Comscore Tracker

Perjuangan Kelompok Lawak Daerah di Balik Hiburan dan Kritik Sosial

Mereka bertahan di tengah keterbatasan dan tantangan

Serang, IDN Times - Kelompok lawak kedaerahan turut mewarnai perjalanan dunia berkesenian Tanah Air. Salah satu kelompok yang legendaris adalah Srimulat.

Belakangan ini, Srimulat pun kembali ramai dibicarakan, setelah kisahnya diangkat ke layar lebar dengan judul Srimulat: Hil yang Mustahal - Babak Pertama, hasil kerja sama IDN Pictures dan MNC Pictures.

Gaung kelompok lawak yang didirikan oleh Teguh Slamet Rahardjo di Surakarta pada tahun 1950 itu memberikan harapan juga kepada pegiat kesenian serupa lainnya.  Ya, teater dan kelompok lawak yang mengusung bahasa daerah tumbuh di hampir semua wilayah Tanah Air. Di Jawa Timur, orang mengenal ludruk, di Banten juga ada ubruk, hingga Dul Muluk di Sumatra.

Tak semua bisa sukses hingga ke pentas nasional seperti Srimulat. Sebagian lainnya harus berjuang di tengah berbagai tantangan, termasuk budaya asing dan pandemik COVID-19 yang meluluhlantakkan berbagai sendi kehidupan. 

Sejarah panjang kelompok lawak di Tanah Air tak selalu berbanding lurus dengan popularitas, apalagi kesejahteraan. 

Kolaborasi IDN Times hyperlocal kali ini mengangkat sejumlah kelompok teater dan kesenian di beberapa daerah. Di tengah berbagai tantangan dan keterbatasan, mereka berusaha tetap hadir dan berfungsi sebagai alternatif hiburan, memberi kritik sosial dengan cara lucu, hingga sebagai alat perjuangan. 

Simak kisah mereka.

Baca Juga: Film Srimulat Hil yang Mustahal Merupakan Kritik untuk Millennial

Keseharian rakyat dan kritik sosial dikemas menjadi cerita yang lucu dan menghibur

Perjuangan Kelompok Lawak Daerah di Balik Hiburan dan Kritik SosialSalah satu pelawak lokal Jawa Timur, Cak Kartolo. (Instagram/@cakkartolochannel)

Kartolo bukan nama asing, terutama di Jawa Timur. Namanya juga tengah mencuat setelah mendapat peran di beberapa judul film tanah air seperti Guru Bangsa: Tjokroaminoto dan Yowis Ben Series.

Cak Kartolo, begitu dia akrab disapa, merupakan seorang pelawak sekaligus pemain kesenian ludruk yang  terkenal di Jawa Timur.  Pentolan Kartolo Cs ini memulai karier sebagai pemain ludruk pada 1940-an dan kerap tampil di sejumlah gelaran ludruk yang ditanggap oleh pemerintah maupun pihak lain.

Lawakan bahasa Jawa Kartolo yang khas membuat banyak masyarakat Jawa Timur senang dengannya. Bahkan, di beberapa pertunjukan, Kartolo juga sering membawakan kidungan.

Ludruk merupakan drama tradisional yang diperagakan oleh sebuah grup kesenian yang dipergelarkan di sebuah panggung menggunakan bahasa Jawa Timuran. Biasanya kelompok ludruk mengambil cerita tentang kehidupan rakyat sehari-hari, cerita perjuangan yang diselingi dengan lawakan dan diiringi dengan gamelan sebagai musik. Tak jarang, ludruk pun berfungsi sebagai kritik sosial melalui dagelan yang dibawakan.

Kritik sosial, menurut sosiolog Universitas Padjadjaran (Unpad) Ari Ginanjar, juga tampak pada film Srimulat Hil yang Mustahal babak pertama. Tak hanya menampilkan sebuah biografi komedi grup lawak, film ini dinilai sarat pesan tersirat yang mengkritik kondisi saat ini.

