Comscore Tracker

Eva Nurcahyani dan Studi Lingkar Feminis di Tangerang Raya

#IDNTimesLife Perjuangkan isu perempuan dan antidiskriminasi

Saat ini, isu diskriminasi terhadap gender masih jauh dari kata tuntas. Masalah terkait hal itu, masih saja terjadi--utamanya menimpa perempuan.

Dalam beberapa kasus diskriminasi, korban justru takut untuk mengungkapkan kejadian yang ia alami. Hal itulah salah satu faktor yang membuat hati Eva Nurcahyani tergerak.

Aktivis yang bergerak dalam isu perempuan sekaligus bidan di klinik swasta, membangun sebuah komunitas bernama Studi Lingkar Feminis. Komunitas tersebut merupakan organisasi kolektif perempuan yang bertujuan untuk menangani isu-isu perempuan. 

Dalam diskusi hangat bersama IDN Times yang berlangsung pada Selasa (2/3/2021), Eva membagikan kisahnya dalam membangun Studi Lingkar Feminis serta usahanya dalam memperjuangkan Rancangan Undang-Undang (RUU) Penghapusan Kekerasan Seksual  (RUU PKS) untuk segera disahkan.

1. Eva pun pernah mengalami diskriminasi. Dari pengalaman itulah, Komunitas Studi Lingkar Feminis lahir

Eva Nurcahyani dan Studi Lingkar Feminis di Tangerang Rayainstagram.com/nurcahyani_eva

Eva mendirikan Komunitas Studi Lingkar Feminis pada April 2019. Kala itu, tujuannya sederhana, yakni membangun power bagi dirinya sendiri karena tidak menerima dukungan dan dianggap jika seorang perempuan tidak layak untuk memimpin.

"Berawal dari pengalaman, pada saat itu aku mencalonkan diri sebagai ketua umum dan posisinya aku sebagai perempuan," kata dia.

Setelah mencalonkan diri sebagai ketua umum sebuah organisasi itulah, Eva menerima intimidasi-intimidasi dari senior yang di dalamnya laki-laki-- yang menganggap, perempuan gak mampu untuk memimpin. "Dan justru, perempuannya juga gak mendukung," kata Eva. 

Sejak saat itu, Eva pun berkomitmen membuat organisasi kolektif perempuan dengan lingkup wilayah Tangerang Raya. Namun saat ini, kata dia, komunitas ini sudah mulai meluas di wilayah Serang juga.

"Kolektif perempuan, organisasi perempuan, yang memang menangani isu-isu perempuan," jelasnya.

2. Bagi Eva, feminis juga berarti bagaimana cara memanusiakan manusia

Eva Nurcahyani dan Studi Lingkar Feminis di Tangerang RayaEva di tengah-tengah konsolidasi menuju International Women's Day 2021 wilayah Serang-Banten. instagram.com/lingkarstudifeminis_

Eva punya pemikiran khusus mengenai feminisme. Bagi dia, feminis bukan hanya tentang mencari kesetaraan gender saja. "Tetapi, feminis adalah sebuah hal yang harus direfleksikan terkait ideologi. Ideologi itu sederhananya adalah landasan, landasan untuk kita bergerak," terangnya

Selain itu, menurutnya feminis juga erat hubungannya dengan bagaimana seseorang bisa memanusiakan manusia.

"Contoh, dari isu-isu pembangunan, ekonomi, itu perspektifnya bukan dari satu perspektif, tetapi juga melihat perspektif lain-lain. Bukan hanya dari perspektif perempuan juga, tetapi bisa perspektif gender yang lain," tambahnya.

3. Eva: kekerasan seksual meningkat di tengah situasi pandemik

Eva Nurcahyani dan Studi Lingkar Feminis di Tangerang RayaEva di tengah konsolidasi menuju International Women's Day 2021 wilayah Serang-Banten. instagram.com/lingkarstudifeminis_

Salah satu bentuk kekerasan seksual yang sedang marak terjadi adalah Kekerasan Berbasis Gender Online (KBGO). Terkait hal ini, Eva menyayangkan jika selama pandemik KBGO justru mengalami peningkatan yang cukup signifikan.

