Comscore Tracker

Soeharto, Bocah Pendiam yang Tumbuh jadi Penguasa Negeri

Soeharto kecil dikenal cerdas

Jakarta, IDN Times - Presiden ke-2 RI Soeharto lahir di Bantul, Yogyakarta pada 8 Juni 1921. Ya tepat hari ini. 

Dia menjadi salah satu pemimpin negeri yang menggoreskan perjalanan panjang dan lika-liku sejarah di Indonesia. Dari karier militernya, dia kemudian berhasil menjadi penguasa negeri ini selama 32 tahun. 

Era kekuasaan Soeharto dinamai Orde Baru. Dia sempat didaulat sebagai Bapak Pembangunan. Namun, di sisi lain, dia juga dikenal sebagai presiden otoriter.

Soeharto meninggal dunia pada 27 Januari 2008, pada usia 80 tahun. Simak kisah Soekarto yang kecil dikenal pendiam namun cerdas dan tumbuh menjadi penguasa negeri. 

Baca Juga: Kronologi Reformasi Mei 1998, Terjungkalnya Kekuasaan Soeharto

1. Soeharto lahir di dusun kecil di Yogyakarta

Soeharto, Bocah Pendiam yang Tumbuh jadi Penguasa NegeriSoeharto (Wikimedia.org/Presidential Library)

Dalam buku Gerakan 30 September: Pelaku, Pahlawan dan Petualang oleh Julius Pour yang mengutip buku The Smiling General oleh OG Roeder dikisahkan, Soeharto lahir di sebuah dusun kecil yang bernama Kemusuk, Desa Argomulyo, Bantul, Yogyakarta. Ia adalah anak kedua dari sebelas bersaudara di dalam keluarga sederhana.

Selain kemiskinan, Soeharto juga didera kesedihan akibat perceraian kedua orangtuanya. Dengan berbagai macam lika-liku kehidupan, Soeharto pun dikenal sebagai bocah yang pendiam.

"Ketika Soeharto dilahirkan, di langit tidak ada tanda-tanda kudus, tidak ada letusan gunung berapi dan juga tidak ada sebutan Putra Fajar seperti diramalkan kepada anak orang kaya, berpengaruh dan selalu ingin mengagung-agungkan dirinya sendiri. Kelahiran Soeharto tidak berbeda dengan kelahiran anak-anak dusun dengan orang tua melarat, tetapi punya senyum kebahagiaan," tulis Julius di dalam buku tersebut.

Boro-boro membayangkan jadi sosok orang penting, Soeharto justru lebih membayangkan suatu saat nanti anak-anaknya akan membantunya di sawah.

Baca Juga: Operasi Penyusupan Soeharto untuk Tumpas Belanda di Papua 

2. Soeharto kecil dikenal cerdas. Dia kemudian memilih militer sebagai jalan karier

Soeharto, Bocah Pendiam yang Tumbuh jadi Penguasa NegeriWikimedia.org/Presidential Documents, National Library of Indonesia

Buku Runtuhnya Sang Penguasa dari Kudeta hingga Terbunuh oyang ditulis Nur Laeliyatul Masruroh, menguak karakter Soeharto semasa kecil yang disebut cerdas. Dibarengi dengan kesehatan dan postur tubuhnya yang tegap, ia pun masuk militer.

Pada 1 Juni 1940, Soeharto tercatat sebagai siswa militer di Gombong, Jawa Tengah. Ia menjalani masa pelatihan selama enam bulan dan keluar dengan predikat lulusan terbaik. Pada usia 19 tahun, ia telah memiliki pangkat kopral.

3. Soeharto turut berperan dalam pembebasan Irian Barat dari Belanda

Soeharto, Bocah Pendiam yang Tumbuh jadi Penguasa NegeriSeorang pelajar melintas di depan mural mantan Presiden RI Soeharto dan BJ Habibie (ANTARA FOTO/Ari Bowo Sucipto)

Soeharto pertama kali bertugas sebagai militer dengan bergabung dengan Batalyon XIII Rampal, Malang. Setelahnya, ia masuk sekolah lanjutan Bintara di Gombong dan berhasil mendapatkan kenaikan pangkat dalam waktu yang relatif singkat.

Brigjen Soeharto pun mulai tampil menjadi sosok yang memiliki peran penting sebagai Panglima Mandala, untuk pembebasan Irian Barat dari Belanda. Pada 1 Mei 1963, ia berhasil menjalankan tugasnya, Bumi Cendrawasih pun bergabung dengan Ibu Pertiwi.

4. Soeharto, G30S/PKI, dan Supersemar

Soeharto, Bocah Pendiam yang Tumbuh jadi Penguasa NegeriPresiden Soeharto [kiri] saat meresmikan Jembatan Mahakam pada 1986. (Dok. Humas Pemkot Samarinda)

Dalam bukunya, Nur juga menjelaskan, Soeharto berhasil menumpas Gerakan 30 September (G30S) pada 1965. Dalam peristiwa kelam bangsa Indonesia itu, enam perwira senior dan satu perwira pertama TNI-AD gugur.

Mayjen Soeharto yang pada saat itu menjabat sebagai Pangkostrad memimpin operasi penumpasan G30S. Pada 11 Maret 1966, Soeharto mendapat perintah dari Presiden Sukarno untuk membubarkan PKI. Perintah itu tertulis dalam Surat Perintah 11 Maret atau Supersemar.

Hingga saat ini, keberadaan surat asli Supersemar tetap misterius. 

Baca Juga: Akhir Perjalanan Soekarno, dari Supersemar Hingga Tahanan Politik

5. Presiden Sukarno melantik Soeharto menjadi Menteri Utama Bidang Hamkam pada Juli 1966

Soeharto, Bocah Pendiam yang Tumbuh jadi Penguasa NegeriInstagram/titiksoeharto

Dengan beberapa pencapaian yang telah dilakukan Soeharto, Presiden Soekarno pun kemudian melantiknya sebagai Menteri Utama Bidang Hamkam pada Juli 1966. Jabatan itu diemban Soeharto hingga ia resmi menjadi Presiden ke-2 RI pada 1968.

Soeharto pun secara berurutan kembali dipilih MPR menjadi presiden pada 1973, 1983, 1988, 1993, dan 1998. Namun, karena terjadinya kerusuhan akibat krisis monoter serta dinilai sebagai pemimpin yang otoriter, Soeharto akhirnya mengundurkan diri menjadi presiden pada 21 Mei 1998.

Posisinya sebagai presiden saat itu langsung diisi oleh sang wakil, BJ Habibie. 

Baca Juga: Pertanyaan BJ Habibie yang Belum Terjawab Hingga Akhir Hayatnya

Topic:

  • Ita Lismawati F Malau

Berita Terkini Lainnya