"Dalam film ini Srimulat banyak mengajarkan kerja keras, jadi sesuatu itu tidak mudah dicapai dan ini pesan yang paling kena banget," ujar Ari saat dihubungi, Jumat (27/5/2022). 

Menurutnya, pesan kerja keras ini tepat untuk mengkritik generasi Millennial dan Gen Z. Sebab, budaya yang kini tengah berjalan oleh dua generasi itu adalah ingin serba instan tanpa melalui kerja keras.

"Generasi itu kan cenderung pragmatis cenderung praktis. Nah di film ini dikritik," ungkapnya.

Sebagai grup lawak kenamaan, Srimulat memang berbeda dengan beberapa grup lawak yang tenar pada masanya. Selain itu, setiap generasi dikatakannya memang selalu ada budaya komedi yang berbeda. Namun, ada beberapa pesan yang tetap bisa dipelajari.

Menyeberang ke Bali, di sana ada kelompok lawak tradisional dengan nama Bondres Dadong Rerod. Kelompok ini memang tak setenar Srimulat atau Kartolo yang sampai ke pentas nasional.

Bondres Dadong Rerod beranggotakan empat orang, yaitu I Wayan Juana Adi Saputra sebagai Dadong Rerod, I Made Sudarsana sebagai Dek Cilik, Wayan Kencana sebagai Desak Rai, dan Wayan Sumada sebagai Wayan Jebug.

"Kebetulan kami menyukai seni pertunjukan dan kemudian membentuk grup Bondres Dadong Rerod sekitar 10 tahun lalu," ujar I Made Sudarsana, Rabu (25/5/2022).

Dadong Rerod sendiri merupakan tokoh nenek tua cerewet, enerjik, dan jenaka. Sedangkan Dek Cilik adalah orang dari kalangan bawah yang berasal dari Jawa, namun fasih berbahasa Bali. Sudarsana harus berperan menggunakan logat medok Jawa. Sementara Desak Rai adalah seorang penari joget yang pintar bernyanyi dan menari. Wayan Jebug adalah karakter orang Bali yang jenaka.

Salah satu keunikan Bondres Dadong Rerod adalah, mereka tetap mempertahankan pakem. Ciri khas bondres adalah pakaian pakem tradisional Bali, makeup yang mencolok, dan tentu saja: bahasa Bali.

"Tetapi kami juga tidak pakem harus berbahasa Bali sepanjang pertunjukan. Jika ada informasi yang memang tidak klop pakai Bahasa Bali, kita pakai Bahasa Indonesia," terangnya.

 

Baca Juga: Kisah Made Puja Darsana, Seniman Klungkung Pelestari Bondres

Lakon ubrug Banten yang pernah dipakai sebagai bagian dari misi intelijen

Perjuangan Kelompok Lawak Daerah di Balik Hiburan dan Kritik SosialDok. Istimewa/nanda

Beberapa lakon drama dan lawak di Tanah Air memiliki sejarah panjang, bahkan ke masa kolonial atau penjajahan. Di era itu, kelompok lawak memiliki wajah lain, selain untuk menghibur rakyat.

Ubrug di Banten, misalnya. Salah satu pegiat Ubrug di Pandeglang Parwa Rahayu, mengungkap bahwa sejak masa kolonial, hampir semua pertunjukan rakyat digunakan sebagai alat perjuangan, pengumpul massa, hingga sebagai identitas masyarakat.

Ubrug juga demikian dan kerap dipakai sebagai sarana untuk memata-matai musuh. “Sebagai misi intelijen untuk mengetahui kekuatan musuh atau musuh dimana karena mereka berkeliling saat mentas,’’ kata Parwa kepada IDN Times, Jumat (27/5/2022).

Namun setelah penjajahan, kesenian ini menjadi sarana hiburan masyarakat bagi masyarakat pelosok di Banten. "Kalau di kota, jadi media sosialisasi program pemerintah,’’ katanya.

