Gubernur Banten Andra Soni dalam acara SAT 2026. (IDN Times/Herka Yanis)
Dalam sesi itu, Andra Soni juga mengakui, pertumbuhan ekonomi di Banten belum merata, di tengah angka pertumbuhan ekonomi yang positif di setiap kuartal tahun 2025. Dia menjelaskan, di 3 kuartal di tahun 2025, mulai dari 5,19 kemudian 5,33 kemudian 5,29.
"Kuartal IV nanti menunggu sekitar 5 Februari nanti, tapi kami optimis tahun 2025, (pertumbuhan ekonomi Banten) di atas rata-rata nasional," kata dia.
Meski demikian, Andra mengatakan, bagaimana caranya agar pertumbuhan itu bisa berkeadilan. "Banten ini miniatur Indonesia, di mana di situ ada daerah yang tumbuhnya pesat, tapi ada juga daerah yang selama ini tidak bisa tumbuh pesat," kata dia.
Contoh, imbuhnya, di Banten itu ada yang namanya Tangerang Raya yang berbatasan dengan Jakarta. Wilayah sektor swasta tumbuh pesat dan ikut membangun infrastruktur, dengan hadirnya sejumlah kawasan pemukiman dan pusat bisnis, seperti Alam Sutera, BSD, dan Bintaro. Di sana, uang yang beredar di tengah masyarakat berputar dengan bagus.
"Tapi, Banten juga ada Pandeglang. Kondisi (Tangerang Raya) berbanding terbalik engan yang ada di Lebak, Pandeglang. Jalanan rusak," kata dia.
Sesuai dengan Asta Cita yang dicanangkan pemerintahan Presiden Prabowo Subianto, Andra menyebut bahwa pembangunan itu dari desa sehingga ada pemerataan pertumbuhan ekonomi.
Hal itu menjadi salah satu acuan Pemerintah Provinsi (Pemprov) Banten mengintervensi pembangunan infrastruktur, yang kewenangannya semula ada di tingkat kabupaten atau desa. "Provinsi melakukan intervensi karena kami meyakini bahwa salah satu bentuk mengejar pertumbuhan ekonomi adalah di desa. Kenapa? Karena di sana ada produsen, ada produksi, ada pertanian, dan sebagainya," kata dia.
Tahun 2025, imbuhnya, Banten juga ditargetkan bisa mencapai realisasi investasi mencapai Rp115 triliun. "Sepertinya tercapai. Trennya, 3 tahun berturut-turut, Banten bisa melampaui target yang diberikan pusat," kata dia.