Comscore Tracker

La Nina Mengintai, Seberapa Siap Kita?

Warga Lebak khawatir banjir bandang muncul lagi

Semarang, IDN Times - Musim penghujan datang. Musim hujan ditandai berbagai bencana alam yang menghadang. 

Tahun ini, musim hujan ditambah dengan fenomena La Nina. Puncak La Nina ini diprediksi terjadi pada rentang Oktober 2020 hingga Januari 2021. 

Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Dwikorita Karnawati mengungkapkan La Nina dapat meningkatkan akumulasi curah hujan bulanan dan musiman di Indonesia. Peningkatan curah hujan mengakibatkan meningkatnya potensi bencana seperti banjir, banjir bandang, longsor, angin kencang, dan puting beliung.

Sejumlah wilayah di Indonesia pun diprediksi berpotensi mengalami bencana hidrometeorologi, termasuk Banten.

Hal ini ditandai dengan meningkatnya bencana banjir dan tanah longsor di akhir tahun 2020 hingga memasuki tahun 2021.

Lantas, sudah siapkah kita? 

Baca Juga: Cegah Banjir Semarang, Maksimalkan Rumah Pompa dan Normalisasi Sungai 

1. Yogyakarta - bersih-bersih sungai

La Nina Mengintai, Seberapa Siap Kita?Kegiatan bersih sungai di Kali Buntung, Ngemplak, Sleman, 11 Oktober 2020. Dokumen FKSS

Memasuki musim hujan upaya mitigasi atau pencegahan telah dilakukan masyarakat dan pemerintah di sejumlah daerah. Di Jogja warga yang bergabung dalam komunitas-komunitas sungai di Sleman melakukan pembersihan sampah di sungai pada 25 Oktober 2020 lalu.

Ketua Forum Komunitas Sungai Sleman (FKSS), AG Irawan menjelaskan, secara teknis curah hujan yang meningkat akan memberi dampak peningkatan volume air sungai. Jika badan sungai penuh sampah dan benda-benda yang menghambat laju aliran, maka akan mengakibatkan sungai meluap. Imbasnya, luapan air sungai akan menggenangi bantaran dan permukiman warga pinggir sungai.

Selain bersih-bersih sampah, tiap-tiap komunitas pegiat sungai juga melakukan edukasi tentang sungai dan mitigasi atau pengurangan risiko bencana terhadap warga yang bermukim di sekitar bantaran sungai. Hingga pertengahan Oktober 2020 ini, sudah ada 47 komunitas dari 16 sungai besar dan kecil di wilayah Kabupaten Sleman yang bergabung.

“Karena ada potensi dan bahaya bagi yang tinggal di pinggir sungai. Terlebih sungai-sungai yang berhulu di lereng Gunung Merapi,” papar Irawan.

Meliputi Sungai Krasak, Sungai Boyong yang mengalir melewati Sungai Code, Sungai Kuning, dan sungai Opak. Setiap musim penghujan tiba, warga di pinggiran sungai yang bermukim di bagian tengah dan hilir sungai harus berkomunikasi dengan warga yang tinggal di hulu sungai.

Langkah antisipasi lainnya adalah mengajukan pemasangat alat deteksi peringatan dini (early warning system/EWS) kepada pemerintah daerah untuk dipasang di sejumlah titik sungai. Terutama sungai yang punya potensi dan riwayat banjir bandang. Seperti Kali Adem di Girikerto, Sungai Sempor, Sungai Pelang, Sungai Klanduhan, sungai Kuning, dan Sungai Tepus.

2. Banten: berdayakan pemuda hingga warga yang ungsikan surat-surat berharga

La Nina Mengintai, Seberapa Siap Kita?Dok.IDN Times/Istimewa

Di Banten, persiapan menghadapi La Nina pun mulai dilakukan. Salah satunya, memberdayakan pemuda. 

Dinas Kepemudaan dan Olahraga (Dispora) Kota Tangerang membentuk Gugus Tugas Pemuda Tahun 2020. Selain pembentukan, para pemuda terpilih nantinya akan dilatih oleh tentara.

Kepala Dispora Kota Tangerang, Engkos Zarkasy mengatakan, dengan pembentukan ini pemuda diharapkan tidak hanya menjadi objek, namun subjek dalam membantu pemerintah menangani situasi kebencanaan.

