Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Waspada! Silent Disease pada Bayi Bisa Sebabkan Stunting
Dok. Bidan Novita

Tangerang, IDN Times - Silent disease merupakan sesuatu yang menjadi momok ibu muda saat ini. Sekarang ini angka terjadinya stunting di Indonesia sangat banyak. Makanya Indonesia sedang menggalakkan zero stunting pada 2024. Hal tersebut disampaikan oleh Bidan Novita Andia dalam bincang-bincangnya bersama Doodle Exclusive Baby Care.

Menurut Novita, stunting itu merupakan terjadi keterlambatan pertumbuhan dan perkembangan pada anak.

"Yang diketahui orang, terjadi keterlambatan pertumbuhan dan perkembangan pada anak memiliki faktor karena gizinya. Padahal banyak faktor lain yang menyumbang kenapa stunting bisa terjadi. Setelah dilakukan penelitian dan observasi ternyata, ada penyakit yang menyumbangkan terjadinya stunting atau dikenal dengan istilah silent disease," kata Novita, Minggu (4/2/2024).

1. Silent disease berbahaya karena jarang disadari

anak makan makanan sehat (pexels.com/Alex Green)

Novita mengungkapkan, silent disease berbahaya lantaran sering kali tidak disadari oleh para orangtua, sehingga sang bayi dianggap tak memiliki penyakit apa pun. Hal tersebut membuat silent disease memengaruhi tumbuh kembang bayi dalam jangka waktu yang lama.

"Silent disease ini penyakit yang tidak bergejala secara fisik dan sering kali tidak disadari oleh orangtua dan akan sadar kalau sudah terdiagnosa. Awalnya biasa saja makan. Tetapi semakin ke sini, tumbuhnya tidak sesuai. Setelah dicari tahu ternyata itulah menjadi penyebab stunting,” terangnya.

2. TBC dan ISK paling banyak dialami bayi

Ilustrasi TBC (Wikimedia.org/CDC)

Owner Vidia Mom Baby Spa & Daycare tersebut mengatakan, beberapa contoh penyakit silent disease di antaranya anemia pada anak, flek paru atau Tuberkulosis (TBC), Infeksi Saluran Kencing (ISK). Flek paru terjadi pada anak termasuk dalam kategori TBC. Flek terjadi pada anak yang disebabkan karena polusi, orangtua merokok, tinggal di perumahan karena ventilasi yang kurang.

“Sedangkan penyakit Infeksi Saluran Kencing sering terjadi pada bayi, tidak bergejala. Gejalanya yang sering demam, juga penggunaan pampers. Idealnya penggunaan pampers 3 hingga 4 jam, iklan pampers sampai 8 jam inilah yang menyebabkan ISK. Ada juga penyakit jantung bawaan dan gagal hati. Tetapi dua penyakit ini sudah terlihat dari bayi. Yang tidak terlihat seperti anemia pada anak, flek paru atau TBC, ISK,” tuturnya.

Berbicara tentang Anemia defisiensi besi (ADB), Novita menerangkan anak yang memiliki anemia ini kekurangan di zat besi. Di mana, satu penyebabnya bisa terjadi sejak dalam kandungan ibu yang mengalami anemia.

“Saat hamil sudah kekurangan zat besi kadar HB yang normal pada ibu hamil adalah 11 dibawah itu sudah termasuk anemia. Diusahakan ketika hamil memiliki HB yang stabil normal yakni di atas 11 supaya tidak berimpact pada perkembangan anak. Anak yang ADB dimulai dari kehamilan ibu yang mengalami anemia,” katanya.

3. Proses MPASI yang tidak sesuai panduan juga disebut bisa memengaruhi zat besi bayi

ilustrasi bayi makan (pexels.com /MART PRODUCTION)

Selain itu juga asupan gizi saat Makanan Pendamping Air Susu Ibu (MPASI) juga berpengaruh. Pasalnya, saat mpasi merupakan tantangan orang tua, berhubungan dengan mood anak seperti Gerakan tutup mulut (GTM).

"Ketika GTM kemudian tidak mau makan asupan menjadi berkurang sehingga nutrisi berkurang. Atau juga pilihan menu mpasi tidak diperhatikan. Apalagi ibu bekerja memilih yang instan atau beli yang home made tetapi tidak mengetahui nutrisinya. Untuk itu perlu diperhatikan saat pemberian mpasi pada anak supaya bisa mencukupi kebutuhan nutrisi pada anak," ungkapnya.

