Comscore Tracker

Sejak 2008, BMKG Tak Lagi Pakai Skala Richter untuk Ukur Gempa

Kamu harus tahu perbedaan SR dan magnitudo

Banten, IDN Times - Gempa berkekuatan Magnitudo 5,0 mengguncang Sukabumi dan getarannya terasa hingga Bogor dan Jakarta pada Selasa (10/3). Pemberitaannya pun masih ada hingga hari ini. 

Namun, mungkin kamu akan bingung menemukan, ada media yang menyebut kekuatan gempa itu dengan "skala richter (SR) dan magnitudo (M). Sebenarnya, mana yang benar? 

Sebelumnya, kita di Indonesia memang sudah akrab dengan satuan SR untuk mengukur kekuatan gemp. Namun, sebetulnya saat ini satuan SR sudah tidak dipakai lagi loh oleh Badan Metereologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG).

Jika kamu perhatikan, situs BMKG selalu menyertakan satuan magnitudo (M) di sebelah kekuatan gempa saat update lindu terbaru. Ya, BMKG tidak lagi menggunakan SR dan menggantinya dengan M sejak 2008. 

Satu pertanyaan muncul: apa sih perbedaan mendasarnya? Nah, berikut ini IDN Times coba merangkum penjelasannya untuk kamu.

Baca Juga: Terasa di Jakarta dan Bogor, Gempa M 5,0 di Sukabumi Jadi Trending

1. Dikembangkan oleh Charles F Richter, Skala Richter itu mengukur kekuatan "di sekitar pusat gempa"

Sejak 2008, BMKG Tak Lagi Pakai Skala Richter untuk Ukur GempaBMKG Wilayah IV Makassar

Disari dari beberapa sumber, Skala Richter atau SR adalah sebuah satuan kekuatan gempa yang dikembangkan oleh Charles F Richter, seorang ilmuwan Amerika Serikat pada dekade 1930-an. Metode pengukurannya menggunakan amplitudo. 

SR awalnya dirancang untuk mengukur besarnya gempa bumi dengan ukuran sedang (yaitu, magnitudo 3 hingga magnitudo 7) dengan menetapkan angka yang memungkinkan ukuran satu gempa tersebut dibandingkan dengan gempa lainnya.

Setiap kenaikan satu unit pada SR mewakili peningkatan 10 kali lipat kekuatan gempa. Singkatnya, angka pada SR sebanding dengan logaritma umum (basis 10) dari amplitudo gelombang maksimum.

Contohnya, sebuah perekam kekuatan gempa bumi terpasang 100 km dari pusat gempanya, amplitudo maksimumnya sebesar 1 mm. Kekuatan gempa tersebut adalah 10 pangkat 3 mikrometer sama dengan 3,0 SR.

2. Mengadopsi hitungan SR, Skala Magnitudo lebih akurat

Sejak 2008, BMKG Tak Lagi Pakai Skala Richter untuk Ukur Gempawww.bmkg.go.id

Skala magnitudo sebetulnya mengadopsi perhitungan SR, namun lebih akurat. Mengapa? lantaran Skala magnitudo dihitung berdasarkan faktor-faktor penting seperti luas rekahan, panjang slip, dan sifat rigiditas (kekakuan) batuan yang berada di pusat gempa.

Berbeda dengan SR, magnitudo ini menyusun hitungan kekuatan gempa berdasarkan perpindahan partikel batuan atau tanah di mana sensor dipasang-- bukan cepat getaran partikel tanah atau batuan di sekitar sensor terpasang. Dengan kata lain, pengukuran magnitudo lebih luas ketimbang SR.

Selain lebih luas, magnitudo pun lebih rinci. Dari perpindahan gelombang longitudinal, informasi menentukan kekuatannya melalui perbedaan stress drop (perbedaan antara tegangan melintasi sesar sebelum dan sesudah gempa bumi), lebar atau panjang sesar yang aktif, momen seismik untuk estimasi Ml dan Mb yang menjadi estimasi magnitudo  gelombang tekanan di sumber gempa.

3. Pengukuran M sudah digunakan oleh BMKG sejak tahun 2008

Sejak 2008, BMKG Tak Lagi Pakai Skala Richter untuk Ukur GempaDok. Istimewa / BNPB

Seiring waktu, sejak pertama kali mengemuka pada akhir 1970-an, skala M mulai diadopsi oleh banyak negara, termasuk Amerika Serikat dan Jepang. Beberapa tipe magnitudo gempa baru pun ditemukan seperti ML (Magnitude Local), Mb (Magnitude body), Ms (Magnitude surface), Mw (Magnitude moment) dan MD (Magnitude Duration).

Kesimpulannya? Magnitudo jauh lebih rinci dalam urusan mengukur kekuatan gempa daripada SR. Namun ternyata tingkat ML lebih dekat kepada SR lantaran sama-sama mengestimasi gelombang yang benar-benar terasa di daerah yang diguncang gempa.

Nah, udah jelas kan? Tapi yang paling penting, tentu saja agar tak panik dan mengetahui apa yang wajib dilakukan ketika gempa terjadi.

Topic:

  • Ita Lismawati F Malau

Berita Terkini Lainnya