Stasiun Rangkasbitung dulu dan kini selalu menjadi stasiun sibuk yang melayani rute Rangkasbitung Lebak Banten - Tanah Abang/Duri dari zaman kereta uap hinggi kini kereta listrik (Dok. Arsip Nasional, IDN Times/Muhammad Iqbal)
Green Line kini identik dengan kelas pekerja—buruh, karyawan swasta, pegawai ritel, hingga pekerja sektor informal yang menggantungkan hidup pada mobilitas harian ke Jakarta dan Tangerang Raya.
Dengan tarif yang relatif murah dan kenyamanan yang jauh lebih baik dibanding moda darat lain, KRL menjadi “transportasi rakyat” dalam arti paling konkret. Ia bukan sekadar alat angkut, tetapi jembatan ekonomi.
Karena kebutuhan bekerja tidak mengenal hari libur terutama bagi sektor jasa, manufaktur, dan ritel kepadatan pun terjadi bukan hanya Senin sampai Jumat, tetapi juga Sabtu dan Minggu. Ritme kota yang tak pernah benar-benar berhenti tercermin di gerbong-gerbong Green Line.
Dari jalur pengangkut hasil bumi kolonial menjadi tulang punggung mobilitas pekerja modern, Tanah Abang–Rangkasbitung telah mengalami transformasi sosial-ekonomi yang besar. Kepadatan yang terjadi hari ini bukan sekadar persoalan teknis transportasi, melainkan cermin dari dinamika urbanisasi, ketimpangan harga properti, dan kebutuhan mobilitas kelas pekerja.
Selama belum ada alternatif transportasi publik yang setara baik dari sisi harga, waktu tempuh, maupun jangkauan Green Line akan terus menjadi nadi yang berdenyut tanpa henti, tujuh hari dalam sepekan.