Comscore Tracker

Ironi Pengembang Game Lokal: Jadi Tamu di Negeri Sendiri

Banyak ahli pembuat film yang berkiprah di luar

Bandung, IDN Times – Tahukah kamu bahwa 43 juta dari 297,7 juta penduduk Indonesia merupakan seorang gamer loh.  Ini artinya, pasar game di Tanah Air sungguh menggiurkan.

Sayangnya, potensi pasar yang besar ini, tidak disertai dengan daya saing produsen game lokal. Akhirnya, pembuat game lokal pun menjadi tamu di negeri sendiri. Mereka terasing. 

Peneliti Kebijakan dan Manajemen Ilmu Pengetahuan, Teknologi, dan Inovasi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Maulana Akbar, mengatakan jika industri game lokal hanya punya nilai optimistis untuk meraup 4 persen dari total Rp15,4 triliun nilai industri games secara global pada 2020—berdasarkan hasil riset Newzoo.

Data lainnya mengungkap bahwa ada 3,1 miliar orang di dunia yang bermain game. Artinya, 40 persen penduduk bumi adalah seorang gamer. Menurut data DFC Intelligence, Asia menjadi daerah dengan populasi gamers yang membeli game berbayar terbanyak, yakni mencapai 1,42 miliar orang. Peringkat itu diikuti Eropa dengan jumlah 668 juta gamers yang membeli game berbayar.

Angka maksimal sebesar 4 persen dari nilai industri game yang dapat dimanfaatkan oleh produsen lokal tentu terbilang kecil jika dibandingkan dengan pesatnya peningkatan industri ini di Indonesia. Bagaimana lagi, toh masyarakat memang tak bisa dipaksa untuk menikmati game lokal ketimbang asing.

“Lemahnya daya saing produsen lokal dengan asing membuat pendapatan daripada game mengalir menuju perusahaan asing. Maka itu saat ini pemerintah sedang berupaya untuk mempertahankan rupiah agar tak lari ke negara lain,” kata Maulana, saat dihubungi IDN Times, Senin (31/8/2020).

1. Indonesia memang lambat dalam menciptakan game-nya sendiri

Ironi Pengembang Game Lokal: Jadi Tamu di Negeri SendiriIDN Times/Galih Persiana

Menurut penelusuran LIPI, Indonesia memang lambat dalam menciptakan game-nya sendiri. Era game berbasis console sebenarnya sudah dimulai sejak 1970-an, yang diprakarsai oleh Amerika Serikat. Hingga medio 1990-an, Indonesia tidak pernah menggarap potensi itu dengan serius.

Pada 2000-an barulah beberapa pemuda Indonesia membuat sendiri game mereka. Meski demikian, berjamurnya industri game Tanah Air mulai terbilang pesat pada 2010-an, di mana mediumnya tidak hanya dimiliki oleh console, melainkan juga berbasis ponsel pintar.

Merujuk situs Gamedevmap.com, Indonesia kini memiliki 27 pengembang yang aktif memproduksi game. Namun, data itu dibantah Maulana. Menurut dia, Indonesia memiliki lebih daripada seratus pengembang game. “Sampai sekarang saja (di mana penelitian belum rampung) sudah ada 70 perusahaan yang kami dapatkan. Saya yakin jumlahnya ada di atas seratus pengembang,” tutur dia.

Masalahnya, tidak semua pengembang game memiliki badan hukum sebagai sebuah perusahaan. Artinya, tidak semua game yang kena wajib pajak dan menyumbang pemasukan buat pemerintah.

Memang, pada prinsipnya, pengembang tidak melulu memproduksi game dari titik awal hingga bisa dimainkan oleh masyarakat. Menurut Maulana, ada tiga kategori pengembang game. Pertama, yang memang membikin game dari nol hingga dapat dimainkan oleh publik. Kedua developer yang hanya mengerjakan pesanan perusahaan lain yang ingin membikin game misalnya guna kepentingan promo. Ketiga, kata dia, ialah tenaga kerja Indonesia yang mendapat pesanan beberapa bagian dari sebuah game yang dikembangkan produsen asing.

