Comscore Tracker

Suara Buruh, Terhempas PHK dan Tsunami Pandemik 

Para buruh tak hanya sekedar angka. Ini suara mereka

"Tiba-tiba perusahaan bilang ada pengurangan karyawan karena sudah gak sanggup bayar. Akhirnya, ya saya kena juga"

- Ahmad Syahroni, buruh Tangerang -

PHK atau pemutusan hubungan kerja menjadi momok yang menghantui pekerja alias buruh, terutama di tengah pandemik COVID-19. Hampir semua sektor kena. Untuk kali pertama, pengusaha dan buruh merasakan hantaman begitu dahsyat sejak Presiden Joko "Jokowi" Widodo mengumumkan kasus pertama COVID-19 di Indonesia, Maret 2020. 

Dalam sebuah diskusi online pada 27 Maret 2021, Sekretaris Jenderal (Sekjen) Kementerian Ketenagakerjaan Anwar Sanusi mengungkap, 29,4 juta orang terdampak pandemil Covid-19. "Baik mereka yang di-PHK, dirumahkan, dikurangi jam kerjanya. Ini situasi yang sangat susah sebenarnya," kata Anwar.

Lantas pertanyaannya, apa yang terjadi pada buruh yang terdampak COVID-19 itu? Tak sekedar angka, para buruh terus berjibaku dan melawan. Segala cara mereka tempuh untuk membuat dapur tetap mengebul.

IDN Times Hyperlocals berusaha mengangkat suara-suara para buruh yang terkena dampak COVID-19 dalam sebuah kolaborasi. 

1. Mereka harus numpang makan kepada orangtua hingga mengirit pengeluaran

Suara Buruh, Terhempas PHK dan Tsunami Pandemik IDN Times/Maya Aulia Aprilianti

Msih segar dalam ingatan Ahmad Syahroni (30) ketika pabrik tempatnya bekerja mengumumkan ada pengurangan karyawan, Januari 2020. "Kita semua sudah pasrah saja waktu itu, tapi tetap berharap bukan saya," kata Ahmad bercerita pada Sabtu (11/12/2021).

Doa dan harapan Ahmad tak terkabul. Dia terkena PHK bersama puluhan rekannya yang lain pada April 2020.  "Tiba-tiba perusahaan bilang ada pengurangan karyawan, karena udah gak sanggup bayar. Akhirnya ya saya kena juga," jelasnya.

Menurut Ahmad, pabrik kertas dan plastik tempatnya bekerja tersebut sebetulnya sudah mulai goyah sejak September 2019. Kala itu, manajemen sudah menerapkan sistem pengurangan gaji untuk menekan angka produksi. Hampir seluruh karyawan terkena dampak tersebut.

Singkat cerita, Ahmad menjadi pengangguran setelah terkena PHK. Dia mencari-cari pekerjaan di pabrik, namun tak kunjung ada lowongan pekerjaan. Sulitnya pekerjaan dia rasakan betul hingga Agustus 2020, dia masih menganggur.

Untuk kebutuhan sehari-hari, dia makan numpang sama orangtua atau di rumah teman. "Saya malu sama orangtua," kata dia lirih. 

Selama menganggur itu, Ahmad kerap nongkrong di tempat usaha sang kawan, sebuah bengkel dan tambal ban. Saat nongkrong, dia pun kerap melihat temannya saat membetulkan sepeda motor yang rusak hingga menambal ban.

Melihat Ahmad yang menganggur, kawannya pun memberikan pekerjaan untuk menambal ban di bengkelnya. "Ternyata kalau benerin motor, saya susah ngertinya. Kalau tambal ban saya bisa belajar," tuturnya.

Usaha Ahmad untuk belajar menambal ban, gak sia-sia. Dari bantuan temannya, Ahmad bisa memiliki uang. "Lumayan lah, sistemnya bagi hasil aja, setiap nambal ban saya dapat Rp5 ribu," ungkapnya.

Dalam sehari, Ahmad bisa menambal 20 motor mulai pagi hingga dini hari. "Alhamdulillah walau cuma tukang tambal ban di bengkel temen, tapi seenggaknya lebih tenang dibandingkan menganggur," kata dia. 

Pekerja lain, Adriani, juga tengah merasakan pahitnya gaji dipotong karena pandemik COVID-19. Sehari-hari, perempuan 27 tahun itu bekerja sebagai pegawai toko busana di sebuah mal besar di pusat Kota Makassar.