"Untuk tim pelatih, kita bekerja sama dengan petugas Pangkalan TNI Angkatan Laut (AL) Banten, Basarnas, KNPI dan Pramuka," tuturnya.

Sehingga nanti, lanjut Engkos masing-masing pemuda yang sudah mengikuti Pembentukan Gugus Tugas Pemuda Tahun 2020 serta Pelatihan dan Pembekalan memiliki kekuatan yang sama saat menghadapi bencana.

"Nanti teman-teman ini dibekali bagaimana mereka punya cara pertama tanggap bencana untuk menyelamatkan diri sendiri dulu. Lalu menolong orang lain," katanya.
 

Sementara di Lebak, warga mulai merasa khawatir akan dampak La Nina, terutama mereka yang terdampak banjir bandang awal tahun 2020.

Salah satu lokasi di Banten yang rawan diterjang bencana adalah sepanjang Sungai Ciberang. Jika sungai ini meluap kembali, bisa menyebabkan bencana lebih besar ketimbang awal 2020.

Seorang warga bernama Widodo (29) mengaku masyarakat di wilayahnya masih trauma dengan bencana banjir bandang dan longsor yang menimpa sejumlah daerah di Lebak pada awal 2020.

Untuk mengantisipasi dampak bencana banjir bandang, warga katanya, sudah bersiap-siap mengamankan berkas dan barang penting. Sebagian warga juga berencana mengungsi ke tempat yang lebih aman.

"Persiapan buat ngungsi mah udah ada, berkas-berkas penting udah dipisah-pisah biar pas ada bencana susulan gampang buat bawanya," kata Widodo saat dikonfirmasi, Kamis (12/11/2020).

Sementara itu dari pihak pemerintah daerah, Dinas Kepemudaan dan Olahraga (Dispora) Kota Tangerang membentuk Gugus Tugas Pemuda Tahun 2020. Hal ini sebagai upaya Pemerintah Kota (Pemkot) Tangerang mempersiapkan pemuda yang mempunyai kemampuan tanggap bencana.

"Untuk tim pelatih, kita bekerja sama dengan petugas Pangkalan TNI Angkatan Laut (AL) Banten, Basarnas, KNPI dan Pramuka," kata Kepala Dispora Kota Tangerang, Engkos Zarkasy.

3. Semarang - warga gotong royong bersihkan daerah aliran sungai

La Nina Mengintai, Seberapa Siap Kita?Gotong royong yang dilakukan warga kelurahan Mentawir (IDN Times/Ervan Masbanjar)

Di Kota Semarang, warga bersama anggota BPBD Kota Semarang dan gabungan relawan bersih-bersih daerah aliran sungai (DAS) Beringin di RW 7 Wonosari, Ngaliyan, pada Minggu (8/11/2020) yang lalu. Pembersihan sebagai langkah antisipasi banjir yang menerjang ke pemukiman akibat luapan sungai yang melebihi tanggul.

Antisipasi terjadinya bencana Penjabat sementara (Pjs) Wali Kota Semarang, Tavip Supriyanto mengajak warga kerja bhakti dan membersihkan saluran air di lingkungannya masing-masing.
"Di musim hujan ini, harus siap dan waspada," ujar Tavip.

Salah satu daerah rawan banjir yakni tiga kampung yang berada di dekat sungai KKB. Koordinator Pintu Air Bendung Simongan, Bayu Wanaspati mengungkapkan saat ini terdapat 3 kampung yang berada di dekat sungai BKB yang berpotensi terendam banjir.

Masing-masing di Kampung Krobokan, Semarang Barat, Kampung Barusari Semarang Tengah serta Kampung Gedung Batu Tengah.

"Di tiga lokasi itu punya kerawanan yang tinggi kalau curah hujan sangat lebat. Kalau debit airnya di Banjir Kanal Barat mencapai titik maksimal yakni 180 sentimeter, maka di Barusari, Gedung Batu Tengah dan Krobokan akan kebanjiran seperti kejadian beberapa tahun sebelumnya," kata Bayu, Selasa (3/11/2020).