Ubrug masih dipentaskan hingga saat ini dengan menampilkan musik, tarian, dan teater dengan dibungkus dengan komedi. Biasanya, ubrug dipentaskan pada acara nikahan atau hiburan masyarakat di hari-hari besar.

Salah satu ciri khas ubrug, para lakon menggunakan bahasa Sunda dialek Banten, Jawa dialek Banten, hingga Melayu Betawi. Kekayaan bahasa dan budaya Banten dapat terlihat dari pertunjukan ubrug karena pegiat seni ini umumnya menguasai banyak bahasa.

‘’Salah satunya abah Rancung seniman ubrug asal Panimbang, Pandeglang menguasai tiga bahasa,” kata Parwa.

Mereka konsisten dalam mensyiarkan budaya dan kearifan lokal

Perjuangan Kelompok Lawak Daerah di Balik Hiburan dan Kritik SosialLebah Begantong (IDN Times/Istimewa)

"Ikuti zamanmu, jangan tinggalkan budayamu"

Jargon inilah yang digunakan Lebah Begantong, Orkes Melayu dalam mensyiarkan budaya di Sumatra Utara. 

"Kami berbentuk sebuah grup yang bergerak di bidang budaya. Membuat pergerakan mandiri dan keliling di sekitar Sumut. Untuk memperkenalkan Lebah Begantong, kami bawa program Ketipak Ketipung Melalak, main ke Tanjung  Pura di Langkat, Desa Percut, sekitar Sumut," ungkap Zainal Arifin Nasution, Pemain Oud/Gitar di Lebah Begantong, kepada IDN Times, Jumat (27/5/2022). 

Uniknya, kelompok yang terdiri dari sepuluh orang ini memiliki latar belakang dari etnis yang berbeda. Meskipun demikian, mereka punya satu tujuan yang sama, konsisten untuk mensyiarkan budaya Melayu melalui musik. "Awalnya manggung itu di Kedai Sri Lela Manja," kata Arifin.

Sejak dibentuk, grup musik Orkes Melayu Lebah Begantong ini memiliki personel sepuluh orang, dan kini jumlahnya masih sama, sejak kelompok ini terbentuk tahun 2017. 

Nama Lebah Begantong sempat viral lantaran salah satu lagunya digunakan dalam kampanye pemilihan kepala daerah (pilkada) tahun 2020 lalu. Selain menyanyikan lagu-lagu Melayu, Lebah Begantong juga dikenal dengan menampilkan pantun jenaka yang membawa pesan moral. 

"Pada umunya membawakan pantun itu spontanitas. Pantun itu ujung tombak dari Lebah Begantong, nilai tertinggi yang bisa kami angkat dari grup ini. Melestarikan budaya Melayu," ucap Arifin.

Menariknya, pantun jenaka ini lah yang kini justru membuat Lebah Begantong viral hingga kini diundang di acara stasiun televisi nasional. "Kami juga gak nyangka akhirnya dapat dukungan, bisa viral di TikTok," tuturnya.

Arifin menyebutkan jika dalam penampilan musik orkes Melayu lainnya menggunakan kata sindiran, namun hal itu tidak akan ditemukan di Lebah Begantong. Katanya, Lebah Begantong menyelipkan edukasi di setiap pantun-pantun yang disampaikan.

"Kadang-kadang yang dikenal awam itu pantun Melayu hanya sekadar pantun lucu, padahal gak hanya sebatas itu. Kami bukan sebagai tontonan aja, tapi tuntunan juga. Kami punya jargon dari Tengku Zainuddin, ikuti zamanmu, jangan tinggalkan budayamu," tuturnya.

Berkeliling dari kampung ke kampung juga dijalani teater rakyat di Sumatra Selatan, Dul Muluk. Dalam setiap lakon, kearifan lokal Sumatra Selatan pun menjadi inti.

Ketua Dewan Kesenian Palembang (DKP) M Iqbal Rudianto mengatakan, masih banyak orang yang menjaga kesenian Dul Muluk. Ia mencatat masih ada lebih dari 10 sanggar yang bertahan memainkan Dul Muluk bangsawan. 

