bagi sesama. Karena proses pembenihan, pembibitan, produksi tanaman, hama dan penyakit dalam pertanian organik sama sekali tidak menggunakan bahan kimia.

SOM bahkan telah berstandar SNI dan mendapat sertifikasi Organik Indonesia dari Lembaga Sertifikasi Organik (INOFICE) loh.

Semula, Shofyan yang kini baru berusia 25 tahun, gak ingin terjun ke dunia pertanian. Cita-citanya sejak SMA sebenarnya adalah menjadi pengusaha warung internet (warnet).

"Seperti dengan anak muda lainnya, suka dengan teknologi. Makanya waktu SMA pengin cita-cita masuk kuliah di teknologi informasi (TI). Mimpinya saat itu, enak hanya duduk-duduk bisa internetan dan main media sosial, dapat uang, gak perlu panas-panasan dan kotor-kotoran (seperti di pertanian)," akunya kepada IDN Times, akhir Agustus lalu.

Mimpinya untuk berkuliah di jurusan Teknologi Informasi Amikom Yogyakarta setelah lulus SMA Negeri 1 Grabag, Magelang ternyata harus pupus karena ditolak mentah-mentah oleh orangtua, Suwadi dan Suyanti, yang bersikeras memintanya untuk bertani saja dan kalaupun ingin kuliah harus ke jurusan Pertanian.

Ia pun kemudian kuliah  dan mencapai gelar kesarjanaanya di Jurusan Agribisnis Fakultas Pertanian dan Bisnis Universitas Kristen Satya Wacana dan saat ini tengah melanjutkan pendidikan pascasarjana Jurusan Ilmu Pertanian pada fakultas yang sama.

Shofyan mendalami pertanian berbekal pengalaman orangtuanya yang pada saat itu kesulitan menjual produk sayuran organik. Selama 7 tahun, sejak 2007 hingga 2014, kendala utama bukan pada budidaya melainkan pemasaran, kesulitan yang juga dialami para petani di wilayah Kopeng, Kabupaten Semarang.

Pria kelahiran Kabupaten Semarang, 20 Juli 1995 itu kemudian mulai membenahi produk pertanian organik milik orangtua. Salah satunya adalah pemasaran dengan menggunakan media sosial di dunia maya.

Ia meyakini bahwa petani yang melakukan pemasaran online, yakni memasarkan komoditasnya melalui media sosial, tidak harus bergantung kepada pasar konvensional. 

Terobosan tersebut membuahkan hasil. Pangsa pasar SOM telah berkembang ke luar kota bahkan luar pulau. SOM juga memiliki reseller dan agen di beberapa daerah, seperti Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi (Jabodetabek), Surabaya, Yogyakarta, dan Banjar Baru, Kalimantan Selatan.

SOM menjual lebih dari 80 jenis sayuran, baik yang umum maupun yang khusus, dengan harga jual terjangkau untuk segmen menengah ke atas. Masa pandemi virus corona bahkan meningkatkan pembelian produk sayuran organik. Omzet bulanan SOM rata-rata per bulan mencapai Rp300 juta.

Hasil positif tersebut turut dirasakan salah satu agen SOM di Semarang, Hamzah Ari Wibowo yang mengaku selama pandemi penjualannya relatif naik. Tak tanggung-tanggung, omsetnya mampu tembus Rp50 juta hingga Rp60 juta per bulan.

"Dari awal usaha sudah melakukan penjualan online sebagai konsep interaksi ekonomi. Jadi ketika pandemi, aktivitas ekonomi beralih ke online dan SOM sudah lebih siap daripada yang lain. Ditambah produk sayur organik memang dinilai lebih sehat dan menyehatkan. Yang laris wortel, tomat, pakcoy, kale, horenso," ungkapnya ketika dihubungi IDN Times melalui WhatsApp, Rabu, 30 September 2020.

Baca Juga: Bertani Organik Kala Pandemik, Mendorong Regenerasi Petani Millennial

Tulisan ini merupakan kolaborasi Hyperlocal IDN Times. Tim Penulis: M Iqbal, Masdalena Napitupulu, Larasati Rey, Fariz Fardianto, Silviana, Dhana Kencana, Debbie Sutrisno, Azzis Zulkhairil, Ayu Afria Ulita Ermalia 

Pemerintah melalui Satuan Tugas Penanganan COVID-19, menggelar kampanye 3 M : Gunakan Masker, Menghindari Kerumunan atau jaga jarak fisik dan rajin Mencuci tangan dengan air sabun yang mengalir.  Jika protokol kesehatan ini dilakukan dengan disiplin, diharapkan dapat memutus mata rantai penularan virus.  Menjalankan gaya hidup 3 M, akan melindungi diri sendiri dan orang di sekitar kita. Ikuti informasi penting dan terkini soal COVID-19 di situs covid19.go.id dan IDN Times

Topic:

  • Ita Lismawati F Malau
  • Septi Riyani

Berita Terkini Lainnya