Dinas Pekerjaan Umum (DPU) Kota Semarang melakukan berbagai antisipasi untuk mencegah bencana banjir yang biasa terjadi saat musim hujan. Upaya yang dilakukan antara lain mulai dengan menyiapkan pompa air hingga pengerukan endapan sedimentasi di sungai-sungai.

Kepala Dinas Pekerjaan Umum Kota Semarang, Sih Rianung mengatakan, memasuki musim hujan ini pihaknya tidak hanya melakukan persiapan tetapi juga sudah menindaklanjuti permasalahan yang terjadi di lapangan untuk mencegah banjir.

"Kami sudah melakukan pantauan bersama pihak terkait seperti Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS), kelurahan, kecamatan dan warga, kemudian menindaklanjuti permasalahan yang terjadi di lapangan. Kami siapkan peralatan, tenaga, dan operasional pompa untuk mengatasi itu. Misalnya, sungai di bawah Jembatan Kartini apa perlu dilakukan pengerukan," katanya saat dihubungi, Kamis (12/11/2020).

Terkait anggaran pada tahun 2020 ini, Pemkot Semarang telah mengalokasikan anggaran sebesar Rp12 miliar untuk penanganan banjir dan rob di Kota Semarang. Anggaran tersebut di antaranya untuk penyediaan stok material dan bahan bakar minyak untuk operasional rumah pompa, kegiatan normalisasi saluran, serta perawatan pompa karena pompa menjadi pengendali banjir yang utama.

4. Jabar - 27 daerah harus menetapkan siaga satu

La Nina Mengintai, Seberapa Siap Kita?Ilustrasi Banjir Jakarta (IDN Times/Mardya Shakti)

Gubernur Jawa Barat, Ridwan Kamil mengintruksikan simulasi penyelamatan tsunami di daerah selatan Jawa Barat dilakukan dari sekarang. Ini tidak terlepas dari prediksi peningkatan potensi bencana alam seiring karena anomali cuaca hingga curah hujan ekstrem ditambah adanya fenomena La Nina.

“Jadi kesiagaan ini berbanding lurus dengan prediksi badan meteorologi, bahwa akan ada curah hujan lebih banyak dan lebih ekstrem. Sehingga kita menetapkan kesiagaan itu dari November (2020) sampai Mei (2021),” kata Ridwan Kamil saat memimpin Apel Kesiapsiagaan Menghadapi Bencana Hidrometeorologi Tahun 2020-2021 di Jl. Diponegoro Bandung, Rabu (4/11/2020).

Menurut pria yang akrab disapa Emil, fenomena badai la nina yang akan hadir membawa dampak pada naiknya gelombang laut, curah hujan tinggi yang menyebabkan banjir, bahkan di luar itu, ia ingin semua pihak mewaspadai potensi tsunami.

Sebanyak 27 daerah di Jawa Barat harus menetapkan siaga satu seiring peningkatan potensi kebencanaan di akhir tahun dan awal tahun. “Saya sudah perintahkan (BPBD Jabar) melakukan simulasi penyelamatan tsunami. Harus segera dilakukan di selatan jabar. Masyarakat harus paham, harus tahu, kalau terjadi, early warning system kemana larinya sudah tahu. Kepala BPBD harus lakukan simulasi,” terang dia.

Di Bandung salah satu daerah rawan banjir yakni RW 02, Kelurahan Cibadak, Kecamatan Astanaanyar, Kota Bandung kini mulai melakukan beberapa langkah mitigasi secara khusus.

"Membersihkan genangan air setelah banjir memang sudah jadi rutinitas kita. Banjir sudah terjadi sebanyak tiga kali dalam seminggu ini," ujar Ketua RW 02, Kelurahan Cibadak, Cepi Setiawan, Kamis (12/11/2020).

Ketua forum RW Kota Bandung, Robbiana Dani Awalludin mengatakan ada dua wilayah yang harus menjadi perhatian penting Pemkot Bandung dalam mengantisipasi potensi kebencanaan dari fenomena La Nina.

"Wilayah yang perlu diperhatikan ini wilayah Gedebage dan wilayah sepanjang aliran sungai Citepus, Pagarsih. Dua wilayah ini paling banyak mengalami kejadian bencana alam seperti banjir," kata Robbiana.