Ditambahkan lagi, perempuan yang juga seorang Konselor Laktasi ini menuturkan faktor resiko dari ADB, yang pertama sering terjadi pada anak prematur dan berat badan rendah. Karena anak-anak prematur dan badan rendah semua sistem dalam tubuhnya belum siap tetapi harus lahir. Selain itu anak yang memiliki penyakit kronis, anak yang sering batuk pilek biasanya asupan nutrisinya tidak diedarkan dengan baik dalam tubuhnya.

"Yang harusnya nutrisnya harus sampai tetapi tidak sampai karena sering sakit. Kemudian obesitas pada anak juga tidak baik, yang menjadi satu faktor ADB pada anak dan pemenuhan nutrisi pada MPASI pada anak yang tidak sesuai," tuturnya.

Di sisi lain, anak yang lahir prematur dan berat badan rendah dari lahir cadangan terhadap zat besi sudah sedikit karena memang belum siap lahir. Sel darah merah pada anak lahir prematur dan berat badan rendah usia hidupnya lebih sedikit atau lebih cepat rusak sehingga nutrisinya menjadi tidak seimbang.

“Meskipun memberikan nutrisinya baik tetapi saat penyebaran makanan ke seluruh tubuh tidak maksimal. Karena yang mengedarkan sari-sari makanan dan oksigen ada zat besi dan sel darah merah, sehingga ketika sel darah merah sedikit dan cepat rusak maka nutrisnya yang harusnya sampai dan tidak menjadi maksimal yang membuat anak mengalami ADB,” ungkapnya.

Dalam live bersama Doodle Exclusive Baby Care, Novita juga menjelaskan bahwa bayi yang mengonsumsi Air Susu Ibu (ASI) lebih tidak berisiko terkena ADB, daripada anak yang tidak diberikan ASI. Hal ini karena ASI mengandung zat besi, dan sifatnya lebih mudah terserap daripada zat besi yang dari luar melalui obat-obatan yang mengandung zinc dan fe.

"Anak yang mengkonsumsi ASI memiliki resiko lebih kecil terkena ADB karena di dalam ASI ada zat besi dan mudah terserap," jelasnya.

Namun, untuk anak yang sudah didiagnosa ADB sudah harus diterapi dengan meminum tambahan suplemen zat besi.

"Kalau sudah MPASI tambahkan makanan yang mengandung zat besi seperti buah beat, bayam merah, daging merah. Mengandalkan dari bahan makanan juga tidak cukup dari proses banyak yang terbuang, makanya harus juga ditambahkan suplemen,” ungkap Bidan Novita.

Tenaga Kesehatan yang berdominisili di Salatiga juga menerangkan anak yang mengalami Anemia defisiensi besi (ADB) sendiri terdiagnosa mulai anak MPASI dan berat badannya tidak naik. Tanda anak yang ADB atau flek paru mulai terdeteksi minimal anak MPASI minimal berat badan harus naik 1 gram per bulannya, atau dalam satu tahun 200 hingga 400 gram. Ketika berat badannya tidak sesuai dengan usianya biasanya akan diarahkan untuk cek laboratorium.

“Saat anak tidak mengalami ADB dalam hasil cek laboratorium kemudian akan dicek ke Tuberkulosis apakah ada masalah pada parunya. Kalau anak tidak dicek tidak mengetahui apa penyebab anak tidak naik berat badannya. Untuk itu perlu dikonsultasikan sehingga supaya dicari tahu penyebabnya, dan tahu bagaimana pencegahannya. Selain itu, orangtua harus aware terhadap kenaikan berat badan bayi atau anak mulai dari bayi hingga satu tahun. Karena seringnya terjadi mulai nol bulan hingga satu tahun,” ungkapnya.

4. Calon ibu hamil diminta untuk persiapkan nutrisi sebelum kehamilan

ilustrasi Ibu hamil (unsplash.com/Alicia Petresc)

Novita pun mengimbau, calon ibu hamil yang tengah merencanakan kehamilan harus mempersiapkan kehamilan dan juga saat menyusui dan saat kelahiran anak. Mengambil keputusan program anak sudah dipastikan benar-benar siap agar menghindari kejadian yang tidak diinginkan seperti salah satunya stunting. Faktor utamanya hanya dua, yang pertama kebersihan lingkungan kemudian asupan gizi. 

"Yang harus diperhatikan 1000 hari pertama kehidupan pada anak seperti ASI eksklusif, asupan gizi harus baik, hamilnya harus sehat. Semangat memerangi untuk Indonesia zero stunting," tuturnya.

Editorial Team