Comscore Tracker

Teguran-teguran Presiden Jokowi untuk Menkes Terawan Saat Pandemik 

Sejumlah pernyataan Terawan juga menuai kontroversi

Jakarta, IDN Times - Selain kepala negara, kementerian kesehatan bersama menterinya menjadi garda terdepan di berbagai negara dalam penanganan COVID-19. Namun, di Indonesia, nama Menteri Kesehatan (Menkes) Terawan Agus Putranto sudah jarang terdengar ke publik lagi.

Penampilan Terawan di hadapan masyarakat pun bisa dihitung jari. Di antara berbagai pemberitaan COVID-19, nama Terawan juga sempat diberitakan karena ditegur Presiden Joko "Jokowi" Widodo. Teguran orang nomor satu di Indonesia kepada Terawan tersebut tak segan-segan disampaikan dalam forum terbuka.

IDN Times mencoba mengulik kembali teguran-teguran Jokowi kepada Terawan di rapat terbatas dan sidang kabinet.

1. Gara-gara anggaran kesehatan yang baru keluar 1,53 persen dari total Rp75 triliun

Teguran-teguran Presiden Jokowi untuk Menkes Terawan Saat Pandemik Menteri Kesehatan (Menkes) dr. Terawan Agus Putranto IDN Times/Debbie Sutrisno

Teguran pertama yang mengemuka ke ruang publik terjadi pada Sidang Kabinet Pparipurna, Kamis 18 Juni 2020. Kala itu, Jokowi menyoroti kinerja menterinya selama pandemik COVID-19. Ia menilai para menterinya itu belum bisa bekerja cepat dan tak ada progres dalam kinerja mereka.

"Hanya gara-gara urusan peraturan, urusan peraturan. Ini extraordinary. Saya harus ngomong apa adanya, gak ada progres yang signifikan. Gak ada," ujar Jokowi dalam sebuah video yang diunggah di channel YouTube Sekretariat Presiden, Minggu (28/6/2020).

Jokowi menilai, nihilnya progres signifikan dari kinerja para menteri ini terlihat dari lambatnya penyerapan belanja anggaran penanganan COVID-19. Salah satunya yang disinggung oleh mantan Wali Kota Solo ini adalah soal anggaran penanganan COVID-19 sektor kesehatan yang sudah disiapkan Rp75 triliun. Dari angka tersebut, baru 1,53 persen yang sudah diserap.

"Segera keluarkan belanja itu secepat-cepatnya. Karena uang beredar akan semakin banyak, konsumsi masyarakat nanti akan naik. Saya beri contoh, bidang kesehatan itu dianggarkan Rp75 triliun, Rp75 triliun baru keluar 1,53 persen, coba," ujar Jokowi saat menegur Terawan kala itu.

Baca Juga: Tunjuk Konsil Kedokteran, Menkes Terawan Salah Gunakan Wewenang?

2. Prosedur insentif tenaga kesehatan yang terlambat dan bertele-tele

Teguran-teguran Presiden Jokowi untuk Menkes Terawan Saat Pandemik Menko Perekonomian Airlangga Hartarto (kanan) berbincang dengan Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto (ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A)

Berselang beberapa hari, tepatnya 29 Juni 2020, Jokowi kembali kembali menyinggung Terawan. Kali ini, dia menyoroti prosedur di Kemenkes yang terlalu bertele-tele, sehingga membuat bantuan dan insentif tenaga kesehatan terhambat.

"Prosedurnya di Kemenkes bisa dipotong, jangan sampai ini bertele-tele. Kalau aturan di Permen (Peraturan Menteri)-nya terlalu berbelit-belit ya disederhanakan," ujar Jokowi dalam rapat terbatas di Istana Merdeka, Jakarta Pusat, kala itu.

Jokowi meminta agar pembayaran untuk layanan kesehatan yang berkaitan dengan COVID-19 dipercepat. Ia mengingatkan jangan sampai ada keluhan-keluhan tenaga medis tentang uang tambahan-tambahan hingga santunan kematian.

"Jangan sampai ada keluhan, misalnya yang meninggal ini harus segera, bantuan santunan itu harus, mestinya begitu meninggal bantuan santunannya harus keluar," tutur presiden.

Selain itu, Jokowi juga meminta agar pembayaran untuk klaim rumah sakit terkait penanganan virus corona agar dipercepat. Begitu juga insentif tenaga medis, pun diminta segera dicairkan.

"Pembayaran klaim rumah sakit secepatnya, insentif tenaga medis secepatnya, insentif untuk petugas laboratorium secepatnya. Kita nunggu apalagi, lah anggarannya sudah ada," ucap mantan gubernur DKI Jakarta itu.

Baca Juga: 11 Dokter dan 9 Nakes Lainnya Positif COVID-19 di Kabupaten Tangerang 

3. Perencanaan testing agar tidak ada ketimpangan antara provinsi satu dengan yang lain

Teguran-teguran Presiden Jokowi untuk Menkes Terawan Saat Pandemik Presiden Jokowi memimpin rapat terbatas pada Kamis (24/9/2020) di Istana Kepresidenan (Dok. Biro Pers Kepresidenan)

Di awal September, lagi-lagi Presiden Jokowi menegur Terawan dalam rapat terbatas. Dalam sidang kabinet paripurna pada 7 September 2020 itu, Jokowi meminta Kemenkes untuk menyiapkan perencanaan testing COVID-19 yang baik.

