Pandeglang, IDN Times – Sebanyak 157 pengrajin topi anyaman daun pandan di Kecamatan Banjar dan Mekarjaya, Kabupaten Pandeglang, terancam kehilangan mata pencaharian setelah penyerapan produk oleh perusahaan mitra dihentikan sejak Februari 2026.
Selama hampir 30 tahun, hasil anyaman para perajin diserap untuk kebutuhan ekspor melalui perusahaan mitra, PT Dados Sekana. Namun kerja sama tersebut kini berhenti karena pemilik perusahaan disebut telah lanjut usia dan tidak memiliki penerus usaha.
Nasib Ratusan Pengrajin Anyaman Pandan di Pandeglang di Ujung Tanduk

1. Produksi turun drastis, stok menumpuk
Pemilik usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) kerajinan anyaman daun pandan, Adi Pandat, mengatakan penghentian penyerapan berdampak langsung terhadap produksi. Saat ini sekitar 2.000 topi menumpuk dan belum terjual.
“Kalau dulu serapannya bisa ribuan. Sekarang hanya ratusan untuk pasar lokal. Produksi juga kami kurangi,” kata Adi, Sabtu (28/2/2026).
Menurut Adi, pasar lokal belum mampu menyerap produk dalam jumlah besar seperti saat masih ada permintaan ekspor. Akibatnya, sebagian perajin mulai membatasi produksi karena khawatir stok terus bertambah.
Ia menyebut, mayoritas perajin merupakan warga lanjut usia yang selama ini menggantungkan penghasilan dari kerajinan topi anyaman pandan. “Topi ini sumber utama penghasilan mereka. Kalau tidak ada pembeli baru, lama-lama bisa berhenti total,” ujarnya.
2. Para pelaku UMKM berharap pemerintah dapat membuka akses pasar baru
Adi berharap pemerintah daerah maupun pusat dapat membantu membuka akses pasar baru, baik melalui promosi, pameran, kerja sama dengan pembeli lain, maupun penggunaan produk lokal oleh instansi pemerintah.
Tanpa intervensi pemasaran, ratusan perajin di wilayah tersebut dikhawatirkan kehilangan sumber pendapatan yang telah menopang ekonomi keluarga mereka selama puluhan tahun. "Kamu berharap pemerintah bisa membantu penyerapan produk karena menopang banyak orang" katanya.
3. Mereka juga produksi berbagai macam item seperti tas hingga sandal
Selain topi, para perajin juga memproduksi tas (kaneron), sajadah, tikar, sandal, dompet, hingga tentengan. Namun selama ini, produk yang rutin diekspor dan menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar adalah topi.
"Jadu memang unggulannya itu di topi, apalagi pasar ekspor," katanya.