"Gaji kurang karena untuk jam masuk kerja dikurangi," kata Adriani yang diwawancarai melalui WhatsApp, Jumat (10/12/2021). 

Meski demikian, Adriani tetap masih merasa beruntung tak sampai terkena PHK. Meski, kini dia harus bekerja lebih ekstra keras untuk menambah insentif. 

"Mau tidak mau harus irit dan bersyukur saja apa yang kita dapat," kata Adriani.

Adriani sempat terpikir untuk banting setir untuk membuka usaha sendiri asalkan ada pemasukan tambahan. Tapi keinginan itu tak kesampaian lantaran dia tak punya modal. Meski begitu, dia tetap bersyukur karena tak semua orang bisa bekerja di masa sulit ini.

"Ya disyukuri saja karena kita sebagai karyawan di mall hanya bisa sabar saja dengan pandemik ini," katanya.

Baca Juga: Cerita Pekerja Mal saat Pandemik: Jam Kerja Dikurangi, Gaji Dipangkas

Buruh Ngatino: Hidup hancur, ribut melulu dengan istri

Suara Buruh, Terhempas PHK dan Tsunami Pandemik Massa buruh melakukan demo menuntut kenaikan UMP 2022 pada Rabu (8/12/2021). (IDN Times/Irfan Fathurohman)

PHK terasa kian berat ketika buruh sudah berkeluarga. Ini dirasakan betul oleh Ngatino Anjar. 

Di usia separuh baya, Ngatino merasakan dampak pandemik COVID-19 pada penghasilan. Selama 21 tahun terakhir, dia bekerja di PT SIA-- sebuah perusahaan jasa tekstil di Kota Tangerang.

"(Hidup saya hancur), bukan ancur lagi, ini mah udah ribut mulu sama istri, karena mau buat ini (itu) kaga bisa, mau bikin itu kaga bisa, ribut lagi, jadi numpuk masalahnya," kata Ngatino kepada IDN Times.

Setelah April 2020, Ngatino dan beberapa pekerja lainnya dipaksa mengurangi hari kerja oleh perusahaan. Akibatnya, dia hanya bisa mendapat pemasukan rata-rata 500 ribu dan terbesar bisa sampai Rp800 ribu.

"Dari April 2020 sampai saat ini tiap bulannya kerja hanya empat sampai delapan hari per bulan," kata buruh 48 tahun itu.

Ngatino bercerita, semenjak dipaksa bekerja dengan skema seperti itu. Belasan rekannya terpaksa mengundurkan diri karena tidak kuat. "Dan mereka dikasih uang jasa Rp10 juta," kata dia.

Kata Ngatino, perusahaan pun memberi alternatif solusi jika ingin kembali bekerja normal mereka yang karyawan tetap harus mengundurkan diri terlebih dahulu. "Maunya perusahaan seperti itu, kalau mau dikasih 10 juta, silakan (mengundurkan diri).  Bisa masuk lagi (melalui) outsourcing gitu," ungkapnya.

Padahal jika mengikuti aturan, kata Ngatino, buruh seperti dia bisa mendapat pesangon hingga Rp160 juta. "Saya kerja 21 tahun. Kalau sesuai aturan bisa dapat Rp160 juta pesangonnya. Mereka hanya menyediakan Rp10 juta untuk satu orang," kata dia.

Kini, dia dan puluhan karyawan lain harus terus memutar otak dan pontang-panting mencari penghasilan tambahan untuk menyambung hidup. Di saat dia tidak bekerja ke pabrik, dia pun bekerja sebagai ojek.

"Kalau saya sendiri sekarang ojek online. Ngojek rata-rata dapat Rp100-150 ribu. Ya dicukup-cukupin lah," kata dia.

Buruh lain yang ikut menyuarakan ketidakadilan yang dia terima saat terdampak pandemik adalah Apriyanto (33). Dia merupakan korban PHK salah satu media lokal di Balikpapan, Kalimantan Timur (Kaltim). 

Pria yang berprofesi sebagai wartawan itu tak bekerja selama 8 bulan, lamanya. Terhitung sejak 10 Desember 2021, dia menganggur dan bertahan dengan dana simpanan hasil dari kerja kerasnya sebelumnya. 

