Comscore Tracker

Tes Serologi, Alternatif Rapid Test COVID-19

Serologi diklaim lebih akurat dari rapid test

Saat ini, rapid test menjadi cara yang luas dipakai untuk mendeteksi apakah seseorang terinfeksi virus corona tipe baru, SARS-CoV-2, atau tidak. Jika rapid test reaktif, baru dilanjutkan dengan swab test. 

Namun, di luar itu, sebetulnya ada alternatif lain bagi kamu untuk mendeteksi si virus corona,  yakni tes serologi. Mungkin terdengar asing di telingamu namun metode ini memiliki dasar yang mirip dengan rapid test loh.

Hasil tes pun bisa didapat cepat, namun harga yang lebih terjangkau.

Melalui Media Briefing bersama dengan Siloam Hospital lewat Zoom, beberapa waktu lalu, Country Manager Roche Diagnostics Indonesia, Ahmed Hassan bersama Deputy President Director Siloam Hospital Group, Caroline Riady memperkenalkan tes serologi yang baru dirilis. 

Baca Juga: Ombudsman RI Nilai Rapid Test Sudah Berorientasi Bisnis

1. Apa sih tes serologi?

Tes Serologi, Alternatif Rapid Test COVID-19Dok. Istimewa

Ahmed Hassan menjelaskan bahwa tes serologi yang baru ini dapat mendeteksi antibodi yang dikeluarkan oleh tubuh seseorang ketika terinfeksi SARS-CoV-2. Antibodi merupakan bagian dari perlawanan tubuh ketika virus, bakteri, atau kuman masuk ke dalam tubuh. 

"Pendeteksian antibodi ini dapat membantu mengindikasi apakah orang tersebut telah memiliki imun untuk melawan virus,” jelas Ahmed Hassan.

Antibodi yang “dicari” melalui tes ini adalah Immunoglobulin M (IgM) dan Immunoglobulin G (IgG) yang muncul ketika tubuh terinfeksi virus. Keduanya dapat ditemukan di dalam darah sekitar satu hingga tiga minggu sejak paparan.

Karena antibodi berada di dalam darah, tes serologi pun dilakukan dengan mengambil sampel darah pasien. Mirip sekali dengan rapid test kan. 

2. Lalu, apa sih perbedaaan tes serologi dan rapid test?

Tes Serologi, Alternatif Rapid Test COVID-19Pelaksanaan rapid test di salah satu mal di Kota Yogyakarta, Rabu (10/6). IDN Times/Tunggul Damarjati

Rapid test dilakukan menggunakan satu alat/stik untuk satu orang yang kemudian diberi sampel darah. Setelah menunggu selama sepuluh hingga 15 menit, hasil akan keluar. Pasien kemudian tahu apakah mereka reaktif (antibodi terdeteksi) atau nonreaktif (antibodi tidak terdeteksi). 

Lalu bagaimana dengan tes serologi? Sampel yang diambil sama, yaitu darah pasien. Setelah itu, sampel akan dimasukkan ke dalam tabung darah untuk dianalisis di laboratorium. Proses tersebut sepenuhnya dilakukan menggunakan instrumen robotik.

Menurut Ahmed, prinsip dasar rapid test dan serologi sama, namun perbedaaan terletak pada bagaimana tenaga medis melakukannya. "Tes serologi mengambil serum dari pasien lalu dianalisis dengan alat laboratorium yang memiliki akurasi tinggi,” kata Ahmed.

Caroline Riady menambahkan bahwa pengambilan sampel darah dan screening pada tes serologi hanya berlangsung selama 18 hingga 20 menit. Kemudian dilanjutkan dengan proses analisis di laboratorium yang memakan waktu sekitar satu setengah jam. 

Gak terlalu lama kan? 

3. Tes serologi diklaim lebih akurat dibanding rapid test

Tes Serologi, Alternatif Rapid Test COVID-19Dok. Istimewa

Karena sepenuhnya dilakukan dengan bantuan teknologi, tes serologi cenderung lebih objektif daripada rapid test. Menurut Ahmed, serologi memiliki sensitivitas 100 persen dan spesifisitas 99,81 persen. 

