Aceh, IDN Times - Rabu, 26 November 2025, tiba-tiba saja aliran listrik di Aceh Raya padam, tak lama sinyal telekomunikasi hilang. Bagi sebagian orang, hal itu adalah hal remeh temeh, dengan anggapan tak akan lama.
Namun, tidak bagi petugas di tower Air Traffic Control (ATC) AirNav Banda Aceh. Di ruang itu, listrik dan telekomunikasi tidak boleh mati. Jika ada pemadaman listrik, genset jadi pilihan.
Saat suara genset mulai bergemuruh menandakan ia telah bekerja, sementara sinyal gawai yang biasanya bersahut-sahutan kini sepi. Hal tersebut pun membuat petugas tower berupaya menghubungi petugas unit di Lhokseumawe dan Takengon melalui sinyal gawai, namun nihil.
Saat itulah, pada 27 November 2025 dengan teknologi satelit yang telah dimiliki sebagai pengendali ruang udara, dimanfaatkan untuk menghubungi 2 unit tersebut. Ternyata, kedua unit tersebut diterjang banjir bandang yang cukup tinggi, hingga petugas yang bertugas di unit tersebut pun terputus dari akses luar.
Untuk menangani hal tersebut, AirNav Indonesia Cabang Banda Aceh pun langsung melakukan rapat dan menunjuk Andica, personel unit ACO (aeronautical communication officer) sebagai orang yang dikirim untuk menangani permasalahan di Lhokseumawe.
Bimbang bukan main rasanya bagi Andica, bukan karena enggan ditugaskan, melainkan karena ia memiliki anak yang baru berumur 7 bulan yang harus ia tinggalkan di tengah kondisi listrik padam. Padahal, sang istri masih harus menyusui dengan cara dipompa.
"Dengan kondisi Banda Aceh yang masih padam listrik dan juga jaringan belum terkoneksi dengan baik, saya harus bolak balik charge alat pumping dan lampu emergency ke kantor yang saat itu ada genset, juga air saya menimba manual karena kami kehabisan air," kata Andica saat ditemui IDN Times di Tower AirNav Indonesia Cabang Banda Aceh, Rabu (31/12/2025).