"Dan ini, jika dihitung lagi, pas setahun di-PHK dari sana," ujarnya, saat dihubungi IDN Times, Sabtu (11/12/2021).

Apri menceritakan, sebelum PHK melanda,  memang ada persoalan gaji. Dia menyebut, perusahaan media itu sempat memotong secara sepihak, gaji karyawan hingga sebesar 40 persen.

Tak mau tinggal diam, Apri bersama rekan-rekannya bergerak dan mengambil langkah dengan mogok kerja. 

Yang membuat mereka di-PHK pun cukup miris, yakni karena mencoba bersuara lewat mogok kerja, mereka pun ada yang kena PHK dan dianggap mengundurkan diri.

"Itu semua secara sepihak. Kasihan sebenarnya dengan teman-teman juga apalagi kondisi tidak memungkinkan seperti ini," tutur dia.

Meski demikian, dia tidak menyesali aksi mogok kerja yang berujung PHK itu. Apri yakin masih ada tempat lainnya yang pasti membutuhkan dirinya.

Selama di rumah juga, Apri banyak belajar. Dia yang kini menjabat sebagai Ketua RT di Kariangau, Balikpapan Barat menjadi lebih banyak belajar dan mengembangkan diri di lingkungan untuk berorganisasi. 

Baca Juga: Sempat Jadi Tunakarya, Apri Berjuang dengan Dana Darurat Seadanya 

Baca Juga: Cerita Ngatino: Buruh Kota Tangerang Gaji Dipotong karena Pandemik 

Mereka yang muda dan menolak untuk menyerah

Suara Buruh, Terhempas PHK dan Tsunami Pandemik I Putu Gede Wijaya menekuni hobinya dan kini menjadi bisnis. (Dok. IDN Times / istimewa)

Tak hanya buruh yang berumur terkena PHK. Salah satu millennial asal Bali juga harus menelan pil pahit ketika wisatawan tak lagi menyerbu Pulau Dewata. 

I Putu Gede Wijaya (28) menjadi saksi bagaimana sektor pariwisata tergerus karena pandemik. Selama 2,5 tahun, dia bekerja sebagai butler service atau personal assistant untuk tamu di sebuah vila di Uluwatu. Hingga Mei 2020, pekerjaan sirna.

Pemuda adal Mambal, Kabupaten Badung mengungkap, di masa-masa terakhirnya bekerja, masih ada beberapa tamu yang datang ke vila tempatnya bekerja. 

“Kami masih support di bagian kebersihan, front desk di reception itu. Mei sudah selesai total. Juni, Juli, Agustus saya nggak ada pekerjaan sama sekali,” ungkap Putu pada Jumat (10/12/2021).

Dia harus kehilangan pendapatan sekitar Rp9 juta setiap bulannya saat itu. Besaran kisaran upah tersebut merupakan akumulasi gajinya bekerja dan juga uang tip dari para tamu yang dia handle selama sebulan. 

Satu hal yang membuat berat perjuangan seorang I Putu Gede Wijaya adalah dia kena PHK itu justru ketika sedang merawat sang ibunda yang sempat sakit dan terkena stroke. Di Januari 2020, sang Bunda dirawat selama 14 hari. 

"Abis. Tabungannya untuk sang ibu, hingga ibunya dinyatakan sehat kembali," kata . 

Dia berusaha mengumpulkan uang lagi, tapi kesulitan karena pandemik masih mendera. Sektor pariwisata masih terseok-seok berarti pekerjaan sulit didapat. Diapun harus menerima dengan ikhlas sebagai pengangguran selama beberapa bulan. 

Ia berusaha menyambung hidup dengan mencoba berbisnis makanan dan minuman. Namun bisnis tersebut tidak bertahan lama karena modalnya tidak cukup kuat dan tidak sesuai dengan passion.

Ia kembali teringat akan kondisi ibunya dan adiknya, menyadari besarnya tanggung jawab yang diemban. Putu Gede hanya bisa menekuni hobinya saja, yakni soal tanaman. Ia berusaha untuk berjualan tanaman hias. Saat itu tanaman anggrek dengan sistem Cash On Delivery (COD). Ia juga bereksperimen pasar dan optimistis bisa bangkit dari keterpurukan tersebut.

