Serang, IDN Times – Pemerintah Kabupaten Serang melalui Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUPR) menormalisasi saluran air sekaligus membangun kolam retensi di kawasan Perumahan Bumi Ketos Regency, Desa Ketos, Kecamatan Kibin. Langkah ini dilakukan sebagai upaya tanggap darurat banjir jangka pendek.
Perumahan Bumi Ketos Regency diketahui kerap dilanda banjir besar saat intensitas hujan tinggi. Genangan air bahkan bisa mencapai sepinggang orang dewasa karena wilayah tersebut berada di dataran rendah dan mengalami sedimentasi atau pendangkalan.
Pemkab Serang Serang Bangun Kolam Retensi di Daerah Rawan Banjir

Intinya sih...
Kawasan permukiman berada di dataran rendah sehingga rawan banjir
Ke depan wilayah itu akan dibuat sistem pompanisasi
Lokasi pembangunan kolam retensi merupakan rawa milik pengembang
1. Kawasan permukiman berada di dataran rendah sehingga rawan banjir
Kepala Bidang Sumber Daya Air DPUPR Kabupaten Serang, Nurlailah mengatakan, normalisasi dan pembangunan kolam retensi bertujuan untuk menampung kelebihan air hujan di kawasan tersebut.
“Perumahan ini selalu kebanjiran setiap kali hujan dan memang berada di wilayah dataran rendah, jadi perlu ada parkir air di sini. Ini penanganan jangka pendek sebagai penanganan darurat banjir,” kata Nurlailah, Jumat (30/1/2026).
2. Ke depan, wilayah itu akan dibuat sistem pompanisasi
Ia menjelaskan, ke depan diperlukan sistem pengelolaan air yang lebih komprehensif. Pasalnya, lokasi Perumahan Bumi Ketos Regency cukup jauh dari saluran pembuangan utama Desa Mandaya, Kecamatan Carenang, yang bermuara ke Sungai Ciujung.
“Untuk saluran pembuangan airnya sangat jauh, jadi harus memanfaatkan seoptimal mungkin penampungan yang ada di sini dan pompanisasi, itu yang utama. Kalau misalnya kelebihan air di pemukiman, otomatis pompa yang bekerja,” jelasnya.
3. Lokasi pembangunan kolam retensi merupakan rawa milik pengembang
Nurlailah menambahkan, normalisasi yang dilakukan saat ini memanfaatkan kawasan rawa yang sebagian lahannya masih milik pengembang dan posisinya lebih rendah serta belum dimanfaatkan.
Sekadar diketahui, proses normalisasi dan pembangunan kolam retensi tersebut telah dilakukan hampir sepekan dengan menggunakan alat berat ekskavator.
“Makanya kami memanfaatkan rawa itu, kami perlebar dengan panjang sekitar 100 meter dan lebar 10 meter. Normalisasi dan pembuatan kolam retensi ini juga sudah kami lakukan dengan izin dari pemerintah desa, kecamatan, serta pemilik lahan,” katanya.