Menurut dia, korban KBGO umumnya takut untuk menyuarakan apa yang mereka terima karena dapat berujung pada perlakuan buruk dari masyarakat. "KBGO ini tidak dinaungi oleh regulasi yang ada karena di KUHP kita, hanya mengenal perkosaan dan pencabulan. Justru dalam kasus KBGO, malah korban yang jadi dikriminalisasi," ungkapnya.

Baca Juga: Bahas Gentingnya RUU PKS, The Body Shop Gelar Seni Instalasi Virtual

4. Untuk itu, Eva bersama komunitas mengawal pengesahan RUU PKS sebagai landasan hukum atas kasus kekerasan seksual

Eva Nurcahyani dan Studi Lingkar Feminis di Tangerang Rayainstagram.com/jaringanmuda

Eva pun menegaskan, masalah terkait kekerasan seksual dapat diselesaikan dengan mudah jika RUU PKS segera disahkan. Sebab, di dalam rancangan tersebut sudah diatur mengenai bukti-bukti, penyelesaian kasus, pendampingan psikologis untuk korban, hingga rehabilitasi untuk para pelaku.

Eva menggarisbawahi rehabilitasi bagi pelaku tersebut karena menurut dia mengubah pola pikir pelaku karena ada rehabilitasi untuk para pelaku. "Bisa jadi mungkin pelaku secara perspektifnya gak tahu apa yang dia lakukan itu salah. Jadi dalam RUU PKS ini juga mengatur bagaimana cara kita mengatur pelaku," tuturnya.

Sayang, perkembangan RUU PKS sendiri di nasional gak berjalan baik. Meski DPR sudah menjanjikan bila RUU PKS akan masuk ke Prolegnas tahun 2021, akan tetapi sampai saat ini belum ada pembahasan terkait mengenai Prolegnas itu sendiri.

"Jadi sampai saat ini, memang belum ada peningkatan setelah dikeluarkan dari Prolegnas tahun 2020," katanya.

5. Pengesahan RUU PKS masih terganjal, salah satunya oleh perspektif Komisi VIII DPR dan Pemerintah

Eva Nurcahyani dan Studi Lingkar Feminis di Tangerang Rayainstagram.com/nurcahyani_eva

Eva menilai, hambatan dalam pengesahan RUU PKS sebenarnya datang dari perspektif Komisi VIII DPR dan pemerintah yang masih bias. Menurutnya, mereka masih menganggap bila perempuan adalah second sex. 

"Sebenarnya kalau mereka memang melihat dari perspektif gender, perspektif feminis, dan melihat adanya permasalahan di masyarakat kita terkait meningkatnya kasus kekerasan seksual, mau tunggu apa lagi?" ujar Eva antusias. Di lapangan, imbuhnya, korban terus bertambah. 

6. Terakhir, Eva berpesan pada para penyintas agar sadar bahwa kalian tidak sendiri loh

Eva Nurcahyani dan Studi Lingkar Feminis di Tangerang RayaEva di tengah konsolidasi menuju International Women's Day 2021 wilayah Serang-Banten. instagram.com/lingkarstudifeminis_

Lebih lanjut Eva berharap, DPR dan pemerintah segera membahas RUU PKS sehingga bisa cepat disahkan. "Setiap tahun sebenarnya RUU PKS ini masuk ke Prolegnas, tetapi tidak pernah dibahas maupun disahkan. Jadi semoga nanti selain masuk ke Prolegnas, bisa dibahas dan juga disahkan," ucapnya.

Selain itu, dia juga memberikan semangat bagi teman-teman korban atau penyintas untuk aktif bersuara dan sadar bila kalian tak sendiri.

"Lalu, untuk teman-teman yang juga berjuang dalam gerakan perempuan, yuk mulai muncul muncul sebagai sosok yang mewakili perempuan-perempuan lain sehingga mereka lebih semangat lagi karena sadar bila gak sendirian," kata dia. 

Itu dia sedikit cerita mengenai perjuangan Eva Nurcahyani dalam menyuarakan isu-isu perempuan. Ingat! Sebagai perempuan, selayaknya kita memberikan dukungan lain kepada sesama perempuan, bukan menjatuhkannya. Semoga kisah Eva bisa menginspirasi kamu untuk ikut menyuarakan hak-hak perempuan, ya!

Baca Juga: Pemimpin Perempuan dan Perannya sebagai Agen Perubahan, Banyak Benefit

Topic:

  • Ita Lismawati F Malau

Berita Terkini Lainnya