Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Ilustrasi penumpang mancanegara
Ilustrasi penumpang mancanegara di Bandara Soekarno-Hatta (IDN Times/Maya Aulia Aprilianti)

Intinya sih...

  • Hewan dari wilayah terjangkit diperiksa ketat, petugas bandara menggunakan perlindungan

  • Masyarakat diimbau waspada terhadap penularan virus Nipah melalui hewan dan buah-buahan mentah

  • Fatality Rate virus Nipah mencapai 70 persen, gejala tidak spesifik dan belum ada vaksin atau obatnya

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Tangerang, IDN Times - Balai Besar Kekarantinaan Kesehatan Pelabuhan (KKP) Bandara Internasional Soekarno-Hatta (Soetta) memperketat pengawasan penumpang internasional. Hal itu dilakukan sebagai bentuk antisipasi mewabahnya virus Nipah di sejumlah negara.

Kepala Balai Besar Kekarantinaan Kesehatan Soekarno-Hatta, Naning Nugrahini mengungkapkan, pengetatan pengawasan awal dilakukan melalui deklarasi kesehatan pada aplikasi All Indonesia. "Pemantauan tanda dan gejala dengan thermal scanner, observasi visual pada pelaku perjalanan oleh petugas pada pos kesehatan kesehatan di bandara," kata Naning, Selasa (27/1/2026).

1. Hewan yang masuk dari wilayah terjangkit juga bakal diperiksa ketat

Terminal 3 Bandara Internasional Soekarno-Hatta (IDN Times/Maya Aulia Aprilianti)

Selain itu, pihaknya juga mengungkapkan, hewan yang masuk dari wilayah terjangkit diperketat dan dilakukan pemeriksaan kesehatan. Petugas bandara yang kontak langsung dengan pelaku perjalanan menggunakan masker, sarung tangan, sering cuci tangan pakai sabun atau dengan hand sanitizer.

"Hingga saat ini belum ditemukan adanya temuan," ungkap Naning.

2. Masyarakat juga diimbau untuk waspada penularan virus itu melalui hewan

Kepala Barantin, Sahat M. Panggabean meninjau di Bandara Soetta (IDN Times/Maya Aulia Aprilianti)

Naning mengimbau kepada masyarakat agar mewaspadai hewan penular yang sakit seperti flu, lalu, jika akan memakan buah-buahan mentah agar dicuci bersih dan dikupas.

"Bila menemukan buah bekas gigitan kelewawar dan lain-lain agar tidak dimakan," jelasnya.

3. Fatality Rate virus Nipah mencapai 70 persen

Kepala Barantin, Sahat M. Panggabean meninjau di Bandara Soetta (IDN Times/Maya Aulia Aprilianti)

Naning menegaskan, potensi risiko untuk menyebarnya virus Nipah di Indonesia ada, lantaran hewan-hewan penular virus Nipah, yakni kelelawar dan babi. Apalagi, fatality rate dari virus ini 40 sampai dengan 70 persen. "Gejala tidak spesifik, mulai dari flu, pilek, nyeri otot, yang parah hingga kejang-kejang," jelasnya.

Selain itu, virus ini juga belum ada vaksin maupun obat yang bisa menanganinya. Untuk itu, jika ditemukan adanya gejala virus tersebut di Bandara Soetta maka akan ditangani sesuai dengan gejalanya saja.

Editorial Team