Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Dok. IDN Times/Misnah
Dok. IDN Times/Misnah

Intinya sih...

  • Amirah, bayi 2 tahun di Lebak menderita kelainan usus, belum bisa dioperasi karena sering drop akibat kekurangan susu dan berat badan tak stabil
  • Orang tua Amirah kesulitan biaya pengobatan karena BPJS tidak menanggung semua kebutuhan medis, ongkos kontrol rutin mencapai Rp250-300 ribu
  • Ahmad, ayah Amirah, kesulitan membeli kebutuhan putrinya karena penghasilannya kecil dan tak menentu, bahkan harus menjual sepeda motor untuk biaya pengobatan
Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Lebak, IDN Times - Nasib pilu dialami Amirah, bayi berusia dua tahun asal Kampung Cipadung, Desa Daroyon, Kecamatan Cileles, Kabupaten Lebak yang merupakan putri dari pasangan suami istri Ahmad, 28 tahun dan Misnah, 22 tahun, yang menderita kelainan usus.

“Awalnya muntah-muntah, demam tinggi, perutnya kembung terus lemas sama kejang-kejang, sakit itu pas umur enam bulan. Terus saya bawa ke RS Adjidarmo, tapi dirujuk ke RS Harapan Kita karena alat kurang memadai,” kata Misnah, Selasa (6/5/2025).

1. Selama 6 bulan, kondisi bayi Amirah sering drop

Dok. IDN Times/Misnah

Misnah mengatakan, tindakan operasi belum bisa dilakukan lantaran kondisi Amirah yang sering drop akibat kekurangan susu. Kondisi tersebut juga mengakibatkan berat badan Amirah yang tak kunjung stabil.

“Selama enam bulan kondisinya itu ngedrop operasinya ditunda lagi, karena berat badannya belum mencapai sembilan kilogram,” kata Misnah.

2. Misnah dan Ahmad tak punya uang untuk penuhi biaya pengobatan

Dok. IDN Times/Misnah

Selain soal kondisi putrinya, Misnah dan Ahmad kesulitan untuk memenuhi biaya pengobatan Amirah lantaran beberapa kebutuhan yang tidak ditanggung oleh BPJS. Salah satunya kantong kolostomi.

“Buat ongkos kontrol rutin ke Harapan Kita, biasanya habis Rp250 sampai Rp300 ribu. Kalau dari sini saya naik motor, kalau enggak ada motor saya naik angkutan umum sampai ke Stasiun Rangkasbitung baru naik kereta ke Stasiun Palmerah,” kata Misnah.

3. Ahmad hanya berprofesi sebagai pengepul barang bekas

Proses pemilahan sampah di Rumah Pemulihan Material Waste4Change (youtube.com/Waste4Change)

Sementara itu, Ahmad mengaku, penghasilannya yang kecil dan juga tak menentu membuatnya sulit membeli kebutuhan-kebutuhan putrinya. Bahkan sepeda motor pun ia sudah jual untuk membantu biaya pengobatan Amirah.

“Paling tiga hari dari nyari-nyari botol bekas dapat Rp30 ribu, sementara kebutuhan Amirah seperti susu kaleng, popok dan lain-lain bisa mencapai Rp400 ribu,” katanya. 

Editorial Team