Serang, IDN Times – Nasib nahas menimpa Rijal, seorang pemudik asal Tangerang yang hendak menyeberang ke Lampung melalui Pelabuhan Ciwandan, Kota Cilegon. Barcode tiket yang ia beli dari lapak tiket atau calo di pinggir Jalan Lingkar Selatan (JLS) ternyata tidak bisa digunakan saat hendak mencetak tiket di loket pelabuhan.
Rijal mengatakan, masalah tersebut baru diketahui ketika ia bersama dua rekannya melakukan pemindaian barcode tiket. Dari tiga tiket yang dibeli, hanya dua tiket yang berhasil diproses, sementara satu tiket miliknya terus gagal saat discan oleh petugas.
“Enggak bisa discan, gagal terus,” kata Rijal saat ditemui di lokasi, Rabu (18/3/2026) dini hari.
Beli Mahal di Calo, Tiket Pemudik Ini Gak Bisa Dipakai Diduga Palsu

1. Padahal ia beli tiket dua kali lipat lebih mahal dari calo di pinggir jalan
Padahal, tiket yang dibelinya dari calo tersebut dibanderol jauh lebih mahal dibanding harga resmi. Jika harga normal tiket penyeberangan sepeda motor sekitar Rp45 ribu, Rijal mengaku harus membayar hingga Rp90 ribu untuk satu tiket.
Ia menuturkan, tiket tersebut dibeli di lapak tiket di pinggir Jalan Lingkar Selatan sebelum masuk ke area pelabuhan.
Rijal mengaku baru pertama kali mengalami kejadian tersebut, meski sudah bertahun-tahun mudik menggunakan jalur penyeberangan yang sama. Selama ini, ia juga kerap membeli tiket di lapak pinggir jalan dan tidak pernah mengalami masalah.
“Baru ini kita. Bertahun-tahun pulang kok, baru hari ini gagal,” katanya.
2. Beli tiga tiket, hanya satu tak bisa dipakai
Salah satu rekan Rijal juga mempertanyakan kegagalan tiket tersebut. Menurutnya, jika tiket mereka bermasalah seharusnya ketiganya tidak bisa digunakan.
“Ya kan tadi kalau kita dua ini tidak bisa, otomatis semua. Ini dua bisa, yang satu enggak,” ujarnya.
3. Petugas di lokasi mencoba membantu agar Rijal tak terus tertahan di pelabuhan
Setelah diketahui tiket tersebut tidak bisa dipindai, Rijal mengaku diminta menunggu oleh petugas untuk proses pengecekan ulang. Sementara, petugas berusaha membantu pemudik agar tetap bisa menyeberang di Pelabuhan Ciwandan.
“Disuruh nunggu katanya,” ucapnya.
Rekan Rijal memilih tetap menunggu bersama karena tidak tega meninggalkannya sendirian di pelabuhan. “Enggak bisa ditinggal lah, kasihan. Kita bertiga, dua bisa, satu enggak. Biasanya tiap tahun enggak begini, aman saja,” ujarnya.