Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
BPBD Serang Petakan Wilayah Rawan Kekeringan di Pancaroba dan Kemarau
Ilustrasi kemarau. (ANTARA FOTO/Arnas Padda)
  • BPBD Kota Serang memetakan wilayah rawan kekeringan dan menyiapkan distribusi air bersih sebagai langkah antisipasi menghadapi musim pancaroba serta potensi El Nino tahun ini.
  • Kawasan Serang Utara, terutama Kelurahan Sawah Luhur, Margaluyu, dan Banten, menjadi fokus utama karena masih rentan meski sebagian wilayah sudah terlayani jaringan PDAM.
  • Keterbatasan armada tangki membuat BPBD menggandeng Pemprov Banten dan PMI untuk menjaga suplai air bersih, sambil mendorong penambahan fasilitas guna mempercepat respons saat kemarau.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Serang, IDN Times - Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Serang mulai menyiapkan langkah antisipasi menghadapi potensi kekeringan pada musim peralihan musim (pancaroba) tahun ini. Langkah itu dilakukan dengan pemetaan wilayah rawan kekeringan dan menyiapkan skema distribusi air bersih.

Kepala Pelaksana BPBD Kota Serang, Diat Hermawan menjelaskan, peringatan dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) terkait potensi El Nino menjadi rujukan utama dalam langkah antisipasi tersebut. Pihaknya kini telah memegang data wilayah rawan agar penanganan di lapangan dapat dilakukan lebih cepat.

“Kami sudah pegang catatan wilayah yang berpotensi kekeringan,” kata Diat, seperti dikutip dari ANTARA, Minggu (3/5/2026).

1. Kawasan Serang Utara masih menjadi fokus, khususnya 3 kelurahan ini

ilustrasi air bersih (pexels.com/Samad Deldar)

Menurutnya, intervensi jaringan air bersih dari PDAM terbukti mampu menekan risiko di sejumlah daerah yang sebelumnya menjadi langganan kekeringan. Kendati demikian, kawasan Serang Utara masih menjadi fokus perhatian pemerintah, khususnya di Kelurahan Sawah Luhur, Margaluyu, dan Kelurahan Banten.

“Yang dulu banyak terdampak sekarang sudah terlayani. Tinggal beberapa titik di utara yang masih jadi fokus,” ujarnya.

Berdasarkan catatan BPBD, wilayah dengan dampak kekeringan paling parah pada periode sebelumnya berada di Kecamatan Kasemen yang mencapai angka 90 persen. Kondisi serupa juga sempat melanda beberapa titik di Kecamatan Serang, seperti Kelurahan Sukawana dan Cibendung.

Ilustrasi kemarau (commons.wikimedia.org/Houssain tork)

Untuk mengantisipasi lonjakan kebutuhan air bersih, BPBD mengandalkan distribusi darurat secara bertahap. Penyaluran bantuan akan dikirimkan langsung ke permukiman warga yang mengalami krisis air. Pada penanganan tahun sebelumnya, total air bersih yang disalurkan mencapai lebih dari 150 ribu liter selama kurang lebih tiga bulan.

Meski demikian, Diat mengakui bahwa keterbatasan armada operasional masih menjadi tantangan utama. Saat ini, BPBD Kota Serang hanya mengoperasikan satu unit mobil tangki, dengan kapasitas pengiriman tiga hingga empat kali dalam sehari.

Untuk menyiasati kendala tersebut, BPBD menggandeng berbagai pihak, termasuk Pemerintah Provinsi Banten dan Palang Merah Indonesia (PMI), untuk memastikan suplai air kepada warga tidak terputus. “Karena armada terbatas," kata Diat.

Menghadapi puncak musim kemarau tahun ini, BPBD Kota Serang akan menerapkan pola penanganan serupa sembari mendorong penambahan fasilitas armada darurat. Upaya ini diharapkan dapat mempercepat respons pemerintah daerah apabila kekeringan meluas ke wilayah yang belum terjangkau akses air perpipaan.

Editorial Team