Sebagai informasi, cerita Dul Muluk ada dua. Pertama, Dul Muluk versi pantomim dan kedua Dul Muluk bangsawan. Dul Muluk bangsawan inilah yang sekarang berkembang menjadi teater rakyat di Palembang. Ceritanya pun bisa disesuaikan dengan keperluan acara pemilik acara.

"Sebenarnya penyebutan kesenian ini adalah Dul Muluk bangsawan. Namun masyarakat belum ngeh perbedaannya, jadi tetap menyebut dengan Dul Muluk saja," kata dia. 

Dul Muluk menjelma menjadi sarana kesenian yang menghibur masyarakat dari penatnya rutinitas. "Kita juga memantau dan memonitor bagaimana perkembangan Dul Muluk di Palembang. Masih banyak Dul Muluk di kampung-kampung Palembang, utamanya saat pernikahan atau hajatan," kata Iqbal. 

Tak hanya dari kampung ke kampung dan sanggar, Dul Muluk juga dimainkan di sekolah-sekolah hingga universitas. 

Teater Dul Muluk lahir dari kitab kejayaan Kerajaan Melayu yang selesai ditulis pada 2 Juli 1845 tentang syair Abdul Muluk. Menurut Randi, awal mulanya teater tersebut dibawa dari Riau dan diadaptasi di Palembang. Dul Muluk pertama kali dipentaskan oleh Wan Bakar di depan rumahnya di kawasan Tangga Takat 16 Ulu, Palembang.

Saat pertama kali diadaptasikan di Palembang dari Kitab Kejayaan Melayu tersebut, Wan Bakar memberi sentuhan teatrikal dalam pembacaan pantun dan syair Melayu.

"Dul Muluk itu dari segi unsur kesenian sangat kompleks. Ada akting, sastra, sajak AAAA atau BBBB, pantun ABAB, kostum busana tersendiri. Lalu setiap penampilan dimulai dan ditutup dengan beremas atau tarian dan nyanyian," jelas dia.

Keunikan teater Dul Muluk terdapat pada penggabungan bahasa Indonesia dan Palembang. Biasanya, setiap kata-kata yang dirangkai menjadi lelucon yang wajib menggunakan bahasa Palembang.

"Kalau zaman dulu (era 60-80), teater Dul Muluk dilaksanakan semalam suntuk. Sekarang tujuannya hanya melucu, biasanya pesanan sekitar 10 menit sampai setengah jam," jelas dia.

Baca Juga: Dul Muluk Teater Rakyat Palembang Bertahan Dalam Laju Zaman

Baca Juga: Nasib Seni Teater di Lampung, Seniman Senior: Rusak Parah

Regenerasi dan menarik minat kaum muda

Perjuangan Kelompok Lawak Daerah di Balik Hiburan dan Kritik SosialIDN Times/Arief Rahmat

Salah satu tantangan kelompok lawak ini adalah regenerasi. Di tengah derasnya arus budaya asing yang masuk Indonesia, kelompok lawak daerah ini kian ditinggal penggemar dengan usia muda. 

Hal ini diakui pelawak asal Yogyakarta, Anang Batas. "Di Yogyakarta, generasi muda yang mulai menggeluti profesi sebagai komedian kelihatannya stagnan. Kalaupun ada hanya satu atau dua saja," katanya kepada IDN Times, Jumat (27/5/2022).

Kemunculan film yang mengangkat pelawak legendaris Indonesia, kata dia, bisa menjadi penyemangat bagi generasi muda untuk menekuni profesi sebagai komedian. Namun kegalauan dirasakan oleh pemilik nama lengkap Ignasius Dwi Yatmoko ini. 

Kegelisahan Anang Batas ditambah dirinya tak lagi muda dan sangat membutuhkan generasi baru yang bisa berprofesi sebagai komedian.

"Terus terang saya melucu dengan gaya bahasa plesetan, Eko Bebek yang juga komedian di Yogyakarta yang tak muda juga resah. Suk sapa sing neruske awakke dewe iki (siapa yang nantinya akan meneruskan profesi sebagai komedian atau pelawak ini)," ujarnya.

