Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Jalan Ciputat Macet Parah, Warga Tawarkan Jasa Foto Macet Rp100 Ribu

Kota Tangerang Selatan
2 min read
Jalan Ciputat Macet Parah, Warga Tawarkan Jasa Foto Macet Rp100 Ribu
Pasar Ciputat (IDN Times/Muhammad Ikbal)
  • Warga menyindir kemacetan, galian jalan, kendaraan mogok, ranjau paku, dan pelanggaran arah di Ciputat lewat jasa foto satir seharga Rp100 ribu per foto.

  • Unggahan Threads @elvierajoesha menarik ribuan tanda suka, ratusan komentar, dan lebih dari seribu kali dibagikan ulang sebagai ekspresi keresahan pengguna jalan.

  • Peneliti Juno Nugroho meminta pemerintah menanggapi satire ini melalui perbaikan jalan, manajemen lalu lintas, koordinasi proyek infrastruktur, dan penegakan hukum yang konsisten.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Tangerang Selatan, IDN Times – Kemacetan, galian jalan yang tak kunjung usai, hingga kendaraan bermasalah di kawasan Ciputat, Kota Tangerang Selatan (Tangsel), menjadi bahan satire di media sosial.

Fenomena tersebut muncul melalui unggahan akun Threads @elvierajoesha yang menawarkan jasa memotret berbagai kondisi lalu lintas dan infrastruktur di kawasan Ciputat dengan tarif Rp100 ribu per foto.

Unggahan itu dikemas sebagai humor dengan menawarkan sejumlah objek yang dianggap familiar bagi pengendara di kawasan tersebut.

  1. 1. Dari macet di flyover hingga motor kena ranjau paku

    Beberapa objek yang ditawarkan antara lain kemacetan di atas flyover Ciputat, truk mogok di depan Selapa, serta antrean kendaraan di depan putaran kompleks Universitas Indonesia (UI). Ada pula tawaran memotret sepeda motor yang mengalami ban kempes akibat ranjau paku.

    Tak berhenti di situ, unggahan tersebut juga menawarkan foto kondisi galian jalan rutin di depan Selapa, antrean kendaraan di SPBU dekat pasar, hingga pengendara yang melawan arah di bawah flyover Ciputat.

    Bahkan, terdapat promo khusus untuk foto pengendara yang melawan arah di bawah flyover Ciputat bagi 100 pemesan pertama.

  2. 2. Direspons ribuan warganet

    Ilustrasi Macet.
    Ilustrasi Macet. (IDN Times/Anjani Asra)

    Unggahan bernada satire tersebut mendapat respons cukup besar dari warganet. Unggahan itu disebut telah memperoleh ribuan tanda suka, ratusan komentar, serta dibagikan ulang lebih dari seribu kali.

    Humor tersebut menjadi cara warganet menyoroti berbagai persoalan mobilitas yang dianggap telah menjadi bagian dari keseharian pengguna jalan di kawasan Ciputat.

    Peneliti Malika for Urban Studies, Juno Nugroho, menilai humor dan satire di media sosial dapat menjadi bentuk ekspresi sekaligus katarsis sosial masyarakat perkotaan.

    “Satire warga di media sosial ini adalah bentuk kompensasi atas frustrasi sosial akibat persoalan mobilitas yang dihadapi berulang kali setiap hari. Ketika ruang publik dan akses transportasi tidak lagi efisien, humor menjadi saluran emosional warga,” ujar Juno.

    Menurutnya, respons masyarakat tersebut seharusnya menjadi sinyal bagi pemerintah daerah dan pemangku kepentingan untuk mengevaluasi kebijakan serta pengelolaan infrastruktur.

  3. 3. Pemerintah diminta tak anggap sekadar lelucon

    Juno meminta pemerintah tidak melihat fenomena tersebut hanya sebagai konten lucu di media sosial. Menurutnya, satire yang muncul menggambarkan keresahan warga terhadap kenyamanan mobilitas.

    “Pemerintah dan pemangku kebijakan tidak boleh melihat ini sekadar konten lucu-lucuan semata. Humor ini mencerminkan krisis kenyamanan mobilitas warga. Perlu ada langkah konkret, mulai dari perbaikan pemeliharaan jalan, penataan manajemen lalu lintas, koordinasi proyek infrastruktur agar tidak merugikan pengguna jalan, hingga penegakan hukum lalu lintas secara konsisten,” tegasnya.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More