“Jadi di situ saya mulai melihat peluang bahwa kita kayaknya bisa struggle nih di pandemik ini. Karena pandemik itu kan orang-orang pada di rumah. Lagi nggak ada hobi, lagi kurang kegiatan lah. Mungkin kami bisa ngasih mereka sesuatu biar mereka tetap di rumah. Tetap ada kegiatan di rumah. Tanamanlah salah satu pilihannya,” jelasnya.

Kini, ia merasakan sejumlah perbedaan ketika bekerja sebagai butler dan berwirausaha sendiri, terutama soal waktu. Menurutnya ketika ia bekerja sebagai butler, ia harus berkorban waktu lebih baik untuk keluarga maupun teman-temannya.

Dengan usahanya kali ini, ia bersyukur karena bisa memulihkan kondisi ekonomi keluarganya di tengah pandemik. Ke depannya ia memutuskan melebarkan bisnis ini dan membuat sejumlah event untuk menjaga eksistensi pelaku usaha tanaman hias.

Buruh lain yang juga tak mau menyerah adalah Nopian Khaidir. Pemuda 23 tahun itu harus berhenti dari pekerjaan sehari-harinya saat restoran tempatnya bekerja mengurangi karyawan.

Bersama kerabatnya bernama Muhammad Ardiansyah (24), Nopian memutuskan untuk berjualan kopi keliling di sekitar Kota Medan. "Terpikir usaha ini semenjak di-PHK. Untuk menyambung hidup, dan meningkatkan skill berjualan," sambungnya. 

Dikatakan Nopian, sejak berjualan kopi keliling, penghasilan yang didapat cukup besar. Meskipun terkadang hari dan cuaca juga menjadi penentu hasil penjualan. Nopian bisa mendapatkan Rp300 ribu per hari. "Kami hanya promosi brand sendiri @Kopilihsayang. Kami jual Rp10 ribu per botol," tuturnya.

Nopian berujar, untuk penamaan merk produk jualannya, mereka menyebut @Kopilihsayang di akun media sosial Instagram.

Namun saat ini, penjualan masih dilakukan secara manual dengan menjajakan jualan di sekitar Lapangan Merdeka, Medan. Adapun jenis minuman yang dijual yaitu, vanila kopi, cokelat hazelnut, redvelvet dan taro.

"Tapi yang pasti, bekerja dengan orang lain dan usaha sendiri punya pengalaman berbeda dalam hal tantangannya. Kalau jualan bisa merasakan dari hasil usaha sendiri pendapatannya," ucapnya. 

Saat ini, Nopian berkeinginan punya usaha sendiri agar nantinya dapat membantu orang lain dengan membuka lapangan pekerjaan baru. Menurutnya, selama masa pandemik COVID-19, anak muda memiliki kesempatan untuk mengembangkan ide kreatif.

"Anak muda harus banyak bergerak mencari ide kreatif untuk menghasilkan uang," katanya. 

Baca Juga: Kena PHK saat Pandemik, Nopian Bangkit Jadi Penjual Kopi Keliling

Baca Juga: Menyehatkan Dunia dan Menyelamatkan Masa Depan dengan Pertanian

Demi anak istri, buruh ini rela jadi kuli bangunan hingga berjualan cilok

Suara Buruh, Terhempas PHK dan Tsunami Pandemik Gondrong sapaan akrabnya jual Cilok setelah kena PHK di Lombok Utara IDN Times/Ahmad Viqi

Kisah perjuangan lain datang dari seorang buruh di Nusa Tenggara Barat (NTB). Namanya, Syarif Hidayatullah. 

Dia terdampak pandemik ketika dia menjadi pegawai Free Dive Flow di Gili Air Desa Gili Indah. Gajinya kala itu sebesar Rp6 juta dalam satu bulan.

Buruh yang kerap disapa Gondrong itu bercerita, semua musibah itu datang ketika tidak ada tamu yang berkunjung ke Gili. "Awalnya kita tidak tahu kalau ada COVID-19 di Lombok Utara," cerita Gondrong, Jumat (10/12/2021).

Sebelum PHK, Gondrong sempat dipindahposisikan ke bagian cleaning service di anak perusahaan Free Dive Flow di Gili Air. Dari Rp6 juta, penghasilan Gondrong langsung "terjun payung" menjadi Rp1 juta saja per bulan. 

Uang sebesar Rp1 juta yang diterima itu lantas tak akan mencukupi kebutuhan anak dan istrinya. Apalagi, sang istri pun kena PHK di salah satu tempat makan yang ada di Gili Trawangan. "Saya akhirnya putuskan untuk tidak lagi bekerja di Gili Air," kata Gondrong.