Sensitivitas 100 persen artinya kemungkinan untuk false negative (negatif palsu) dapat dieliminasi sepenuhnya. Jadi, orang dengan hasil nonreaktif sudah pasti tidak memiliki antibodi yang dimaksud. 

Sedangkan spesifisitas 99,81 persen berarti kemungkinan untuk terjadi false positive (positif palsu) kecil. Artinya, jika hasil reaktif, antibodi untuk SARS-CoV-2 benar-benar ditemukan di dalam darah. Ahmed juga mengklaim bahwa spesifisitas ini berarti bahwa tes serologi tidak memiliki reaksi silang dengan virus corona penyebab flu biasa.

Selain itu, kamu tak perlu khawatir akan keamanan dari tes serologi. Sebab tes ini telah mendapatkan sertifikasi dan disetujui oleh Food and Drug Administration (FDA) Amerika Serikat dan dilabeli sebagai Emergency Use Authorization (EUA).

Baca Juga: Ini 8 Jenis Obat COVID-19 yang Terdaftar Secara Resmi pada BPOM

4. Apa yang harus kamu lakukan jika hasil reaktif

Tes Serologi, Alternatif Rapid Test COVID-19healthline.com

Seperti yang disebutkan sebelumnya, hasil dari tes serologi dapat digolongkan menjadi dua, yakni reaktif dan nonreaktif. Jika hasil reaktif, berikut ini kemungkinan yang terjadi:

  • Tubuh telah memproduksi antibodi terhadap SARS-CoV-2. Namun virus belum tentu aktif menginfeksi. Bisa jadi antibodi tersebut terbentuk dari respons infeksi di masa lampau;
  • Tes yang melibatkan antibodi sebagai sampel tidak sepenuhnya bisa diandalkan untuk mendeteksi SARS-CoV-2, untuk mendapatkan hasil yang lebih akurat, segeralah melakukan pemeriksaan PCR;
  • Pasien yang reaktif harus segera mengisolasi diri dan tidak kontak dengan siapa pun.

5. Apa yang harus kamu lakukan jika hasil nonreaktif

Tes Serologi, Alternatif Rapid Test COVID-19iadb.org

Lalu bagaimana jika tes serologi menunjukkan hasil nonreaktif? Ada dua kemungkinan yang bisa saja terjadi. Pertama, pasien benar-benar bebas dari infeksi SARS-CoV-2. Kedua, virus tersebut mungkin telah masuk ke tubuh namun antibodi belum terbentuk.

Jadi sebaiknya, pasien tetap melakukan physical distancing dan lakukan tes ulang setelah tujuh hingga sepuluh hari. 

6. Ini harga tes serologi dan cara mendapatkannya!

Tes Serologi, Alternatif Rapid Test COVID-19cdnuploads.aa.com

Bagaimana dengan biaya yang harus dikeluarkan? Ternyata harga untuk menjalani tes serologi lebih murah daripada rapid test. Menurut penelusuran IDN Times, biaya yang harus dikeluarkan untuk menjalani rapid test berkisar antara Rp300 ribu hingga Rp375 ribu. Tarif bisa berbeda-beda tergantung pada penyedianya.

Sedangkan untuk tes serologi, biaya dimulai dari Rp109 ribu hingga Rp199 ribu. Semakin banyak orang yang diikutsertakan, semakin murah pula biaya yang harus dikeluarkan untuk setiap sampel.

"Rapid test dinilai oleh sebagian orang biayanya masih lumayan, antara Rp300 ribu per tes. Sehingga kalau di Rp109 ribu, ini minimal 100 orang, cost sekitar sepertiga dari rapid test. Ini menurut kami adalah suatu poin yang cukup menarik untuk perusahaan yang ingin melakukan screening massal,” kata Caroline.

Pembaca bisa membantu kelengkapan perlindungan bagi para tenaga medis dengan donasi di program #KitaIDN: Bergandeng Tangan Melawan Corona di Kitabisa.com (http://kitabisa.com/kitaidnlawancorona)

Baca Juga: Pakar Korea Selatan Ungkap Cara Mereka Tangani COVID-19 Tanpa Lockdown

Topic:

  • Ita Lismawati F Malau

Berita Terkini Lainnya