Zainal Arifin Nasution, Pemain Oud/Gitar di Lebah Begantong dari Sumut mengungkap, Lebah Begantong ingin memberikan inspirasi kepada generasi millennial agar tidak melupakan budaya di zaman sekarang.

"Dengan membawakan lagu Melayu atau musik tradisional itu tidak menjadikan kita kelihatan kuno. Justru dengan tampilan dan gaya kita bermusik bisa jadi kemasan baru. Dikemas dengan sekreatif mungkin," ungkapnya.

Sementara itu, pengelola Overact Theatre Mataram Bagus Prasetyo Suryanto mengungkapkan, kian sedikit kaum muda yang berminat masuk seni pertunjukan teater. Misalnya di Over Act Theatre, dalam setahun sekitar 2 atau tiga orang yang ikut bergabung.

Dia mengaku belum mengetahui penyebab anak-anak SMA/SMK atau mahasiswa tidak banyak tertarik masuk teater.

Kalaupun banyak yang mendaftar masuk teater tetapi yang bisa bertahan sedikit. Misalnya sebelum pandemik COVID-19, peminat seni teater bisa mencapai 50 orang. Mereka ini mayoritas siswa-siswa SMA/SMK di Mataram. Hanya saja jumlah tersebut, yang hanya mampu bertahan belajar teater sebanyak 10 hingga 15 orang. 

Di masa pandemik, anak-anak yang mendaftar masuk teater sangat berkurang, turun menjadi sekitar 15 orang. Itu pun yang bertahan hanya sedikit sekitar 5 orang. Meskipun teater menjadi salah satu ekstrakurikuler di SMA/SMK, Bagus mengatakan masih kalah dengan ekstrakurikuler yang lain.

"Harapan saya paling tidak teater lebih dihargai. Karena kalau nonton film, mau mengeluarkan Rp35 ribu per jam. Mending difasilitasi untuk di SMA/SMK. Tiap bulan ada workshop tentang teater, karena itu jarang sekali dilakukan," ungkapnya.

Pengelola Teater Eksodus Mataram Asta Tabibudin menambahkan,  perhatian pemerintah terhadap pengembangan teater masih minim. Namun, teater modern tetap eksis di tengah minimnya perhatian pemerintah.

"Kalau teater modern tetap eksis karena dia punya pasar sendiri. Teater NTB punya daya tahan cukup kuat," ujarnya.

Di Mataram, kata Asta, kompetisi antar kelompok teater tingkat pelajar masih tetap rutin digelar Universitas Mataram (Unram) dan Universitas Muhammadiyah Mataram (Ummat).

Dari kompetisi teater pelajar itu akan muncul generasi-generasi baru. Asta melihat pemerintah daerah masih memilah di antara kesenian tradisi dan teater. Sehingga kelompok-kelompok teater lebih mampu untuk bertahan. 

Kepala Bidang Kebudayaan Dinas NTB Fairuz Abadi menilai, minimnya perhatian terkait pemajuan kebudayaan karena tidak adanya regulasi. Regulasi ini menjadi penting untuk mengawal gerakan-gerakan pemajuan kebudayaan, khususnya di NTB.

Pemprov NTB, kata dia, telah menerbitkan Peraturan Daerah tentang Pemajuan Kebudayaan. Perda tersebut selanjutnya dibuat aturan teknisnya menjadi Peraturan Gubernur (Pergub).

"Dengan dua legalitas resmi dari DPRD dan eksekutif, maka tentu ada kewajiban dari pemerintah untuk membiayai seluruh instrumen gerakan kebudayaan yang ada di NTB," terangnya.

Teater sendiri, kata Fairuz merupakan unsur pemajuan kebudayaan dari kesenian. Teater ini berkembang di mana-mana yang dilaksanakan oleh kelompok masyarakat adat, sanggar dan sekolah.