2. Jalan Pramuka hingga Smart Boy, game edukasi untuk siswa sekolah

Ironi Pengembang Game Lokal: Jadi Tamu di Negeri SendiriIDN TImes/Galih Persiana

Bagi pengembang game yang berani mengambil kategori pertama, yakni membikin sendiri game-nya dari nol, mesti siap menghadapi persaingan pasar yang ketat. Hal itu dirasakan Afandi Ichan, pemuda asal Jawa Tengah yang tergerak membuat sebuah game untuk mengedukasi siswa sekolah.

Game yang ia ciptakan diberi nama Jalan Pramuka. "Awalnya saya lihat di bekas SMP saya, kok yang ikut pramuka sedikit ya. Terus saya coba bikin sebuah game yang bisa membuat orang-orang suka sama kegiatan pramuka lagi. Akhirnya jadilah game Jalan Pramuka itu. Ini bisa melatih pembelajaran pramuka di rumah secara virtual," ujar Ichan kepada IDN Times melalui sambungan telepon, Jumat (28/8/2020). 

Game Jalan Pramuka berhasil menyabet juara di ajang kontes game nasional di kampus ITS Surabaya. Sejak dibuat tahun lalu, katanya game Jalan Pramuka belum banyak dilirik oleh masyarakat. Meski sudah dipasang di app store, namun jumlah yang mengunduhnya masih sangat sedikit. 

"Sudah ada puluhan yang download," kata lulusan Teknik Informatika Universitas Semarang (USM) tersebut.

Sedangkan, Risal Fajar, seorang developer game lainnya juga mengalami kondisi serupa. Meski sempat menyabet juara dari kontes yang digelar BPMPK Kemendikbud, namun ia tak tahu secara pasti seberapa besar animo masyarakat yang tertarik dengan game bikinannya.

"Kita awalnya kan prihatin dengan fenomena teman-teman saat ujian TOFL banyak yang gagal. Selain itu peringkat Indonesia di bidang bahasa Inggris juga rendah. Makanya dari situ kita bikin game Smart Boy," jelasnya.

"Cuma seberapa besar peminatnya, ya kita belum tahu. Soalnya harus di-download di situs resmi BPMPK Kemendikbud," beber mahasiswa jurusan Teknik Informatika, semester 8, Fakultas Ilmu Komputer Udinus ini.

3. Idealnya, grafik yang baik dan didukung oleh kualitas cerita yang baik pula. Nah, itu yang jarang ditemui di Indonesia

Ironi Pengembang Game Lokal: Jadi Tamu di Negeri SendiriEternal Dream Studio developer game asal Lampung. (IDN Times/Istimewa).

Syahdan, jika Indonesia memiliki banyak orang yang mampu menciptakan game, mengapa masyarakat kita masih lebih menyukai game bikinan asing?

Kekalahan produk lokal dari asing salah satunya tak lain disebabkan oleh kualitas game yang diluncurkan. Menurut penelitian LIPI, sumber daya manusia di Indonesia salah satunya belum mampu membikin game dengan kualitas grafik yang baik. Namun, dalam urusan penggarapan cerita, SDM Indonesia dianggap mampu menciptakan game yang menarik.

“Maka itu terkadang game dengan grafik yang biasa saja namun memiliki cerita yang menarik di baliknya bisa pula laku di pasaran. Tapi, yang ideal adalah grafik yang baik dan didukung oleh kualitas cerita yang baik pula. Nah, itu yang jarang ditemui di Indonesia,” kata Maulana.

Jalan keluar dari permasalahan itu ialah transfer knowledge para pengembang game lokal. Masalahnya, kata Maulana, hal itu belum dimaksimalkan oleh pemerintah.

Atlet Esport Indonesia yang pernah berkompetisi dalam Kejuaraan PES tingkat dunia pada 2016, Ahmad Habibie, sepakat dengan itu. Menurut dia, salah satu alasan kenapa game Indonesia banyak peminatnya adalah karena konsepnya yang simpel, dan hanya itu yang menjadi hal yang disukai para gamers Indonesia terhadap game lokal.

“Tak terlalu banyak mikir dan gampang menang,” katanya kepada IDN Times, Jumat (28/8/2020).

