ilustrasi bayi makan (pexels.com /MART PRODUCTION)
Selain itu juga asupan gizi saat Makanan Pendamping Air Susu Ibu (MPASI) juga berpengaruh. Pasalnya, saat mpasi merupakan tantangan orang tua, berhubungan dengan mood anak seperti Gerakan tutup mulut (GTM).
"Ketika GTM kemudian tidak mau makan asupan menjadi berkurang sehingga nutrisi berkurang. Atau juga pilihan menu mpasi tidak diperhatikan. Apalagi ibu bekerja memilih yang instan atau beli yang home made tetapi tidak mengetahui nutrisinya. Untuk itu perlu diperhatikan saat pemberian mpasi pada anak supaya bisa mencukupi kebutuhan nutrisi pada anak," ungkapnya.
Ditambahkan lagi, perempuan yang juga seorang Konselor Laktasi ini menuturkan faktor resiko dari ADB, yang pertama sering terjadi pada anak prematur dan berat badan rendah. Karena anak-anak prematur dan badan rendah semua sistem dalam tubuhnya belum siap tetapi harus lahir. Selain itu anak yang memiliki penyakit kronis, anak yang sering batuk pilek biasanya asupan nutrisinya tidak diedarkan dengan baik dalam tubuhnya.
"Yang harusnya nutrisnya harus sampai tetapi tidak sampai karena sering sakit. Kemudian obesitas pada anak juga tidak baik, yang menjadi satu faktor ADB pada anak dan pemenuhan nutrisi pada MPASI pada anak yang tidak sesuai," tuturnya.
Di sisi lain, anak yang lahir prematur dan berat badan rendah dari lahir cadangan terhadap zat besi sudah sedikit karena memang belum siap lahir. Sel darah merah pada anak lahir prematur dan berat badan rendah usia hidupnya lebih sedikit atau lebih cepat rusak sehingga nutrisinya menjadi tidak seimbang.
“Meskipun memberikan nutrisinya baik tetapi saat penyebaran makanan ke seluruh tubuh tidak maksimal. Karena yang mengedarkan sari-sari makanan dan oksigen ada zat besi dan sel darah merah, sehingga ketika sel darah merah sedikit dan cepat rusak maka nutrisnya yang harusnya sampai dan tidak menjadi maksimal yang membuat anak mengalami ADB,” ungkapnya.
Dalam live bersama Doodle Exclusive Baby Care, Novita juga menjelaskan bahwa bayi yang mengonsumsi Air Susu Ibu (ASI) lebih tidak berisiko terkena ADB, daripada anak yang tidak diberikan ASI. Hal ini karena ASI mengandung zat besi, dan sifatnya lebih mudah terserap daripada zat besi yang dari luar melalui obat-obatan yang mengandung zinc dan fe.
"Anak yang mengkonsumsi ASI memiliki resiko lebih kecil terkena ADB karena di dalam ASI ada zat besi dan mudah terserap," jelasnya.
Namun, untuk anak yang sudah didiagnosa ADB sudah harus diterapi dengan meminum tambahan suplemen zat besi.
"Kalau sudah MPASI tambahkan makanan yang mengandung zat besi seperti buah beat, bayam merah, daging merah. Mengandalkan dari bahan makanan juga tidak cukup dari proses banyak yang terbuang, makanya harus juga ditambahkan suplemen,” ungkap Bidan Novita.
Tenaga Kesehatan yang berdominisili di Salatiga juga menerangkan anak yang mengalami Anemia defisiensi besi (ADB) sendiri terdiagnosa mulai anak MPASI dan berat badannya tidak naik. Tanda anak yang ADB atau flek paru mulai terdeteksi minimal anak MPASI minimal berat badan harus naik 1 gram per bulannya, atau dalam satu tahun 200 hingga 400 gram. Ketika berat badannya tidak sesuai dengan usianya biasanya akan diarahkan untuk cek laboratorium.
“Saat anak tidak mengalami ADB dalam hasil cek laboratorium kemudian akan dicek ke Tuberkulosis apakah ada masalah pada parunya. Kalau anak tidak dicek tidak mengetahui apa penyebab anak tidak naik berat badannya. Untuk itu perlu dikonsultasikan sehingga supaya dicari tahu penyebabnya, dan tahu bagaimana pencegahannya. Selain itu, orangtua harus aware terhadap kenaikan berat badan bayi atau anak mulai dari bayi hingga satu tahun. Karena seringnya terjadi mulai nol bulan hingga satu tahun,” ungkapnya.