Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Tips Berpuasa Bagi Penyandang Diabetes, Perhatikan ya!
Prof. Hari Hendarto, Dokter Spesialis Penyakit Dalam Konsultan Endokrin Metabolik Diabetes Eka Hospital BSD (IDN Times/Maya Aulia Aprilianti)

  • Dokter Hari Hendarto menjelaskan bahwa penderita diabetes tetap bisa berpuasa jika kondisinya ringan hingga sedang dan telah dikonsultasikan dengan dokter untuk menilai tingkat risikonya.
  • Pengecekan kadar gula darah secara rutin wajib dilakukan, terutama menjelang berbuka dan siang hari, guna mencegah hipoglikemia atau hiperglikemia selama menjalankan puasa.
  • Saat berbuka, disarankan mengonsumsi makanan manis seperti kurma atau coklat terlebih dahulu sebelum makan berat agar kadar gula darah cepat stabil dan tubuh siap beraktivitas kembali.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Tangerang, IDN Times - Puasa Ramadan merupakan salah satu rukun Islam yang wajib dipenuhi bagi setiap muslim yang sudah baligh. Namun, beberapa orang boleh tidak berpuasa jika sedang sakit, terutama jika menderita penyakit yang membahayakan jika melakukan puasa.

Salah satunya penyandang diabetes atau diabetesi. Meski begitu, Hari Hendarto selaku Dokter Spesialis Penyakit Dalam Konsultan Endokrin Metabolik Diabetes Eka Hospital BSD mengatakan, berpuasa bisa bermanfaat bagi penyandang diabetes--jika dilakukan dengan benar dan dalam pengawasan dokter. "Puasa justru bisa menjadi momen reset untuk tubuh bagi diabetesi," kata Hari, Kamis (5/3/2026).

1. Ada beberapa kriteria penyandang diabetes yang boleh berpuasa

Prof. Hari Hendarto, Dokter Spesialis Penyakit Dalam Konsultan Endokrin Metabolik Diabetes Eka Hospital BSD (IDN Times/Maya Aulia Aprilianti)

Hari mengungkapkan, diabetes adalah penyakit metabolik kronis yang ditandai dengan kadar gula (glukosa) dalam darah yang tinggi karena tubuh tidak menghasilkan cukup insulin atau tidak dapat menggunakan insulin dengan baik. Salah satu tantangan terbesar saat berpuasa bagi diabetes adalah menjaga keseimbangan kadar gula agar tidak mengalami hiperglikemia maupun hipoglikemia.

"Makanya, ada diabetesi yang boleh bahkan disarankan berpuasa, adapula yang sebaiknya tidak berpuasa," kata Hari.

Hari menuturkan, penyandang diabetes yang boleh dan disarankan berpuasa bisa dikonsultasikan terlebih dahulu ke dokter penyakit dalam yang selama ini menangani. Namun, secara umum, diabetes ringan dan sedang.

Adapun, penilaian tersebut akan dilakukan oleh dokter seiring dengan kondisi pasien. Dimana, terdapat tabel penilaian yang berisi kriteria-kriteria kondisi diabetes. Semakin besar hasil penilaian tersebut, maka semakin berisiko untuk berpuasa.

"Kriteria pertama dari jenis diabetesnya. Jadi, pertama dia diabetes tipe 1 atau tipe 2, kalau diabetes tipe 2 karena makanan itu lebih angkanya 0, alias resiko ringan," katanya.

Lalu, jika orang dengan diabetes tipe 1 bawaan lahir dan umumnya memerlukan suntik insulin rutin, maka biasanya lebih tinggi nilainya yang menjadikannya masuk risiko sedang.

Penulaian selanjutnya, yakni kontrol gula darah yang dinilai dari saat pemeriksaan HBA1C, yakni kadar gula darah rata-rata selama 3 bulan. Kalau angka tersebut tinggi di atas 7,5 persen, kata dia, maka bisa disebut gula darah tak terkontrol dan masuk dalam risiko tinggi.

"Kemudian obat-obatan yang dijalani, kalau masih metformin itu angkanya 0, kalo udah insulin, apalagi insulinnya udah campuran yang sehari bisa suntik 4 kali itu, angkanya 3,5 dan masuk resiko tinggi," katanya.

2. Penderita diabetes yang ingin berpuasa wajib mengecek kadar gula darah mandiri secara rutin

ilustrasi diabetes (vecteezy.com/Suriyawut Suriya)

Ia mengungkapkan, penderita diabetes yang ingin berpuasa juga diwajibkan mengecek kadar gula darah secara mandiri dan rutin. Hal tersebut untuk mencegah penurunan ataupun kenaikan kadar gula darah mendadak dan melewati ambang batas yang bisa ditoleransi tubuh.

"Yang terpenting itu dicek saat waktunya makan siang karena biasanya tubuh dapat asupan gula dan juga menjelang berbuka sekitar jam 4 sore, karena biasanya itu waktu kadar gula sedang rendah-rendahnya," kata Hari.

Jika saat mengecek kadar gula darah terlalu rendah di bawah 70 mg/dL, maka harus segera berbuka dengan yang manis seperti kurma dan coklat. Sedangkan, jika kadar gula darah terlalu tinggi yakni di atas 300 mg/dL, maka penyandang diabetes juga wajib berbuka dan minum obat agar gula kembali terkontrol.

"Yang perlu diwaspadai adalah lansia, biasanya sensitivitasnya sudah berkurang sehingga tak merasa ada gejala tiba-tiba drop, maka kalau lansia tanpa pendamping apalagi sudah pikun maka sebaiknya tidak berpuasa," kata Hari.

3. Penderita diabetes juga disarankan berbuka dengan yang manis terlebih dahulu

ilustrasi diabetes (pexels.com/Pavel Danilyuk)

Untuk makanan berbuka, Hari menganjurkan penderita diabetes mengawalinya dengan yang manis, seperti kurma, coklat, dan sejenisnya. Hal tersebut lantaran kurma maupun coklat bisa meningkatkan kadar gula darah secara cepat namun turunnya pun cepat.

"Tidak disarankan langsung makan nasi, karena nasi menaikkan gula darah secara lambat, namun bertahan lama, padahal diabetes membutuhkan asupan gula yang cepat," katanya.

Setelah memakan takjil manis, penderita diabetes bisa langsung menjalankan Salat Maghrib dan dilanjutkan dengan makan berat, tidak disarankan makan berat setelah Salat Tarawih.

"Karena khawatir gula darahnya kembali drop dan malah akan collapse, jadi sebaiknya makan berat sebelum Salat Tarawih karena kan memerlukan kalori yang cukup," ungkapnya.

Ia mengimbau, bagi penderita diabetes yang ingin menjalankan ibadah puasa, senantiasa memperhatikan sinyal tubuh sehingga tidak sampai terjadi hal fatal. Selain itu, mereka juga perlu kontrol rutin ke dokter juga harus dilakukan agar mengetahui kondisi tubuh.

"Puasa bisa mereset dan mengistirahatkan sel-sel dalam tubuh, yang biasanya sulit menyerap gula, menjadi lebih baik setelah berpuasa, namun tentunya harus diiringi dengan rasa tanggungjawab kepada tubuh sendiri," kata dia.

Editorial Team