Apa yang disebutkan Maulana soal transfer knowledge dirasakan betul oleh para pengembang game lokal. Rizal Saputra, ketua komunitas game di Yogyakarta bernama GameLan salah satunya. Ia menilai Indonesia masih kesulitan untuk mendapatkan akses ke publisher game dan konsol yang dimiliki oleh studio AAA sekelas Ubisoft, Square Enix, Nintendo, Electronic Arts, hingga Rockstar Games. Beda halnya dengan yang terjadi pada developer di negara tetangga seperti Malaysia, kata dia, memiliki akses karena studio game AAA membuka kantor di sana.

Dengan adanya akses itu, para developer lokal bisa bekerja di sana, belajar, dan mendapat pengalaman. Saat lulus dari sana, mereka bisa membuka studio sendiri dan membangun industri lokal.

"Sebenarnya di Jogja itu banyak yang berpotensi. Jadi kayak developer yang masih baru atau mahasiswa yang masih muda mereka passion-nya tinggi, keinginannya kuat dan kepengin bikin studio, atau ada yang kepengin gabung ke studio. Cuma sayangnya di Jogja sendiri ini studio game yang memproduksi itu belum banyak. Kalau pun ada skala studionya itu masih kecil," ucapnya, Jumat (28/8/2020).

4. ITB bikin program studi game, tapi tak bisa menjamin

Ironi Pengembang Game Lokal: Jadi Tamu di Negeri SendiriIDN Times/Debbie Sutrisno

Soal SDM, sebenarnya Indonesia memiliki banyak universitas dan sekolah yang fokus mendidik berbagai ilmu yang beririsan dengan industri game. Namun menurut hasil penelitian LIPI sejauh ini, hal itu tidak cukup menjamin industri game Indonesia akan berkembang. Apalagi SDM unggul lebih banyak memilih untuk bekerja bagi pengembang game asing karena tawaran upah yang besar, ketimbang harus bekerja dengan pengembang lokal.

Game industry isn’t software industry. Meski teknisnya memang membuat software, game tetaplah perlu sentuhan art.”

soal pengembangan industri game di dunia pendidikan, pemerintah sendiri telah melakukan berbagai upaya. Seperti keputusan mereka dalam menstimulus instansi pendidikan untuk ikut menciptakan SDM di dunia game yang unggul, salah satunya dengan meminta Institut Teknologi Bandung membikin Program Magister Teknik Elektro opsi Teknologi Media Digital & Game (TMDG) sejak 2008.

Penciptaan program studi itu tak lain bertujuan untuk mengantisipasi munculnya gelombang baru transformasi digital, mencoba menangkap bonus demografi, dan mencoba menghindari persoalan sumber daya manusia berupa digital divide.

"Jadi saat itu kita ditunjuk oleh Kemenkominfo dan Kemendikbud untuk melakukan kerja sama. Seluruh mahasiswa yang masuk mendapatkan beasiswa secara utuh," ujar Ian Yosef Matheus Edward, Ketua Program Studi Magister Teknik Elektro-Sekolah Teknik Elektro dan Informatika ITB kepada IDN Times, Kamis (27/8/2020).

Selama ini, papar Ian, lulusan dari jurusan TMDG tidak sulit ketika mereka memang ingin bekerja. Sebelum lulus banyak perusahaan baik dari dalam dan luar negeri sudah mengajukan permohonan agar mereka bisa ikut bergabung.

Selain bekerja penuh, ada juga lulusan yang magang di suatu perusahaan sambil mengembangkan produk yang mereka inisiasi. Selanjutnya, perusahaan itu justru memberikan pendanaan agar produk yang dikembangkan bisa dijadikan sebuah usaha secara mandiri.

"Makanya banyak yang kerja di perusahaan besar, setelah itu mereka juga mendirikan perusahaannya sendiri. Banyak itu di luar negeri, kita juga tidak bisa larang," ungkap Ian.

Ian pun berharap pemerintah bisa lebih serius dalam mengembangkan industri game. Bukan hanya sekadar pemakai game yang dibuat developer dari luar negeri, tapi harus bisa menghasilkan produk sendiri yang kemudian dimanfaatkan banyak orang di negara lain.

Presiden Asosiasi Game Indonesia (AGI) Cipto Adiguno mengatakan, untuk menunjang industri game, yang terpenting bukan hanya sisi pendidikan formalnya saja, melainkan juga kemampuan di lapangan.