5. Lampung - hanya rutin melihat debit air sungai

La Nina Mengintai, Seberapa Siap Kita?Ilustrasi kali di Jakarta (IDN Times/Anata)

Menghadapi bencana banjir seolah menjadi hal biasa dialami Sakinah Yusuf, warga Kelurahan Pesawahan, Kecamatan Telukbetung Selatan, Kota Bandar Lampung. Pasalnya, daerah tempat tinggalnya kerap menjadi langganan banjir.

Namun, masyarakat setempat sudah terbiasa sehingga tidak begitu panik jika ada informasi akan terjadinya banjir. Terkait antisipasi potensi dampak La Nina, menurutnya tidak ada persiapan khusus dilakukan.

“Kalau persiapan yang benar-benar persiapan sih gak ada karena kita gak tau kapan bakal kejadiannya juga. Terus karena sudah sering kebanjiran juga jadi gak terlalu panik ya kecuali kalau tsunami,” ujar Sakinah.

Ia menambahkan, masyarakat hanya meningkatkan kewaspadaan saja dan lebih sering melihat debit air sungai. “Beberapa hari lalu kondisi sungai juga lumayan mengkhawatirkan tapi alhamdulillah sejauh ini belum ada tanda-tanda banjir sih. Karena kadang gak hujan juga tiba-tiba banjir. Jadi sebelum air itu masuk permukiman warga udah siap-siap ngungsi ke rumah yang lebih tinggi,” jelasnya.

Pendapat lainnya disampaikan Murdani Aritonang warga Kabupaten Pesisir Barat yang tinggal di sekitar pesisir pantai. Menurutnya, saat ini masyarakat di pesisir masih beraktivitas normal dan belum melakukan persiapan antisipasi bencana.

“Kondisi air laut sekarang masih stabil. Curah hujan juga seminggu ini stabil. Dua hari hujan sisanya cerah. Tapi kalau hujannya deras jadi susah beraktivitas, ” ujarnya.

6. Sumsel - ribuan warga terdampak akibat bencana hidrometeorologi

La Nina Mengintai, Seberapa Siap Kita?Dok.IDN Times/Istimewa

Kepala Bidang Kedaruratan dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sumsel, Ansori mengakui, Sumsel memiliki tingkat kerawanan tinggi terjadinya bencana akibat musim hujan. Pihaknya bahkan sudah memetakan wilayah mana saja yang rawan terjadi bencana hidrometereologi seperti banjir, longsor hingga angin kencang.

"Untuk wilayah Sumsel bagian barat dengan wilayah perbukitan rawan banjir bandang dan longsor. Sedangkan Sumsel bagian timur yang wilayahnya dataran rendah rawan banjir musiman dan angin kencang," jelas Ansori.

Pihak BPBD Sumsel mencatat selama tahun 2020, bencana Hidrometereologi akibat perubahan cuaca sudah terjadi sebanyak 76 kali. Dengan pembagian banjir musiman ada 39 kali, banjir bandang 10 kali, longsor 16 kali dan puting beliung 10 kali. Kondisi tersebut berdampak pada kerugian material terhadap masyarakat hingga 15.733 kepala keluarga terdampak dan 19.507 jiwa menderita.

"Dampak bencana alam tersebut membuat 9.322 rumah terendam, 28 unit jembatan putus, 281 hektare (ha) kebun terendam, 5.319 ha sawah terendam dan 115 meter jalan putus akibat longsor," jelas dia.

7. Kaltim - BPBD Penajam Paser Utara kurang personel

La Nina Mengintai, Seberapa Siap Kita?Petugas BPBD Paser saat mengangkat salah satu korban meninggal di danau yang diduga bekas tambang di Desa Krayan Makmur, Kecamatan Long Ikis, Kabupaten Paser pada 6 September 2020 (Dok. BPBD Paser/Istimewa)

Di Kalimantan Timur, menghadapi meningkatkanya potensi bencana pihak BPBD malah kekurangan personel.Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU), Nurlaila, mengakui jumlah personel Satuan Tugas (Satgas) BPBD PPU masih kurang untuk memaksimalkan tugasnya guna menghadapi ancaman bencana akibat fenomena La Nina.

