Salah satu siswi SMKN 1 Curugbitung mengatakan, ia bersekolah di Provinsi Banten merupakan keinginan sendiri. Selain dekat dari rumah, sekolah tersebut juga tersedia jurusan asisten perawat yang ia dambakan sehingga ia semangat mengikuti kegiatan belajar.
"Karena saya punya cita-cita perawat. Di sini ada jurusan itu di sekolah Jabar mungkin ada jurusan ini, tapi jauh," katanya.
Tak hanya siswa, gurunya pun turut semangat memberikan pelajaran meski menempuh jarak yang sangat jauh setiap harinya.
Yuliasari, misalnya, salah satu guru SMK dari Karawaci, Kota Tangerang. Meski demikian, dia tak pernah datang terlambat. Setiap hari, guru mata pelajaran IPAS itu pulang pergi harus menggunakan empat jenis moda transportasi, motor, KRL, angkot, dan ojek.
"Dari rumah berangkat 05.30 WIB naik motor, terus KRL dari stasiun Cisauk jam 06.00 WIB, sampai ke stasiun Tenjo 6.40 WIB, dari stasiun naik amgkot itu 30 menit. Sampai sini kurang lebih jam 7.10 WIB," kata Yulia.
Selain butuh tenaga, Yulia juga harus mengeluarkan biaya ongkos per hari pulang pergi mencapai Rp66.000. Meski butuh tenaga dan biaya, Yulia mengaku senang menjadi guru di tengah hutan dan di daerah perbatasan.
"Lebih banyak sukanya, jadi lebih beragam variasi ketemua anak," katanya.