"Pemilik Agate malah enggak lulus kuliah, jadi hanya ijazah SMA saja tapi jago banget. Jadi gak selamanya sekolah mencetak seseorang menjadi profesional. Bukan bilang mereka jelek, tapi idealnya harus ada mix-max," tuturnya.

5. Infrastruktur jaringan internet belum merata di Indonesia

Ironi Pengembang Game Lokal: Jadi Tamu di Negeri SendiriIlustrasi. unsplash.com/John Schnobrich

Selain menyangkut SDM, masalah lain yang timbul dari payahnya industri game lokal dalam urusan bersaing, muncul lantaran infrastruktur jaringan yang lemah, salah satunya dengan yang terjadi di Lampung. Provinsi Lampung termasuk sebagai daerah dengan infrastruktur digital yang rendah, yakni peringkat 24 dari 34 provinsi di Indonesia menurut penelitian East Ventures.

Hingga berita ini diturunkan, Kepala Dinas Komunikasi Informatika dan Statistik Provinsi Lampung, Achmad Chrisna Putra, belum mengonfirmasi pertanyaan IDN Times seputar kondisi tersebut. Namun, pengembang game lokal pertama Lampung, Eternal Game Studio, merasakan betul lemahnya infrastruktur jaringan mereka.

Lucky selaku founder Eternal Dream Studio, menerangkan bahwa infrastruktur digital erat kaitannya dengan perusahaan telekomunikasi, dalam hal ini operator seluler. “Di Lampung ini sinyal (internet) tidak merata. Ada perbedaan antara Bandar lampung dan luar Bandar Lampung. Kami punya tim berlokasi di Natar (Lampung Selatan), dan Metro, masih terkendala sinyal provider,” ujarnya, Minggu (30/8/2020).

Selebihnya, sampat saat ini ia belum merasakan dukungan langsung dari Pemprov Lampung terkait pengembangan game lokal. 

Baca Juga: Sinyal Internet Batu Sandungan Pengembang Game Lokal Lampung Berkreasi

6. Tiga tahun lalu pemerintah sudah prediksi kondisi ini

Ironi Pengembang Game Lokal: Jadi Tamu di Negeri Sendiriagate.id

Sebenarnya, kondisi game Indonesia saat ini adalah hal yang ditakutkan oleh pemerintah, setidaknya sejak 2017 lalu. Merujuk berita yang dimuat kominfo.go.id pada Januari 2017, pengembang game di Indonesia ketika itu mampu meraup market share sebanyak 10 persen dari total pendapatan secara keseluruhan. Dirjen Aplikasi Informatika Kominfo ketika itu, Semuel Abrijani Pangarepan, memprediksi angka market share tersebut bisa turun menjadi 3 persen pada 2019 jika potensi industri game tidak direspons dengan baik oleh pemerintah.

Dengan berbagai upaya yang dilakukan Kominfo, ketika itu Semuel optimistis mengejar target yang tak main-main: menguasai 50 persen market share lokal pada 2020. Hal tersebut menjadi target pemerintah, utamanya setelah bekerja sama dengan para pelaku industri game. Namun seperti dijelaskan sebelumnya, alih-alih meningkat drastis, market share yang dimiliki pengembang lokal justru terjun bebas menjadi 4 persen saja pada 2020.

Tak hanya itu, pemerintah pun belum memiliki landasan hukum untuk membikin regulasi demi mendukung kemajuan industri game lokal. Memang, industri game tetap akan berkembang tanpa sentuhan pemerintah sekali pun, namun tetap saja peran pemangku kebijakan akan sangat berarti bagi pengembang lokal, salah satunya untuk mengontrol pembajakan yang masif terjadi bagi game-game berbayar.

Maka itu, jangan heran jika saat ini Kementerian Informatika tengah menjalin kerja sama dengan LIPI dan AGI untuk merumuskan penelitian terkait potensi industri game lokal. Penelitian itu yang ke depannya akan menjadi landasan Kominfo dalam membuat aturan.

“Penelitian terakhir soal game dilakukan pada 2015 oleh Kominfo sendiri. Jadi ke depannya, kebijakan bisa diciptakan memang based on evidence, tidak hanya mengandalkan sense pejabat,” ujar Maulana.

