IDN Times/Maya Aulia Aprilianti
Budi mengungkapkan, di kedokteran modern saat ini ada banyak cara untuk menangani kelainan jantung bawaan pada anak. Biasanya kasus paling banyak yakni adanya kerusakan pada katup.
Hal tersebut bisa diatasi dengan operasi katup jantung dengan minim sayatan, yakni hanya sepanjang jari telunjuk saja. Metode ini dinilai menguntungkan bagi pasien anak dan perempuan. Sebab bisa memudahkan aktivitas selama proses penyembuhan hingga kelangsungan hidup selanjutnya.
Sebab sebelumnya, operasi jantung dengan teknik belah otot dada depan ataupun di bawah payudara dinilai berisiko. Sayatan yang dihasilkan pun lebih panjang, serta bisa memunculkan keloid kulit di kemudian hari.
"Karena operasi perlu melakukan sayatan di area dada depan, tengah antara payudara, sehingga akan melibatkan otot besar dan aktif. Sehingga penyembuhannya akan lebih lama, lalu berisiko memunculkan kiloid, jadi secara estetika pun akan kurang,"ungkapnya.
Budi Rahmat pun memperkenalkan teknik operasi untuk mengobati kelainan jantung hingga permasalahan pada katup jantung dengan sayatan yang lebih minimalis, hanya sekitar 3 sampai 4 cm di bawah ketiak sebelah kiri.
"Jadi, teknik modified minimally invasive cardiac surgery ini memanfaatkan jaringan di bawah ketiak sebelah kiri. Di mana tidak ada otot besar, tidak terlihat jelas dan tidak mengganggu aktivitas setelahnya,"ujarnya.
Lalu keunggulan lain untuk pasien adalah pada saat membutuhkan ruang rawat di ICU maksimal hanya 4 hari saja. Cara konvensional biasa saja bisa membutuhkan waktu hingga 14 hari. Setelahnya bila sudah keluar dari rumah sakit, satu hingga dua minggu sudah bisa beraktivitas atau bekerja.
"Pada pasien anak dan dewasa bisa cepat sembuh, estetika terjaga, tidak ada trauma pasca operasi. Jadi bisa menghilangkan stigma operasi jantung untuk mengobati kelainan jantung bawaan pada anak, gangguan katup jantung pada dewasa, itu menakutkan, sudah tidak lagi," katanya.