Comscore Tracker

Kejanggalan Ekspor Benih Lobster yang Seret Menteri Edhy Prabowo

KPK tangkap Menteri Edhy Rabu dini hari

Makassar, IDN Times – Menteri Kelautan dan Perikanan (KKP) Edhy Prabowo berurusan dengan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Dia ditangkap bersama istri dan beberapa rombongan, sekembalinya dari Amerika Serikat.

Ketua KPK Firli Bahuri menyebut penangkapan terkait kebijakan ekspor benih lobster. “Yang bersangkutan diduga terlibat korupsi dalam penetapan izin ekspor baby lobster,” kata Firli Bahuri saat dikonfirmasi, Rabu.

Edhy Prabowo membuka keran ekspor benih lobster pada Mei 2020. Ekspor benih ini sempat dilarang di era KKP pimpinan Susi Pudjiastuti. Legalisasi ekspor tertuang dalam Peraturan Menteri Nomor 12 Tahun 2020 yang terbit 5 Mei, sekaligus membatalkan larangan penangkapan dan perdagangan baby lobster pada Peraturan Menteri Nomor 56 Tahun 2016.

Majalah Tempo edisi 4 Juli 2020 menurunkan laporan yang mengungkap janggalnya kebijakan Menteri Edhy soal ekspor benih lobster atau dikenal juga dengan benur ini.

Dalam laporan itu, disebutkan bahwa cuma berselang sebulan setelah keran dibuka, KKP sudah menetapkan 30 perusahaan sebagai eksportir. Bahkan pelaksanaan ekspor sudah dimulai pada pertengahan Juni--yang berakhir kisruh.

Menurut laporan itu, kebijakan ekspor benih lobster jadi pergunjingan pejabat di lingkungan KKP. Mereka ragu, eksportir bisa merealisasi ekspor, setidaknya dalam waktu satu tahun.

“Tidak mungkin ekspor bisa dilakukan hanya sebulan dari keluarnya aturan,” kata seorang pejabat yang dikutip Tempo. “Namun semua tertekan. Apalagi sebelum kebijakan ekspor ini dibuka ada konsultasi dengan Kementerian Koordinator Kemaritiman dan Sekretariat Kabinet.”

Baca Juga: [BREAKING] OTT Menteri Edhy Prabowo Terkait Benih Lobster

1. Pengiriman benih lobster pertama diduga tanpa dikenai penerimaan negara bukan pajak

Kejanggalan Ekspor Benih Lobster yang Seret Menteri Edhy PrabowoEdhy Prabowo memegang benur udang windu, bandeng, calon indukan sidat. Instagram.com/edhy.prabowo

Masih menurut laporan Tempo, ekspor benur dimulai pada Jumat, 12 Juni 2020. Sedangkan ekspor kedua oleh tiga perusahaan pada 17 Juni 2020 gagal. Dokumen kelengkapan ekspor menuju Ho Chi Minh, Vietnam, belum selesai dimasukkan ke sistem Bea dan Cukai Bandara Soekarno-Hatta, sehingga mereka ketinggalan pesawat.

Menurut pejabat di KKP, dua kali pengiriman benur itu bikin geger di lingkup internal kementerian. Tempo mengutip bahwa pejabat Kementerian menyebut pengiriman pertama sebagai skandal, sebab diduga tidak dikenai penerimaan negara bukan pajak (PNBP). Pejabat lain menyebut ekspor itu tidak melibatkan Direktorat Jenderal Perikanan Tangkap (DJPT), yang seharusnya berwenang mengurusi penetapan waktu pengeluaran benih lobster.

“Semuanya diterabas,” kata pejabat itu.

2. PT Royal Samudera Nusantara yang berkantor di Tangsel, mengaku sudah melengkapi semua dokumen

Kejanggalan Ekspor Benih Lobster yang Seret Menteri Edhy PrabowoKKP melepasliarkan 95.610 benih lobster (Dok. KKP)

Laporan Tempo memuat pernyataan PT Royal Samudera Nusantara, salah satu perusahaan yang ditunjuk sebagai eksportir benih lobster. Direktur Operasi perusahaan itu, Ande Irfan Alafhi mengatakan dia bingung karena rencana ekspor pada 17 Juni gagal terealisasi.

Menurut Ande, perusahaannya sudah melengkapi semua dokumen yang dibutuhkan untuk ekspor. Termasuk pembayaran BNBP. Waktu itu pihaknya berencana mengirim 8.025 ekor benur ke Vietnam.

“Masih ikuti aturan lama, bank garansi juga sudah kita buat. Cuma, enggak bisa berangkat,” kata Ande.

Baca Juga: [FOTO] Suasana Kantor Royal Samudera Nusantara di Tangsel

3. Perhitungan nilai penerimaan negara belum jelas

Kejanggalan Ekspor Benih Lobster yang Seret Menteri Edhy PrabowoIlustrasi Pajak (IDN Times/Arief Rahmat)

Laporan yang sama menyinggung soal belum terangnya perhitungan nilai PNBP dari ekspor benur lobster. Sebab Peraturan Pemerintah Nomor 75 Tahun 2015 tentang PNBP di lingkungan KKP masih dibahas bersama lintas kementerian dan Lembaga.

Merujuk pada PP 75/2015, PNBP per seribu ekor benur cuma bernilai Rp250. Jika pada 12 Juni lalu ada 97.500 benur yang diekspor, PNBP yang diterima cuma Rp24 juta lebih. Padahal jika benur sudah menjadi induk, nilai PNBP bisa mencapai Rp97,5 juta.

4. Edhy: lebih baik ekspor, daripada menyelundup

Kejanggalan Ekspor Benih Lobster yang Seret Menteri Edhy PrabowoMenteri KKP Edhy Prabowo (Dok. KKP)

Menjawab sejumlah kejanggalan itu, Menteri Edhy Prabowo mengatakan, KKP berupaya meningkatkan pengawasan dan pengendalian terhadap pengeluaran benih lobster. Menurutnya, semua perizinan ekspor sudah dilakukan secara terbuka.

Menurut Edhy, lebih baik membolehkan izin ekspor benur daripada diselundupkan. Dia menyebut ekspor juga mempertimbangkan sisi aturan, keamanan lingkungan, dan keberlangsungan.

“Daripada menyelundup, bukankah lebih baik mereka didata kemudian terkontrol? Yang penting ke depan mereka menuruti aturan. Kalau enggak menuruti aturan, saya cabut,” kata Edhy dalam wawancara dengan Tempo.

Baca Juga: Nih Daftar Kebijakan Susi Pudjiastuti yang Dicabut Edhy Prabowo

Topic:

  • Ita Lismawati F Malau

Berita Terkini Lainnya