peta berjudul Kebajoran yang dipublikasi tahun 1937 buktikan eksistensi 2 aliran Kali Ciputat (Dok. Koleksi Dutch Colonial Map Universitas Leiden)
Sebelumnya diberitakan, pantauan IDN Times, kini aliran air di kali tersebut tampak tak lagi mengalir sedari hulunya di pintu air karena tertutupnya pintu air. Jikapun pintu air itu dibuka, air yang seharusnya mengalir ke hilir akan kembali berbelok ke aliran utama Kali Ciputat, karena adanya sodetan dari 'leher' aliran tersebut ke aliran utama.
Selain itu kondisi kali selebar 2 meter lebih ini sangat memprihatinkan karena pendangkalan akibat timbunan sedimentasi, rerumputan, dan sisa batang pohon yang tumbang.
Memasuki area rumah pemotongan hewan dan Stasiun Pengisian Bulk Elpiji (SPBE), aliran Kali Ciputat kecil ini kembali dialiri air yang terpantau bersumber dari saluran limbah domestik MCK warga, drainase jalan Cendrawasih yang berada di barat aliran kali dan aliran buangan air lain yang belum diketahui.
Lalu, aliran kali yang berbau tak sedap itu mengalir ke arah jembatan rel kereta api di Staiun Jurangmangu, berbelok ke arah timur di antara bantaran rel kereta api dan jalan tol, menyempit menjadi hanya 1 meter.