Di mata AGI, dunia industri game lokal saat ini berkembang begitu pesat hingga tidak memiliki data lengkap dan pasti. Menurutnya, masih banyak developer game yang belum tercatat resmi sebagai sebuah badan usaha.

"Kita enggak punya itu. Kita sebenarnya tidak tahu update jumlah deplover berapa, revenue yang dihasilkan berapa. Jadi saat ini masalah kita gak punya data dalam negeri," ungkapnya.

Terlambat lebih baik daripada tidak sama sekali. Maka itu, dengan adanya regulasi dan pola industri yang jelas, diharapkan ke depannya pengembang lokal mampu mengambil alih market share di Indonesia.

Pasalnya, hampir seluruh pihak yang berkecimpung di dunia game sepakat jika industri ini akan semakin menjanjikan ke depannya. Optimisme yang tinggi terhadap industri game Indonesia salah satunya diungkapkan Darwin Tandrin, Ketua Harian Pengprov ESI Kaltim saat diwawancarai IDN Times pada Selasa (25/8/2020) sore. Ia menjelaskan bahwa daerahnya memiliki potensi pasar yang besar.

“Intinya 30 persen dari jumlah penduduk itu pasti bermain gim. Di Kaltim penduduknya sejuta lebih, maka 300 ribu orang adalah pemain gim,” sebutnya.

Sama seperti yang terjadi di hulu, para gamers yang berada di hilir industri ini pun mengalami berbagai kendala. Sekretaris Umum Pengurus Besar Esports Indonesia (PBEI) Jateng, Nicodemus D. Nugrah Widiutomo, mengatakan bahwa ada stigma negatif yang belum luntur tentang game di Indonesia.

"Pemerintah sudah dukung penuh esport untuk dikembangkan lebih besar lagi. Cuma memang kendalanya sekarang harus menghadapi dari pola pikir para orang tua. Karena selama ini orang tua kan menganggap kalau nge-game menghabiskan waktu," katanya kepada IDN Times, Jumat (28/8/2020).

7. Bukan hanya kepentingan hasrat gamers, game juga urusan pendapatan negara

Ironi Pengembang Game Lokal: Jadi Tamu di Negeri Sendiripinterest

Cipto, yang juga menjabat sebagai VP Consumer Game Agate Studio, juga berharap munculnya regulasi yang jelas dapat membuat pemerintah semakin profesional dalam mengatur pasar, utamanya dalam urusan pajak. Game asing yang ada di Indonesia, kata dia, sempat masuk begitu saja tanpa dipungut pajak. Sedangkan developer dalam negeri sendiri tak pernah luput dipungut pajak penghasilan.

Namun sejak beberapa bulan lalu, ada aturan pemerintah untuk mendapatkan untung juga dari perusahaan luar ke Indonesia. "Kita bayar pajak penghasilan. Kalau kita dapat satu juta, orang luar juga satu juta, mereka tarik dan kita sendiri hanya 900 ribu karena kita harus bayar pajak," katanya.

Tak cuma itu, regulasi yang hendak dibikin pemerintah juga diharapkan dapat menghentikan ketidakjelasan wewenang antar-kementerian yang kerap membuat bingung pada pengembang game.

"Kami di bawah Kominfo karena kami produk digital, atau kami ini di bawah Kemenparekraf karena produk kreatif? Atau mungkin kami di bawah Kementerian Perdagangan karena kita sering bertansaksi dalam perdagangan luar negeri?" ujar Cipto.

Apapun regulasi tentang game yang dibuat pemerintah untuk kemudian diajukan ke legislatif ke depannya tak boleh luput dari perhatian masyarakat. Karena dewasa ini, industri game bukan hanya menjadi kepentingan hasrat para gamers, melainkan juga menyangkut para pengusaha lokal sebagai penyumbang PDB bagi negara.

Baca Juga: Akses ke Studio AAA Jadi Kebutuhan Developer Game Lokal

Baca Juga: Susahnya Developer Game Lokal Lawan Brand Asing: Yang Tertarik Anak Sekolahan

Topic:

  • Ita Lismawati F Malau

Berita Terkini Lainnya