Tim Ekspedisi Patriot mulai berangkat dari Bandara Soekarno-Hatta (IDN Times/Maya Aulia Aprilianti)
Wamen Vivo menuturkan, dari 2 ribu orang yang terlibat untuk disebar ke 154 wilayah transmigrasi, terdapat 42 guru besar, 358 lulusan S-3 doktoral, 846 lulusan S-1 dan S-2, dan 754 orang merupakan mahasiswa S-1 yang terdiri dari multidisiplin keilmuan dari 7 universitas ternama di Indonesia dan juga 17 universitas daerah.
"Jadi diharapkan, dengan mereka diterjunkan ke kawasan transmigrasi untuk melakukan riset, penelitian dan pemetaan wilayah, tentang potensi ekonomi yang bisa dikembangkan untuk pemberdayaan masyarakat dan pengembangangan produk unggulan dikawasan transmigrasi," tuturnya.
Selain itu, penelitian juga ditujukan untuk mencari kebutuhan primer dari masyarakat setempat. Kebutuhan tersebut, akan disampaikan dan diajukan untuk dicarikan solusi perbaikannya.
"Misalnya infrastruktur apa, lalu aspek Pendidikan, Kesehatan itu apa, nanti ditulis detail secara ilmiah dan logis, lalu kemudian kita ambil beberapa hal yang nanti bisa jadi rekomendasi kebijakan di dalam buat program-program kementerian transmigrasi selanjutnya," ungkapnya.
Apalagi, lanjut Wamen Vivo, di tahun 2026 mendatang pihaknya akan menerjunkan Transmigrasi Patriot yakni para mahasiswa S-2 dan S-3 yang dibiayai negara untuk melihat hasil dari Tim Ekspedisi Patriot saat ini. Diharapkan, Tim Ekspedisi Patriot ini benar-benar bisa bekerja dan memberikan hasil untuk produk data, informasi yang valid, yang bisa diakurasi di lapangan dalam rangka riset, pemetaan ekonomi, sosial budaya.
"Nanti bisa dikembangkan kementerian lain dalam penataan pembangunan nasional di kawasan transmigrasi," jelasnya.