Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Tips Traveling dan Wisata Kuliner Tanpa Takut Diabetes
IDN Times/Maya Aulia Aprilianti
  • Menikmati makanan lokal dengan mengajak teman atau sharing plate untuk mengurangi asupan gula dan garam.
  • Saat traveling, batasi porsi makanan dan lakukan olahraga terstruktur untuk menjaga kesehatan tubuh.
  • Penyandang diabetes harus memeriksakan kondisi ke dokter sebelum bepergian, membawa persediaan obat yang cukup, serta melakukan vaksinasi yang direkomendasikan.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Tangerang, IDN Times - Traveling atau bepergian bagi sebagian orang merupakan kegiatan yang dilakukan untuk melepas penat setelah berkutat dengan kegiatan sehari-hari. Traveling pun biasanya dilakukan dengan berbagai macam cara, mulai dari wisata kota, naik gunung, main di pantai, hingga wisata kuliner. 

Namun, traveling juga biasanya membuat orang tidak mengontrol makan yang tinggi gula dan garam, hal tersebut tentunya meningkatkan resiko terkena berbagai macam penyakit, salah satunya diabetes.

Dokter Penyakit Dalam & Travel Health Expert Eka Hospital BSD, Rudy Kurniawan pun memberikan beberapa tips untuk tetap bisa traveling tanpa takut terkena diabetes.

"Memang saat ini, orang lebih gampang untuk memutuskan traveling ya. Terutama pasca-COVID-19, mungkin ada balas dendam atau bagaimana, karena tidak boleh travelling, lalu saat ini banyak promo juga, salah satu tujuan travelling adalah wisata kuliner, nah ini yang perlu jadi perhatian,"ungkap Rudy, Kamis (14/11/2024).

1. Jangan habiskan satu porsi makanan dalam satu kali makan

Dok. Instagram Bornga

Rudy mengungkapkan, wisatawan masih bisa menikmati makanan lokal setempat saat wisata kuliner, meskipun kadar gula dan garamnya tinggi, yakni dengan mengajak serta teman saat menyicip makanan atau sharing plate. Sehingga, tidak perlu satu porsi dihabiskan karena hal itu bisa menyebabkan kadar gula melonjak drastis.

"Apalagi kita mengingat bahwa, wah habis ini kita akan coba makanan yang lain, sehingga memungkinkan biasanya orang sehari bisa 3 kali makan, ini bisa 5 sampai 6 kali. Jadi siasatnya adalah, kurangi porsinya," jelas Rudy.

Namun, untuk solo-traveler, harus sadar betul membatasi betul porsi makannya. Sebisa mungkin, lanjut Rudy, membeli makanan hanya untuk cicip, bukan menghabiskan satu porsi.

"Yang pasti harus benar-benar membatasi asupan gula dan garam, sebisa mungkin pilih makanan yang rendah gula dan garam," jelasnya.

2. Olahraga teratur selama traveling

Ilustrasi Olahraga (Pexels.com/Antoni Skhraba)

Selain membatasi asupan makanan, olahraga juga merupakan hal yang penting dilakukan selama traveling. Hal tersebut, kata Rudy, harus disadari betul oleh traveler karena biasanya asupan makan akan lebih banyak dibandingkan saat tidak bepergian.

"Tapi olahraga itu bukan hanya jalan kaki ya, tapi harus kegiatan terstruktur yang meningkatkan heart rate," ungkapnya.

Pasalnya, berjalan kaki apalagi tidak dengan pengukuran yang akurat, tidak signifikan membakar asupan kalori dari minuman manis atau makanan yang dikonsumsi. Untuk itu, diperlukan jadwal khusus untuk berolahraga, seperti angkat beban, berenang, atau lari jika sudah terbiasa.

"Misalnya, jalan kaki satu kilometer cuma (membakar) 80 kalori, sementara kita minum thai tea satu porsi full itu bisa 500 kalori. Jadi kalau mau harus jalan sampai 7 kilometer, jadi tadi, siasatnya berbagi porsi," katanya.

3. Kamu wajib membawa persediaan obat cukup

IDN Times/Maya Aulia Aprilianti

Namun, bagi penyandang diabetes yang ingin bepergian, Rudy juga memberikan tips, yakni yang terpenting diabetes dalam kondisi terkontrol. Untuk itu, sangat penting bagi penyandang diabetes untuk melakukan pemeriksaan ke dokter sebelum bepergian.

"Apalagi jika ada penyakit penyerta, seperti hipertensi, dan lain-lain. Jika dari hasil tes dokter, kondisi diabetesnya terkontrol, kondisi penyakit penyertanya juga terkontrol, maka aman untuk melakukan perjalanan," jelasnya.

Rudy juga menyarankan, agar tidak lupa dan selalu membawa persediaan obat yang cukup adalah salah satu hal paling penting dalam persiapan perjalanan. 

Terutama bagi mereka yang memiliki komorbid atau penyakit bawaan, seperti diabetes, jantung, atau kolesterol. Bagi penderita diabetes misalnya, disarankan untuk membawa obat-obatan pribadi seperti insulin, obat oral, dan juga alat pengukur gula darah dalam jumlah lebih dari yang biasanya dibutuhkan.

"Ini sebagai antisipasi terhadap kemungkinan keterlambatan atau perubahan rencana yang tak terduga. Apalagi kalau perjalanan keluar negeri, belum tentu merk yang digunakan ada disana,"ujar Rudy.

Lalu, penting juga untuk menyimpan semua obat di tempat yang mudah dijangkau dan memastikan mereka disimpan sesuai instruksi penyimpanan yang direkomendasikan. 

"Misalnya, insulin sebaiknya disimpan di tempat yang sejuk atau minimal suhu ruang karena akan rusak kalau terkena matahari langsung," tuturnya.

4. Diperlukan vaksinasi

IDN Times/Maya Aulia Aprilianti

Selain memperhatikan aktivitas fisik serta menjaga pola makan, Rudy juga mengungkapkan, vaksinasi juga merupakan hal yang penting, sebelum perjalanan travelling dilakukan.Sebab vaksinasi dapat membantu diabetesi menghindari komplikasi yang lebih serius. Ada beberapa vaksin yang direkomendasikan bagi diabetesi untuk menjaga kesehatan tubuh tetap optimal.

"Misalnya saja vaksin infuenza atau flu. Ini bisa dilakukan berulang, setahun sekali. Vaksin flu tahunan sangat dianjurkan untuk diabetesi, terutama untuk mencegah komplikasi yang dapat membahayakan tubuh,"katanya.

Lalu, vaksin Pneumonia, bagi penderita diabetes memiliki risiko lebih tinggi untuk mengembangkan infeksi pneumonia dan mengalami komplikasi serius akibat infeksi ini. Infeksi pneumokokus bisa sangat berbahaya karena dapat memengaruhi paru-paru dan memperburuk kondisi diabetes. Vaksin pneumonia ini sangat direkomendasikan para diabetesi, terlebih yang berusia di atas 65 tahun atau memiliki masalah kesehatan lain yang memperburuk kondisi tubuh. 

Lalu, vaksin Hepatitis B, untuk melindungi hati tau liver. dan vaksin jenis lainnya, tergantung ke negara mana yang akan dituju. 

"Vaksin Tetanus, Difteri, dan Pertusis (TDAP), ada juga vaksin Herpes Zoster (Shingles),"katanya.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team