Setelah empat bulan tak bekerja di bawah perusahaan Free Dive kata Gondrong, dia memutuskan untuk pindah haluan dan bekerja sebagai kuli bangunan harian. "Saya juga kerja sebagai mekanik Air Condition (AC). Waktu itu gajinya Rp100 ribu per hari. Tapi tidak menentu kan," tuturnya.

Memasuki awal tahun 2020 lalu, dia memilih berhenti menjadi seorang kuli bangunan karena pekerjaan itu terlalu mengandalkan jumlah proyek yang akan dibangun. "Saya memilih jualan cilok," katanya. 

Berjualan cilok pun tanpa tentu jumlah pemasukan. Keadaan semakin menantang setelah anak keduanya lahir. "Jadi saya harus pangkas kebutuhan sehari-hari. Yang tadi Rp200 ribu per hari, sekarang jadi Rp50 ribu, itu pun kalau banyak cilok yang laku," tuturnya.

Di sisi lain, dia juga terpaksa mengajukan relaksasi setoran rumah dalam jangka waktu dua tahun. Sejak awal tahun 2020 lalu, dia sama sekali tidak membayar setoran rumah. "Sekarang ini mau 2022. Besok sudah harus setor. Kan waktunya sudah dua tahun," katanya.

Dia mengaku bingung karena penjualan cilok pun tak bisa menutupi kebutuhan, termasuk membayar cicilan rumah sebesar Rp1 juta per bulan. 

Dia dan istri pernah mengajukan bantuan ke Pemerintah Kabupaten Lombok Utara dengan harapan bisa meringankan beban biaya kehidupan rumah tangganya dan bisa menambah modalnya berjualan cilok.

"Tapi apa? Sampai sekarang tidak ada keluar nama saya. Apalagi nama istri saya," katanya.

Kini dia sangat kebingungan untuk membangun perekonomian keluarganya seperti awal tahun 2018. Sekarang, katanya, harapan satu satunya pandemi COVID-19 segera berakhir dan kehidupan wisata di tiga Gili --Trawangan, Meno dan Air--  kembali normal.

"Saya juga harapkan bantuan dari pemerintah, saya juga harapkan ada uang saku yang diberikan perusahaan setelah saya kena PHK," kata Gondrong.

Baca Juga: PHK Akibat Pandemik, Terpaksa Jadi Buruh Bangunan hingga Jual Cilok

Supervisor jadi pedagang sayur, GM maskapai berjualan ayam goreng

Suara Buruh, Terhempas PHK dan Tsunami Pandemik Infografis pekerja terdampak COVID-19 (IDN Times/Mardya Shakti)

PHK tak hanya melanda buruh di level bawah, tapi juga mereka yang ada di posisi penting.

Herdi, misalnya.  Sebelum kena PHK, dia merupakan supervisor atau penyelia di restoran terkenal di Kota Bandar Lampung. Di perusahaan itu, Herdi telah bekerja kurang lebih selama 8 tahun.

"Saya ingat betul, Maret 2020 awal pandemik masuk dan restoran sudah mulai sepi, karena mulai ada pembatasan-pembatasan. Dari situ, pendapat mulai berkurang. Saya sebagai atasan dapat info dari pusat, kalau restoran ini mau ditutup permanen," ujarnya, kepada IDN Times, Sabtu (11/12/2021).

Kekhawatiran Herdi menjadi kenyataan. "Jangankan pembeli, orang sekadar berkunjung ke restoran saja itu tidak. Mei 2020, baru akhirnya kita tutup total," sambung dia.

Berstatus level supervisor, Herdi pun tidak serta merta langsung meninggalkan tempatnya bekerja begitu saja. Itu lantaran harus mengurus aset-aset restoran sebelum akhirnya di November 2020 bener-benar menerima surat keputusan PHK.

Kendati beruntung mendapatkan dana pesangon dari pihak perusahaan, ia mengatakan nilainya tidak begitu besar. "Dibilang pesangon sebenarnya kurang pas, mungkin tepatnya dana terima kasih dari perusahaan," katanya.

Di tengah guncangan hidup ini, orang pertama mengetahui dirinya kini tak lagi bekerja di restoran terkenal itu adalah sang istri. Saat tahu, sang istri terkejut dan terpukul, tapi memahami kesulitan saat ini. 

