Ilustrasi pendidikan ( ANTARA FOTO/Asep Fathulrahman)
Ia menekankan, layanan pendidikan seharusnya bersifat inklusif, bukan malah diskriminatif. “Dengan memisahkan siswa berdasarkan latar belakang sosial-ekonomi, diskriminasi dalam layanan pendidikan dapat terjadi. Anak-anak dari keluarga miskin mungkin tidak mendapatkan layanan pendidikan yang setara dengan anak-anak dari keluarga kaya,” ujarnya.
Ubaid juga mengkhawatirkan munculnya perbedaan kualitas pendidikan yang diterima oleh anak-anak dari kelompok ekonomi berbeda, yang pada akhirnya akan mempengaruhi peluang masa depan mereka.
“Ini akan mengakibatkan perbedaan dalam kualitas pendidikan yang diterima dan peluang masa depan yang berbeda bagi masing-masing kelompok,” ujarnya.
Menurut Ubaid, sistem pendidikan yang saat ini berjalan saja masih memiliki banyak ketimpangan, baik pada model sekolah maupun madrasah, termasuk layanan untuk peserta didik dan guru-gurunya.
“Dengan sistem yang saat ini berjalan, ada model sekolah dan model madrasah, ini saja banyak layanan pendidikan yang dibeda-bedakan, baik untuk peserta didiknya maupun guru-gurunya. Apalagi ada model sekolah baru lagi, pasti menambah daftar masalah diskriminasi dalam pelayanan pendidikan,” katanya.