Uju mengatakan, secercah harapan memperbaiki kehidupan keluarga sempat muncul usai Rouf diterima bekerja sebagai sopir truk ekspedisi di sebuah perusahaan kertas terbesar di Banten sejak 4 bulan lalu.
Namun, lanjut Uju, insiden kecelakaan di Tol Cipularang KM 92 seketika membuat harapan itu sirna. Pasalnya, Rouf bukan saja terancam dipecat dari tempatnya bekerja, namun juga terancam hukuman penjara apabila dinyatakan bersalah atas kecelakaan tersebut.
"Itu dia baru bangkit, baru kerja lagi. Eh udah ada kejadian kayak begini, masya Allah, perihnya karena kami orang enggak punya," ungkap Uju.
Kini, Uju bukan hanya memikirkan nasib yang menimpa adiknya usai dituding sebagai penyebab kecelakaan beruntun di Tol Cipularang KM 92. Namun juga memikirkan nasib keponakannya apabila Rouf harus dihukum penjara.
"Kalau dia (Rouf) di itu (penjara), nanti anaknya siapa yang mau ngasih makan? Walaupun banyak suadaranya kan pada susah-susah, pas-pasan. Saya ngomong apa adanya, enggak diumpet-umpetin," katanya.
Uju mengakui, pihak keluarga sampai saat ini belum mengetahui pasti kondisi keadaan Rouf karena tidak berkomunikasi apalagi untuk bertemu langsung. Mereka tidak punya biaya untuk pergi ke Purwakarta.
Untuk itu, ia pun berharap agar persoalan yang menjerat adiknya segera selesai sehingga bisa kembali pulang untuk berkumpul bersama keluarganya.
"Mau banget (ketemu Rouf), pengen dipeluk adik saya, mau liat keadaan adik saya. Kita enggak punya biaya buat ke sana (Purwakarta), istrinya Rouf HP aja ga punya," katanya.