Sang istri jugalah yang kemudian menyemangati Herdi, termasuk untuk memulai usaha baru. Warga Kelurahan Way Laga, Kecamatan Sukabumi, Bandar Lampung itu sadar bahwa dia tidak bisa diam dan bersantai. Di rumah, ada istri dan anak yang harus dinafkahi. Dapur harus mengebul. 

"Akhirnya, saya mutusin untuk jualan berdagang sayur-sayuran," imbuhnya.

Dia tinggalkan kenyamanan bekerja dengan pakaian rapi, dasi, dan tunjangan fasilitas saat menjadi supervisor. Dia jug menanggalkan gengsi dan mencoba mengambil hikmah dari semua. "Dan sadar kalau memang ini yang harus saya jalanin sekarang untuk menghidupi keluarga," ucap dia.

Memulai dengan berjualan sayur secara online dan memanfaatkan koneksi semasa bekerja di bidang kuliner, perlahan namun pasti Herdi kini berhasil memasok kebutuhan sayur mayur di sejumlah rumah makan ataupun restoran di sekitaran Kota Bandar Lampung. Ia mengusung brand 'Berkah Fresh H&D'.

Apakah langsung sukses? Tidak.

Herdi mengaku sempat kesulitan memasarkan barang jualan saya. Tapi berkat bantuan teman-teman, kata dia, sekarang omzetnya lumayan bisa untuk nafkahi keluarga. 

Cerita lain datang dari Fery Rizkiawan. Pandemik pun memaksanya meninggalkan jabatan sebagai general manager sebuah maskapai ternama di tanah air. 

Setelah banyak melihat karyawan lain diberhentikan di tengah jalan, Fery kemudian berinisiatif menjawab tawaran perusahaannya yakni mengambil program pensiun dini.

Sesaat sebelum pensiun dini itu, Fery menjabat sebagai General Manager (GM) area Samarinda. "Kemarin perusahaan ada penawaran pensiun dini, ini opsi yang fair buat
saya. Saya ambil dan menjalankan sesuatu yang baru," kata Fery, Rabu
(10/11/2021).

Dia tidak mau lama menganggur. Fery memutuskan untuk pulang ke kota di mana dia
tumbuh besar, Kota Surabaya. Dia pun memulai usaha sendiri.

"Saya melihat yang jadi ‘bintang utama’ selama pandemi ini adalah makanan dan ekspedisi," kata Fery.

Fery memulainya dengan membuka gerai ayam goreng yang dia beri nama
Atom Chicken. Sedangkan, bisnis ekspedisinya sudah 90 persen siap beroperasi. "Sementara ini saya fokus mengurus Atom Chicken dulu, sampai anak-anak bisa ditinggal," kata alumnus SMAN 6 Surabaya tersebut.

Atom Chicken sudah mulai buka sejak 3 November 2021 dengan 5 orang karyawan. Sebagai modal awal, dia patungan bersama dua orang temannya dan merogoh kocek hingga Rp30 juta.

Merintis usaha tentu saja tidak mudah. Namun, dia tidak mudah menyerah. Baginya, bisnis yang digeluti saat ini adalah tantangan untuk diri sendiri. Selain itu, ada perasan lega karena dia bisa membuka lapangan kerja baru.

Dia mengungkap, 80 persen karyawan yang dia pekerjakan merupakan korban terdampak pandemik. "Mereka kehilangan pekerjaan. Posisi kami sama, motivasinya sama untuk maju, sama-sama membangun dari awal. Saya optimistis bisnis ini bisa jalan karena memang usaha kuliner tetap akan dicari orang," kata Fery. 

Baca Juga: Cerita Eks GM Maskapai Pensiun Dini, Buka Bisnis Ayam Goreng

Baca Juga: Korban PHK, Dulu Supervisor Restoran Kini Penjual Sayuran Omzet Jutaan

Jangan takut alih profesi dan jangan pernah menyerah

Suara Buruh, Terhempas PHK dan Tsunami Pandemik Kisah inspiratif Herdi Kusama Wijaya, mantan supervisor restoran di Bandar Lampung yang alih profesi penjual sayuran. (IDN Times/Istimewa)

Alih profesi menjadi pilihan sejumlah pekerja ketika tidak lagi bekerja di kantor, perusahaan, atau pabrik karena terdampak pandemik COVID-19. Dita Laprisa, pekerja kantoran di Palembang, Sumatra Selatan (Sumsel), memilih banting setir setelah perusahaan tempatnya bekerja tutup.

