Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Bawa Kartu Pokemon, Penumpang Menangis Diperiksa di Bea Cukai Soetta
Penumpang di Bandara Soekarno-Hatta (IDN Times/Maya Aulia Aprilianti)

  • Seorang penumpang bernama JS diperiksa petugas Bea Cukai Soekarno-Hatta setelah kopernya berisi banyak kartu Pokémon dan stiker ditandai untuk pemeriksaan red line.
  • JS membantah tuduhan bahwa kartu Pokémon miliknya bernilai tinggi, menunjukkan bukti pembelian di pasar China, dan mengaku sempat menangis karena pemeriksaan berlangsung lama.
  • Pihak Bea Cukai Soetta menegaskan pemeriksaan dilakukan sesuai prosedur dan humanis, membantah adanya tangisan, serta memastikan JS tidak dikenakan bea masuk setelah menunjukkan invoice.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Tangerang, IDN Times - Seorang penumpang wanita berinisial JS (28) mengaku mendapatkan pengalaman tak menyenangkan saat diperiksa oleh petugas Bea Cukai Bandara Soekarno-Hatta, saat dia tiba dari penerbangan rute Guangzhou, China. Kejadian tersebut terjadi pada Rabu, 13 Mei 2026.

Saat tiba, ia dan sang suami pun menjalani prosedur seperti biasa, hingga saat mengambil koper di conveyor belt, kopernya pun langsung ditandai untuk masuk ke red line pemeriksaan petugas Bea Cukai. JS diminta membongkar semua koper, termasuk koper besar.

"Awalnya yang kena koper yang besar, keluarin (kartu) pokemon sama stiker. (petugas) dia menanyakan invoice, aku kasih invoice-nya. Terus dicek barangnya, enggak yakin dengan harga yang tertera di invoice," ujar JS, Jumat (15/5/2026).

1. Petugas mencurigai kartu pokemon di dalam koper besar

Ilustrasi kartu Pokemon (dok. Unsplash/ Erik Mclean)

Petugas juga sempat membuka koper kabin, dimana di dalamnya terisi 90 persen kartu Pokémon dan stiker yang dia akui merupakan oleh-oleh untuk sang anak. Saat itu, petugas menanyakan hal lain, seperti jadwal keberangkatan dan kepulangan, jadwal selama di sana, hingga tujuan dan keperluannya apa saja.

"Dia cek salah satu Pokémon harganya tinggi, aku tunjukin bukti foto kalau ada belinya memang di toko pasar, ada sekitar 3 atau 4 foto buat bukti," katanya.

2. JS membantah kartu tersebut bernilai ratusan juta rupiah

Ilustrasi mengoleksi kartu Pokemon (dok. Pexels/Caleb Oquendo)

JS pun membantah bila ada salah satu kartu Pokémon yang dibelinya seharga jutaan hingga ratusan juta rupiah. JS sempat menunjukkan foto saat beli di pasar.

JS mengaku, diperiksa oleh sekitar 2 sampai 4 orang. Saat itu, dia sempat menangis akibat pemeriksaan yang memakan waktu lama baginya sehingga ia merasa tertekan. Meskipun JS diperbolehkan membawa pulang kembali barang-barang setelah mendapat penjelasan dari petugas.

"Sudah dikasih invoice, tapi petugasnya ngecek di Internet harga kartunya, padahal saya beli di pasar China," ungkapnya.

3. Kepala Bea Cukai Soetta membantah JS menangis saat pemeriksaan

Ilustrasi kartu Pokemon (dok. Unsplash/Thimo Pedersen)

Saat dikonfirmasi, Kepala Kantor Cabang Utama Tipe C Bea Cukai Soekarno-Hatta Hengky Tomuan Parlindungan Aritonang mengatakan, prosedur pemeriksaan barang bawaan penumpang itu sudah sesuai ketentuan yang berlaku, serta humanis.

"Bahwa benar telah terjadi pemeriksaan barang penumpang tersebut, mengingat dalam pembawaannya terdapat barang berupa kartu Pokémon dalam jumlah yang banyak," ujar Hengky.

Menurutnya, dalam pembuktian apakah barang tersebut masuk dalam klasifikasi barang pribadi maupun barang dagangan, ada kemungkinan penumpang merasa adanya tekanan dalam kejadian tersebut. "Tapi sampai dengan pemeriksaan selesai tidak benar bahwa penumpang tersebut menangis,"katanya.

Seperti diketahui, lanjutnya, kartu Pokémon harganya bervariatif, mulai dari angka Rp 100 ribu hingga ada yang sampai Rp100 juta. "Untuk itu dalam rangka peningkatan penerimaan sesuai perintah pak Menteri, hal tersebut menjadikan atensi," kata Hengky.

Setelah pemeriksaan tersebut, kata dia, penumpang tersebut tidak dikenakan tagihan bea masuk atau pajak dalam rangka impor, setelah JS menunjukkan bukti invoice atas barang yang dibawanya.

Editorial Team