"Saya minta untuk urusan tes ini, Kemenkes saya minta dibuat desain perencanaan yang betul-betul, yang baik," perintah Jokowi dalam sidang kabinet paripurna, yang disiarkan langsung di channel YouTube Sekretariat Presiden, Senin (7/9/2020).

Kemudian, Jokowi mengingatkan jangan sampai ada perbedaan testing yang signifikan di setiap provinsi. Seperti ada yang jumlah testingnya tinggi dan ada yang jumlahnya rendah.

"Jangan sampai yang saya lihat, ada provinsi yang sudah melakukan testing tinggi sekali, tapi ada provinsi yang testingnya masih rendah sekali, desain perencanaan harus betul-betul komprehensif," ujarnya.

Lebih lanjut pria kelahiran Solo itu menuturkan bahwa, perencanaan testing harus benar-benar komprehensif, terutama terkait jumlah laboratorium di masing-masing provinsi.

"Menyangkut berapa jumlah laboratorium yang ada di provinsi, berapa reagen yang harus terdistribusi pada sebuah provinsi," kata dia lagi.

Karena itu, lanjut Jokowi, perencanaan sangat diperlukan, sehingga bisa terlihat perbedaan kasus setiap provinsi dengan jumlah testingnya.

"Perencanaan itu kita perlukan sehingga kelihatan nanti kasus-kasus positif ini berada di wilayah atau provinsi yang mana," tutur Jokowi.

"Strategi jejaring laboratorium ini penting, bukan berdasar wilayah administrasi tapi sekali lagi, desain untuk perencanaan harus betul-betul ada dan harus disiapkan," tambah Jokowi.

4. Kontroversi pernyataan Terawan

Teguran-teguran Presiden Jokowi untuk Menkes Terawan Saat Pandemik Menkes Terawan dalam Acara Audiensi Pandemi Dari Mata Anak Indonesia, Selasa (14/7/2020) (Youtube.com/Forum Anak Nasional)

Tak hanya itu, sosok Terawan juga beberapa kali melontarkan pernyataan yang ujung-ujungnya menuai kontroversi. Berikut beberapa di antaranya.

Pada Februari 2020, masyarakat mulai bertanya-tanya kenapa Indonesia masih kebal juga terhadap virus corona. Sebab, negara-negara tetangga sudah kelabakan menangani virus corona yang masuk ke negara mereka. Sementara Indonesia, dinilai, masih santai-santai saja.

Saat pertanyaan publik itu ditanyakan langsung kepada Terawan, dengan entengnya ia menjawab bahwa Indonesia kebal virus corona karena doa.

"Secara medis doa, semua karena doa, saya yakin doa lah yang membuat kita semua (bebas virus corona)," ujar Terawan di Bandara Halim Perdanakusumah, Jakarta Timur, Sabtu (15/2/2020).

Di sisi lain, sejumlah negara pun mempertanyakan karena Indonesia tak kunjung mengumumkan kasus. 

Tak percaya Indonesia belum juga memiliki kasus positif, ahli Harvard University pun mengeluarkan pernyataan bahwa seharusnya virus corona sudah masuk ke Indonesia. Bukannya menerima masukan tersebut, Terawan justru mengatakan bahwa kajian dari peneliti Harvard itu menghina Tanah Air.

Terawan menyatakan, kajian tersebut mendiskreditkan hasil uji laboratorium yang sudah dilakukan oleh Pemerintah Indonesia. Menurut Terawan, tools kit yang digunakan untuk tes terkait virus corona berasal dari Amerika Serikat dan telah sesuai dengan standar kesehatan dunia.

"Itu namanya menghina itu. Intinya adalah apa yang sudah kita kerjakan sesuai standar ya, standar internasional semua, sudah dicek bahkan saya bilang gitu,” kata Terawan , di medio Februari 2020.

Masyarakat semakin dibuat geram dengan Terawan saat ia meminta masyarakat untuk ‘enjoy’ dalam menghadapi virus corona. Meski ia mengeluarkan pernyataan itu untuk menenangkan masyarakat, namun tetap saja publik menganggap bahwa Terawan mengentengkan wabah tersebut.

"Dari 1,4 miliar penduduk sana ya paling 2 ribuan (yang terkena virus corona). (Sebanyak) 2 ribu dari 1,4 miliar itu kan kayak apa. Karena itu pencegahannya jangan panik, jangan resah. Enjoy saja, makan yang cukup," kata Terawan usai menghadiri rapat koordinasi di Kementerian Perhubungan soal penyebaran virus corona.

Baca Juga: Jokowi ke Menkes Terawan: Buat Desain Testing COVID-19 yang Baik 

Topic:

  • Ita Lismawati F Malau

Berita Terkini Lainnya