Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Apakah Penyandang Kanker Boleh Berpuasa? Begini Kata Dokter Onkologi
Suyanto, Dokter Spesialis Penyakit Dalam Subspesialisasi Hematologi-Onkologi Medik Siloam Hospital Lippo Village (IDN Times/Maya Aulia Aprilianti)
  • Dokter onkologi Suyanto menjelaskan bahwa pasien kanker boleh berpuasa jika kondisi tubuh stabil dan risiko rendah, namun tetap harus di bawah pengawasan dokter.
  • Pasien yang berpuasa disarankan menjaga asupan gizi dan cairan saat sahur serta berbuka agar tidak memperburuk efek samping pengobatan seperti mual atau tekanan darah turun.
  • Suyanto juga menekankan pentingnya second opinion di dalam negeri melalui tim multidisiplin, sehingga pasien tak perlu ke luar negeri untuk mendapatkan layanan kanker standar global.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Tangerang, IDN Times - Bulan suci Ramadan merupakan salah satu bulan yang ditunggu-tunggu oleh umat muslim di seluruh dunia. Pasalnya, di bulan ini umat muslim berbondong-bondong mengerjakan ibadah-ibadah wajib maupun sunah, termasuk ibadah puasa.

Namun, bagaimana untuk penyandang kanker yang tengah menjalani pengobatan? Apakah diperbolehkan berpuasa?

Suyanto, Dokter Spesialis Penyakit Dalam Subspesialisasi Hematologi-Onkologi Medik Siloam Hospital Lippo Village mengungkapkan, pasien kanker masih bisa berpuasa namun harus melihat kondisi masing-masing pasien.

"Jadi sebenarnya untuk berpuasa itu sangat harus di-individualize, harus personalized ke situasi dan kondisi pasien tersebut, dan juga pengobatan apa yang lagi dijalani pasien," kata Suyanto.

1. Jika pasien memiliki resiko rendah, diperbolehkan berpuasa dengan pengawasan ketat

gambar pasien kanker esofagus yang kritis (unsplash.com/Olga Kononenko)

Suyanto menuturkan, biasanya dokter akan menilai pasien kanker tersebut apakah dalam risiko rendah atau tinggi. Jika pasien dalam kondisi stabil dan tidak memiliki penyakit penyerta lain seperti gangguan ginjal, maka biasanya aman untuk berpuasa.

"Tapi, itu pun harus dengan pengawasan ketat dokter, pasiennya juga harus tahu keadaan gangguan atau gejala-gejala yang abnormal, mungkin harus lapor ke dokternya," katanya.

Adapun, pasien kanker yang biasanya masuk risiko rendah yakni kanker payudara dan kanker prostat. Dimana, pengobatan biasanya dilakukan secara hormonal.

Sedangkan, untuk pasien kanker risiko menengah yakni memiliki gangguan ginjal maupun gangguan tekanan darah. Pengobatan pasien risiko menengah pun, kata Suyanto biasanya sedang menjalani terapi yang memiliki efek samping berat.

"Misalkan pasien yang oral kemoterapi, yang kadang-kadang kemo-nya kan minum pagi malam itu masih bisa puasa. Tapi memang itu tergantung kondisi pasien itu," katanya.

Sementara, untuk pasien dengan risiko tinggi, Suyanto tak menyarankan untuk berpuasa. Apalagi dengan adanya penyakit penyerta gangguan ginjal parah, diabetes, dan sedang menjalani kemoterapi intravena lantaran efeknya yang bakal membuat pasien payah.

"Misalnya mual, diare, dan lain-lain. Itu biasanya tidak disarankan untuk berpuasa karena risikonya terlalu tinggi buat pasien," katanya.

2. Pasien kanker yang ingin berpuasa harus memastikan sahur dan berbuka dengan asupan gizi cukup

ilustrasi penderita kanker (freepik.com/freepik)

Jika pasien kanker ingin berpuasa, Suyanto mengimbau agar memastikan asupan gizi saat sahur maupun berbuka harus cukup. Hal tersebut agar asupan gizi dan cairan tetap cukup lantaran pasien kanker membutuhkan gizi untuk memulihkan diri.

"Karena kadang-kadang efek sampingan kemo itu diare, mual, muntah-muntah, itu kan, kalau punya gangguan ginjal lagi kan bisa berbahaya, atau tekanan darahnya juga harus dikontrol jangan sampai drop," ungkapnya.

3. Pasien kanker juga disarankan tak berobat ke luar negeri lantaran resiko tinggi

Suyanto, Dokter Spesialis Penyakit Dalam Subspesialisasi Hematologi-Onkologi Medik Siloam Hospital Lippo Village (IDN Times/Maya Aulia Aprilianti)

Selain berpuasa, Suyanto juga mengungkapkan pasien kanker tidak disarankan untuk melakukan pengobatan ke luar negeri lantaran risiko tekanan di atas pesawat yang bisa membuat pasien berisiko mengalami pembekuan darah.

Suyanto yang merupakan Member of the Royal College of Physicians (MRCP), United Kingdom, sebuah kualifikasi yang mencerminkan standar kompetensi klinis internasional yang ketat mengungkapkan, biasanya masyarakat ke luar negeri untuk mendapatkan pendapat kedua atau second opinion setelah mendapat diagnosa dan saran medis di Indonesia.

Namun, dengan latar belakang pendidikan dan pelatihan dalam sistem kesehatan Inggris, beliau membawa pendekatan evidence-based medicine, pengambilan keputusan klinis berbasis data, serta praktik multidisiplin terintegrasi sesuai standar global, Suyanto memastikan second opinion juga bisa dilakukan di 1 rumah sakit yang sama tanpa harus pasien bolak-balik ke rumah sakit yang berbeda.

"Di Siloam Hospital, kami menerapkan seperti MDT (Multidisiplinary Team) layaknya di negara maju, seperti UK dan US untuk kasus kanker," kata Suyanto.

Ia mengungkapkan, MDT memungkinkan pasien mendapatkan second opinion dari tim dokter dari berbagai bidang keilmuan untuk menemukan terapi terbaik yang bisa diberikan ke pasien. Dengan metode ini, pasien tak perlu bolak-balik mengantre ke berbagai dokter hanya untuk konsultasi, namun tim dokter akan berdiskusi di belakang layar sebelum menyarankan terapi medis ke pasien.

"Melalui layanan second opinion, pasien dapat memastikan akurasi diagnosis, mendapatkan alternatif rencana terapi sesuai kondisi klinis, memahami risiko, manfaat, serta prognosis secara menyeluruh, mengambil keputusan medis dengan lebih tenang dan terukur," katanya.

Dengan melakukan second opinion di dalam negeri, pasien juga bisa dapat memperoleh pertimbangan medis setara standar global tanpa harus meninggalkan keluarga, dukungan sosial, dan kenyamanan lingkungan terdekat.

Kampanye “Check Before You Fly” mengajak masyarakat untuk memastikan setiap keputusan medis diambil berdasarkan informasi lengkap dan evaluasi menyeluruh. Dengan kompetensi internasional yang kini tersedia di dalam negeri, Siloam menegaskan bahwa layanan kanker berkualitas global tidak harus dicari jauh keluar negeri.

Melalui pendekatan yang komprehensif, personal, dan berbasis standar internasional, Siloam Hospitals Lippo Village menghadirkan kepastian dan harapan baru bagi pasien kanker di Indonesia.

"Karena fasilitas diagnosa hingga metode yang ada di Indonesia tak jauh berbeda dengan di luar negeri, obat-obatan pun juga mayoritas sudah tersedia di Indonesia," pungkasnya.

Editorial Team