Prof. Hari Hendarto, Dokter Spesialis Penyakit Dalam Konsultan Endokrin Metabolik Diabetes Eka Hospital BSD (IDN Times/Maya Aulia Aprilianti)
Hari mengungkapkan, diabetes adalah penyakit metabolik kronis yang ditandai dengan kadar gula (glukosa) dalam darah yang tinggi karena tubuh tidak menghasilkan cukup insulin atau tidak dapat menggunakan insulin dengan baik. Salah satu tantangan terbesar saat berpuasa bagi diabetes adalah menjaga keseimbangan kadar gula agar tidak mengalami hiperglikemia maupun hipoglikemia.
"Makanya, ada diabetesi yang boleh bahkan disarankan berpuasa, adapula yang sebaiknya tidak berpuasa," kata Hari.
Hari menuturkan, penyandang diabetes yang boleh dan disarankan berpuasa bisa dikonsultasikan terlebih dahulu ke dokter penyakit dalam yang selama ini menangani. Namun, secara umum, diabetes ringan dan sedang.
Adapun, penilaian tersebut akan dilakukan oleh dokter seiring dengan kondisi pasien. Dimana, terdapat tabel penilaian yang berisi kriteria-kriteria kondisi diabetes. Semakin besar hasil penilaian tersebut, maka semakin berisiko untuk berpuasa.
"Kriteria pertama dari jenis diabetesnya. Jadi, pertama dia diabetes tipe 1 atau tipe 2, kalau diabetes tipe 2 karena makanan itu lebih angkanya 0, alias resiko ringan," katanya.
Lalu, jika orang dengan diabetes tipe 1 bawaan lahir dan umumnya memerlukan suntik insulin rutin, maka biasanya lebih tinggi nilainya yang menjadikannya masuk risiko sedang.
Penulaian selanjutnya, yakni kontrol gula darah yang dinilai dari saat pemeriksaan HBA1C, yakni kadar gula darah rata-rata selama 3 bulan. Kalau angka tersebut tinggi di atas 7,5 persen, kata dia, maka bisa disebut gula darah tak terkontrol dan masuk dalam risiko tinggi.
"Kemudian obat-obatan yang dijalani, kalau masih metformin itu angkanya 0, kalo udah insulin, apalagi insulinnya udah campuran yang sehari bisa suntik 4 kali itu, angkanya 3,5 dan masuk resiko tinggi," katanya.