ilustrasi diagnosis kanker darah (pexels.com/Tima Miroshnichenko)
Toman mengungkapkan, tiap jenis kanker darah memiliki pola ciri khas yang berbeda. Misalnya, untuk penyandang leukimia biasanya merasa kelelahan parah meski sudah istirahat cukup, pucat akibat kurang darah atau anemia. Selain itu juga sering mengalami lebam, memar, atau muncul bintik merah atau ungu pada kulit mesk tidak terbentur. Lalu, demam tiba-tiba, menggigil dan berkeringat saat malam hari.
"Lymphoma biasanya ditandai adanya pembesaran kelenjar, di leher, ketiak, paha, di dalam tubuh daerah perut, dada kadang tidak terlihat dari luar sehingga memerlukan pemeriksaan tambahan seperti MRI atau Pet-Scan," ungkapnya.
Sementara, untuk Myeloma biasanya lebih sulit dikenali lantaran tidak ada keluhan khas. Namun, jika diperhatikan terdapat pola yang mengarah ke Myeloma.
"Ada polanya, yakni CRAB seperti kalsium tinggi, ureum kreatinin tinggi tapi bukan ginjal yang rusak tapi fungsi ginjal menurun akibat ada myeloma, anemia, dan nyeri tulang," ungkapnya.
Lantaran organ yang diserang berbeda, pengobatan dari masing-masing jenis kanker darah tersebut juga berbeda-beda. Misalnya saja, untuk leukimia biasanya dilakukan kemoterapi, terapi target, hingga transplantasi sumsum tulang belakang dari orang lain.
"Untuk Lymphoma juga menggunakan kemoterapi dan terapi target, dalam kasus kankernya 'bandel', ditambahkan transplantasi sumsum tulang tapi dari badan sendiri, diaktifkan, lalu disedot, disimpan dan diberikan bersamaan dengan kemoterapi," jelasnya.
Sementara, untuk Myeloma juga dilakukan dengan kemoterapi, terapi target, dan transplantasi sumsum tulang belakang dari orang lain atau stem cell.
"Myeloma kalau ditransplant bisa bebas penyakit 5-8 tahun, kalau tidak ditransplant engga sampe 5 tahun sudah datang lagi karena stem cell bisa meredam peradangan di dalam tubuh," jelasnya.