Saya lahir tuh persis tanggalnya 12 Agustus, tanggal kelahiran yang sama dengan tanggal kelahiran Bung Hatta, ya kebetulan ya tanggalnya sama dan kemudian hari ini umur saya 48 tahun.
Saya lahir di sebuah desa kecil jauh sana di Sumatra. Waktu saya lahir pencatatan sipil belum sebaik sekarang jadi enggak tercatat dengan Baiklah ya kemudian saya sekolah pindah-pindah. SD pertama kali saya sekolahnya itu di Malaysia, tapi bukan sebagai anak diplomat, tapi saya ikut keluarga ikut orangtua saya sebagai TKI ilegal.
Kemudian SD lanjutnya kelas 6 tuh saya pindah lagi ke Jakarta. Nah tinggal di Jakarta sebentar kemudian pindah ke Ciledug, Tangerang lalu SMP saya masih tinggal di Tangerang sampai kelas 2 SMP saya ikut keluarga angkat saya dan saya lanjut SMP di Jakarta.
Saya SMA pertama di kelas 1 tuh, saya keterima di negeri di daerah Jakarta Selatan tapi kelas dua saya dipindahin ke Yogjakarta dan kemudian kelas 3 saya lulus SMA di Bandung.
Saya enggak langsung kuliah. Saya kerja dulu karena waktu itu orangtua angkat saya meninggal. Saya kuliah kuliah itu setelah 1 tahun lulus SMA.
Saya kerja itu di buruh bangunan sebentar, terus kemudian saya punya uang sedikit, saya daftar kuliah di Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) Bakti Pembangunan namanya, di daerah Ciledug Raya.
Saya hanya ikut kuliah D3, tapi proses kuliah saya itu memerlukan waktu lima tahun karena saya sambil kerja dan saya ada di masa krisis krisis moneter tahun 1996 sampai dengan 1998.
Nah saya lulus kuliah itu diploma 3 itu tahun 2001. Hari ini saya telah menyelesaikan magister saya di bidang MAP, yaitu Ilmu Administrasi Publik, saya lanjut kuliah itu setelah 21 tahun setelah 21 tahun pas sudah jadi Ketua DPRD (Banten), kuliah lagi kuliah lagi pas saya kuliah lagi.
Saat saya mulai kuliah tahun 2020 itu, saat saya masuk kelas (di kampus) saya sempat dikira dosen (padahal) saya mahasiswanya. Sarjana saya, jadi dari D3. S1 dan kebetulan sama-sama STIE, cuma kali ini STIE Banten. Di STIE Banten ini saya mengambil jurusan manajemen perusahaan, maka gelar pendidikan saya SM atau sarjana manajemen.
Waktu itu saya langsung lanjut kuliah kuliah lagi. S2 saya lanjut langsung di Untirta atau Universitas Sultan Ageng Tirtayasa dan selesai pada tahun 2023. Nah saya coba mendaftar untuk doktoral, tapi ya karena berhubung sedang melaksanakan tugas sebagai calon gubernur rupanya waktunya enggak dapatlah, jadi saya menunda dulu.
Saya saat mengambil D3 itu, saya sambil bekerja sebagai tukang ngantar surat. Saya lulus D3 tahun 2001 setelah mendapat gelar diploma 3 saya diangkat jadi manajer. Tapi saya sebelumnya berkarier jadi tukang antar surat, saya jadi sales kemudian saya jadi marketing lalu jadi marketing manager waktu saya lulus D3.
Tahun 2003 ada ketidakcocokan saya dengan pimpinan saya mengenai alur kerja, kemudian saya berhenti. Nah saya kerja lagi di perusahaan lain selama satu tahun, di bidang ekspedisi juga, di bandara Soekarno-Hatta, jadi saya di lapangan lah gitu.
Calon Gubernur Banten, Andra Soni mengunjungi kantor IDN Times, Jakarta pada Selasa (13/8/2024). (IDN Times/Jihan A'liifah)
Tahun 2005, saya mulai usaha sendiri, bikin usaha di bidang yang sama, yakni ekspedisi berdasar pengalaman saya mengantar paket. Saya bikin perusahaan namanya Antaran Sukses. Itu inisial nama saya sebenarnya AS atau Andra Soni.