"Sebelumnya saya bekerja di perusahaan di bidang konsultan kontraktor BUMD di Sumsel. Namun sejak ada perubahan kebijakan Kawasan Ekonomi Khusus Tanjung Api-Api (KEK TAA), perusahaan mulai goyah. Ditambah pandemik, akhirnya menimbulkan PHK hingga kantor pun tutup," ungkap Dita saat dibincangi IDN Times, Kamis (9/12/2021).

Dita terkena PHK pada April 2021. Terbiasa bekerja kantoran, Dita kemudian terpikir untuk meneruskan usaha kerajinan tangan yang telah dirintis kakak sepupunya. "Bisnis handicraft ini sebenarnya milik kakak saya sebagai sambilan bisnis interior. Karena sudah tidak bisa handle, akhirnya saya ambil alih beberapa waktu setelah saya PHK," ujar dia.

Menurutnya, tidak ada perbedaan signifikan saat pertama kali beralih profesi dari pekerja kantoran menjadi pengusaha. Pasalnya,  diakui Dita, dia tetap bisa menekuni hobi yang sama dalam ranah desain grafis.

"Ketika saya kerja kantoran di bagian desain, menekuni usaha juga bagian desain. Saya juga mendesain sendiri sebagian besar produk dan karyanya. Bisnis ini saya rasa dekat dengan kebudayaan," ungkap dia.

Tak sendiri, Dita juga merangkul para pengrajin. Bersama pengrajin, kayu, jerami, hingga rotan bisa didesain dan diolah menjadi berbagai macam jenis dan bentuk. Mulai dari sendok, tas, meja, hingga kursi.

Untuk sendok, Dita menjual harga satuan Rp20.000 dengan minimal pembelian satu lusin. Sedangkan kerajinan seperti meja atau kursi dibanderol Rp500 ribu per item.

Usahanya tak sia-sia. Sebulan, dia bisa meraup omzet hingga Rp7 juta. "Meski belum sebesar pendapatan saat kerja, tapi cukup untuk menambah pemasukan," jelas dia.

Beralih profesi memang berat. Hal itu diakui sejumlah buruh dan pekerja di atas. Herdi, misalnya, mengakui bahwa salah satu tantangan terberat adalah gengsi. 

"Terutama, saya bilang gengsi. Ini semua terjadi tiba-tiba tanpa dipersiapkan," kata dia. 

Meski demikian, Herdi mengajak para pekerja dan karyawan perusahaan yang bernasib sama-- baik PHK ataupun dirumahkan sementara-- untuk sama-sama bangkit dari keterpurukan di tengah ketidakpastian akhir cerita pandemik COVID-19 di Tanah Air.

"Pekerjaan boleh berhenti, bukan berarti dunia juga ikut berhenti. Tuhan selalu kasih jalan buat mereka yang mau berusaha dan berjuang, jangan pernah menyerah," kata Herdi.

Baca Juga: PHK Berujung Berkah, Warga Palembang Beralih Desain Kerajinan Tangan

Baca Juga: Korban PHK, Dulu Supervisor Restoran Kini Penjual Sayuran Omzet Jutaan

Apakah nasib kita akan terus seperti

sepeda rongsokan karatan itu?

o… tidak, Dik!

 

kita akan terus melawan

waktu yang bijak bestari

kan sudah mengajari kita

bagaimana menghadapi derita

kitalah yang akan memberi senyum

kepada masa depan

 

jangan menyerahkan diri kepada ketakutan

kita akan terus bergulat

(Penggalan Puisi untuk Adik karya Widji Thukul)

Baca Juga: 5 Puisi Widji Thukul untuk Memperjuangkan Hak Buruh

Ini merupakan tulisan kolaborasi dengan tim penulis di beberapa wilayah Tanah Air.

Tim penulis: Maya Aulia Aprilianti, Ashrawi Muin, Masdalena Napitupul, Muhammad Iqbal, Ayu Afria Ulita Ermalia, Ahmad Viqi, Tama Wiguna, Zumrotul Abidin, Riani Rahayu, Rangga Erfizal.

Topic:

  • Ita Lismawati F Malau

Berita Terkini Lainnya