“Kalau untuk personel memang kita kurang. Sebenarnya beberapa waktu lalu kami sudah meminta tambahan personel paling tidak 10 orang yang segera dibutuhkan untuk Satgas BPBD PPU,” ujarnya, kepada IDN Times, Jumat (13/11/2020) di Penajam.

Saat ini, lanjutnya, jumlah personel Satgas BPBD sebanyak 15 orang. Mereka juga harus selalu siap diterjunkan apabila terjadi bencana lainnya selain bencana nonalam seperti pandemik COVID-19 sekarang ini.

Sementara itu menurut analisis menyeluruh Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Samarinda, fenomena La Nina dimulai sejak awal Oktober 2020 dan puncaknya bakal terjadi pada Desember hingga Februari tahun depan. Khusus Samarinda dari catatan BPBD Samarinda, ada 34 daerah rawan banjir. Potensi terbesar berada di Kecamatan Samarinda Utara dan Kecamatan Sungai Pinang.

8. Titik-titik rawan banjir hingga longsor

La Nina Mengintai, Seberapa Siap Kita?Ilustrasi Longsor (IDN Times/Mardya Shakti)

Sementara itu berdasarkan data yang dikumpulkan IDN Times sejumlah daerah di Indonesia rawan terjadi bencana akibat fenomena meningkatnya curah hujan.

Badan SAR Nasional (Basarnas) Semarang memperkirakan bencana banjir dan longsor paling rawan terjadi di lima daerah di Jawa Tengah. "Untuk daerah seperti pesisir Pekalongan, Pati, Demak dan sebagian kecil Kota Semarang patut diwaspadai. Karena di situ tahun-tahun sebelumnya sering terkena banjir dan limpasan rob. Kemudian di Wonosobo juga ada risiko terjadinya tanah longsor mengingat areanya berada di perbukitan," kata Nur Yahya, Kepala Basarnas Semarang kepada IDN Times, Kamis (15/10/2020).

Wilayah pegunungan tengah disebut juga merupakan wilayah yang rentan longsor. BPBD Jateng menyebutkan yakni wilayah bagian utara Kabupaten Cilacap, wilayah utara Kebumen, sebagian Banyumas, Banjarnegara, Purbalingga dan wilayah selatan Kabupaten Brebes.

Di Sulawei Selatan Prakirawati BKMG Makassar, Esti Kristantri, menyebutkan sebagian besar wilayah pesisir barat dan juga wilayah utara paling rawan terdampak La Nina.

"Untuk wilayah pesisir barat, terutama daerah-daerah yang seperti pada tahun-tahun sebelumnya sempat terjadi bencana banjir itu seperti wilayah Pinrang, Parepare, Barru, Pangkep, Maros, Makassar, Gowa, Takalar," katanya.

Di Jawa Timur Kasi Kedaruratan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jawa Timur (Jatim), Satriyo Nur Seno mengatakan, memasuki musim penghujan 38 kabupaten/kota di Jatim rawan bencana. Namun, ada beberapa titik yang dipetakan khusus karena menjadi langganan banjir, banjir bandang hingga tanah longsor.

"Kalau musim hujan semuanya rawan. Tapi rata-rata di Lumajang, Malang, Pacitan Trenggalek, Pasuruan, Gresik, Lamongan, Bojonegoro, Tuban, Ngawi dan Sampang jenis bencananya banjir dan longsor," ujarnya saat dihubungi, Kamis (12/11/2020).

Sedangkan untuk dua kabupaten, yakni Banyuwangi dan Jember. Satriyo menyebut keduanya tiap tahun menjadi langganan bencanan tiba-tiba. Bencana yang dimaksud ialah banjir bandang. "Dua daerah itu memang banjir bandang tiba-tiba beberapa kali," kata dia.

Tim Penulis: Yuda Almerio, Ervan Masbanjar, Pito Agustin, Debbie Sutrisno, Azzis Zilkhairil, Daruwaskita, M Iqbal, Khaerul Anwar, Ardiansyah Fajar, Fitria Madia, Fariz Fardianto, Anggun Puspitoningrum, Muhammad Rangga Erfizal, Ashrawi Muin, Silviana

Baca Juga: Trik Petani Temanggung Panen Cabai saat La Nina Melanda

Topic:

  • Ita Lismawati F Malau

Berita Terkini Lainnya