Tahun 2009, ini lagi ramai waktu itu Partai Gerindra baru berdiri, saya mendaftar melalui online, tapi saya enggak ditindaklanjuti. Terus saya fokus kerja, fokus usaha.
Lalu pada tahun 2013 ada lagi interaksi dengan Gerindra. Nah ujung-ujungnya saya nyaleg, kurang lebih gitu nyaleg di tingkat provinsi, melalui Partai Gerindra di tahun 2014, sebagai calon provinsi di dapil Kota Tangerang B.
Nah di pemilu 2014 itu Alhamdulillah saya terpilih langsung tuh. Mungkin karena saya punya pengalaman sales tadi, ya harus keliling door to door segala macam sudah biasa ilmu mengantarkan pesan.
Lalu tahun 2019 terpilih lagi langsung menjadi ketua DPRD, itu kan bukan jabatan yang main-main. kalau tingkat provinsi, hampir miriplah dengan gubernur gitu ya.
Kemudian saya terpilih lagi di 2024 terpilih lagi. Terkait maju di Pemilihan Gubernur Banten, selain perintah partai, tentunya ada dorongan secara pribadi ingin berbuat lebih banyak.
Saat menjabat Ketua DPRD Banten, saya banyak belajar dan kemudian banyak melihat juga bahwa ada hal-hal yang harus dilakukan percepatan di wilayah Banten, tapi memang kedudukan kami hanya dibatasi.
Nah mengenai pilkada, pimpinan kami di dewan pimpinan pusat memberikan arahan bahwa untuk Pilkada tahun 2024 dalam rangka bagaimana kami bisa men-support pemerintahan pusat ke depan, calon-calon atau kader-kader terbaik dari partai Gerindra harus bersedia dan harus siap untuk dicalonkan sebagai calon kepala daerah.
Karena saya ketua DPD, saya direncanakan untuk maju sebagai calon kepala daerah atau sebagai calon kepala daerah di Provinsi Banten. Setelahnya lalu komunikasi-komunikasi kami bangun. Awalnya, ya kalau tidak jadi jadi gubernur, ya jadi wakil gubernur gitu ya.
Nah kemudian dalam rangka memantaskan diri, ya saya mencoba untuk berkomunikasi membangun komunikasi dengan masyarakat melalui pertemuan-pertemuan komunikasi dengan struktural dan juga memasang gambar-gambar lah gitu kurang lebih.
Nah kemudian dalam perjalanannya, akhirnya komunikasi yang kami bangun dengan beberapa partai--yang awalnya itu tidak ketemu--kemudian kami membangun komunikasi dengan partai-partai lain akhirnya muncullah pasangan Andra Soni-Dimyati Natakusumah.
Saya melihat bahwa kalau mau berkontribusi lebih banyak itu adalah di eksekutif, karena eksekutif itu, selain sebagai yang bisa mengeksekusi, sebagai kepala daerah itu punya peran lebih untuk bisa melakukan percepatan. Iya karena dia adalah pengguna aggaran ya kemudian dia juga punya tim yang lebih lengkap ya karena ada SKPD atau OPD.
Ya organisasi perangkat daerah yang memang terdiri dari orang-orang yang pendidikannya memang spesialis di bidang pemerintahan gitu dan punya pengalaman kerja juga di pengalaman yang panjang di pemerintahan sehingga seorang gubernur itu bisa menjadi semacam pimpinan-pimpinan yang yang bisa membuat kebijakan, yang kemudian bisa dijalankan untuk kemanfaatan masyarakat.
Nah saya melihatnya itu kalau secara pribadi ya. Kenapa saya melihat itu, karena melihat Provinsi Banten yang hari ini kan paling dekat nih dengan Jakarta, tapi justru kondisi Banten masih tertinggal.
Orang hanya melihat Banten itu hanya sekitaran Tangerang, padahal Banten itu sampai Ke Ujung Kulon, Bayah ya berbatasan dengan Sukabumi, Malimping berbatasan dengan laut lepas laut Samudera kan dan kemudian juga kita ini di batas laut lepasnya itu kita berbatasan dengan Australia, Christmas Island.