Warga Kabupaten Serang di pengungsian setelah rumah mereka tergenang banjir pada Januari 2026 (ANTARA FOTO/Muhammad Bagus Khoirunas)
Hilmi juga menyoroti fasilitas pengungsian yang dinilai memprihatinkan. Menurutnya, tempat berteduh sementara yang ada saat ini tidak memberikan perlindungan yang layak, terutama saat cuaca buruk kembali melanda. "Kalau hujan bocor dan lantainya jadi becek, sehingga kami sulit beristirahat," tambahnya.
Banjir yang tak kunjung surut tersebut juga telah melumpuhkan aktivitas warga secara total selama satu minggu terakhir. Genangan air yang keruh, bercampur lumpur, dan sampah diduga menjadi penyebab utama buruknya sanitasi lingkungan, sehingga menjadi sarang kuman yang memicu masalah kesehatan bagi warga yang bertahan.
Dengan demikian warga meminta agar Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Serang untuk mengambil tindakan yang lebih cepat dan konkret. Ia berharap ada upaya penyedotan air atau perbaikan drainase agar banjir segera surut, mengingat roda perekonomian dan aktivitas warga telah mati total selama satu minggu.
Keluhan senada disampaikan oleh Imas, seorang ibu rumah tangga yang juga menjadi korban banjir di wilayah tersebut. Imas mengaku sangat khawatir karena kondisi di pengungsian yang kurang layak dan tidak adanya sarana air bersih.
"Anak-anak kasihan, tidurnya tidak nyenyak kalau hujan tenda ini bocor. Kami bingung, mau membersihkan badan juga air bersihnya susah didapat," ungkap nya.