Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Ilustrasi anak sekolah (unsplash.com/Photo by Ed Us)
Ilustrasi anak sekolah (unsplash.com/Photo by Ed Us)

Intinya sih...

  • Sejumlah faktor penyebab remaja di Banten tak lanjutkan sekolah

  • DPRD sebut kondisi ini harus jadi peringatan serius pemerintah

  • Partisipasi sekolah jenjang SMA sederajat di bawah angka nasional

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Serang, IDN Times – Angka anak tidak sekolah (ATS) di Provinsi Banten pada kelompok usia remaja masih tergolong tinggi. Data Badan Pusat Statistik (BPS) Banten mencatat, hampir 20 persen anak usia 16–18 tahun atau setara jenjang SMA/SMK di Banten tidak mengenyam pendidikan formal.

Kepala BPS Banten Yusniar Juliana mengatakan, persentase anak tidak sekolah tertinggi berada pada kelompok usia 16–18 tahun, yakni mencapai 19,78 persen. Angka tersebut menunjukkan sekitar 19 hingga 20 dari setiap 100 remaja di Banten tidak bersekolah.

“Ini mengindikasikan bahwa semakin tinggi jenjang pendidikan, tantangan mempertahankan anak untuk tetap bersekolah juga semakin besar,” kata Yusniar melalui siaran pers, Kamis (22/1/2026).

1. Ini sejumlah faktor penyebab remaja di Banten tak lanjutkan sekolah

Sekda Banten dan penerima program sekolah gratis (Dok. Pemprov Banten)

Ia menjelaskan, sejumlah faktor menjadi penyebab utama remaja tidak melanjutkan sekolah, mulai keterbatasan ekonomi keluarga, biaya pendidikan yang dinilai masih mahal, masalah kesehatan, hingga persoalan sosial.

Jika dibandingkan dengan kelompok usia lain, disparitasnya cukup tajam. Pada usia 13–15 tahun atau setara SMP, angka anak tidak sekolah tercatat 6,73 persen, sementara usia 7–12 tahun hanya 0,48 persen.

"Kondisi ini menunjukkan bahwa persoalan utama akses pendidikan di Banten justru terjadi pada fase transisi menuju pendidikan menengah atas," katanya.

2. DPRD sebut kondisi ini harus jadi peringatan serius pemerintah

Anggota Komisi V DPRD Banten Yeremia Mendrofa (dok.istimewa Yeremia)

Menanggapi data tersebut, Anggota Komisi V DPRD Banten Yeremia Mendrofa menilai tingginya angka anak tidak sekolah di usia remaja merupakan peringatan serius bagi pemerintah daerah.

“Angka mendekati 20 persen di usia SMA/SMK memberikan gambaran besarnya pekerjaan rumah pembangunan pendidikan di Provinsi Banten,” ujar Yeremia.

3. Partisipasi sekolah jenjang SMA sederajat di bawah angka nasional

Ia menambahkan, partisipasi sekolah di jenjang SMA/SMK di Banten juga masih berada di bawah rata-rata nasional. Rata-rata lama sekolah masyarakat Banten pun masih berada di angka 9,8 tahun, yang setara dengan lulusan SMP.

Menurut Yeremia, pembangunan pendidikan di Banten harus dilakukan secara terarah dan berbasis data, dengan intervensi program yang benar-benar menyasar remaja usia sekolah menengah.

“Program pendidikan gratis, sekolah rakyat yang tepat sasaran, serta bantuan pendidikan bagi keluarga tidak mampu perlu diperkuat agar remaja tidak terpaksa berhenti sekolah,” katanya.

Ia juga mendorong penguatan kolaborasi dengan sekolah swasta, pondok pesantren, serta dunia usaha agar akses pendidikan menengah semakin terbuka.

“Jika persoalan remaja tidak sekolah ini tidak ditangani serius, maka akan berdampak panjang terhadap kualitas sumber daya manusia Banten ke depan,” katanya.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team