Dengan kondisi penganggaran yang masih terbatas, maka prioritas Dinas Dikbud adalah melakukan pembinaan terhadap sanggar-sanggar teater di sekolah-sekolah dalam 2 tahun terakhir. Pembinaan diprioritaskan dilakukan di sekolah, karena siswa juga bagian dari masyarakat umum. Dia juga akan membentuk teater-teater kecil ketika berada di lingkungan masyarakat umum.

"Ketika kita mengambil lokus lembaga pendidikan sebagai prioritas maka ada dua hal didapat. Yaitu masyarakat pendidikan dan masyarakat umum. Tapi ke depan pembinaan akan terus kita lakukan linier dengan anggaran kita miliki. Kami melakukan lomba-lomba dengan memanfaatkan teknologi informasi," ujarnya.

Keberadaan kelompok-kelompok teater memiliki peran yang sangat penting di NTB. Kesenian melalui teater merupakan cara memberikan kritikan sosial yang baik. Melalui teater, seseorang mengekspresikan kondisi sosial masyarakat dan pemerintahan dengan membuat orang menjadi senang, dan tidak tersinggung.

Baca Juga: Kisah Teater Lokal NTB Bertahan dari Gempuran Budaya Asing 

Seribu cara memikat penonton dan millennial, dari gelaran teater hybrid, media sosial, hingga nuansa modern

Perjuangan Kelompok Lawak Daerah di Balik Hiburan dan Kritik SosialInstagram.com/balibondres

Sosiolog dari Fakultas Ilmu Sosial (FIS) Universitas Negeri Semarang (Unnes), Fulia Aji Gustaman, dengan adanya pergeseran zaman dan perkembangan arus globalisasi telah menyebabkan minat para millennial untuk menyaksikan sebuah tayangan hiburan menjadi berubah. 

"Pergeseran minat pasti ada. Kalau diprosentasi mungkin minat generasi muda sekarang untuk menonton tayangan-tayangan televisi modern lebih besar karena sesuai dengan zaman mereka dan lingkungan," kata Aji saat dikonfirmasi IDN Times, Jumat (27/5/2022).

Meski demikian, Aji yakin masih ada kaum muda yang peduli untuk mempelajari dan mendalami budaya daerah masing-masing, khususnya Jawa. "Walaupun mereka (anak muda) suka nonton drama Korea, sebenarnya mereka tetap suka kok dengan kreasi inovasi pertunjukan seni budaya Jawa. Apalagi ada nuansa humornya seperti lawak," jelasnya. 

Salah satu buktinya, imbuh Aji, bisa dilihat dari channel Ucup Klaten. Dalam channelnya, Ucup berhasil berkolaborasi dengan Mbah Minto untuk menyuguhkan tontonan seputar cerita-cerita khas Jawa sampai bisa trending. 

"Jadi memang agar anak muda suka dengan lawakan tradisi seperti ketroprak, maka pihak pemerintah atau instansi swasta bisa mengadakan acara-acara ketoprak dengan teknologi menyesuaikan zamannya, misal dengan hybrid. Sehingga semua kalangan dimanapun bisa melihatnya. Ini juga menjadi sarana edikasi untuk memberi contoh bagi anak muda supaya mendalami dan mencintai kesenian lokal," ujar dosen jurusan Sosiologi dan Antropologi tersebut. 

Sementara pelawak lokal Jawa Timur, Cak Kartolo berharap banyak anak muda yang melanjutkan perjuangannya sebagai pelawak lokal berbahasa daerah.

"Ya kalau seniman lokal anak-anak muda senang dengan lawak, nggih monggo (ya silakan) kan sesuai dengan jaman sekarang. Nek awak-awak iki wes tuwo (kalau kita-kita ini sudah tua), nek arek saiki gampang (kalau anak sekarang mudah). Nek aku mbiyen kan ancen teko ludruk (kalau saya dulu kan memang awalnya dari ludruk)," pungkas Kartolo.

Di sisi lain, dia pun menegaskan, dia terus berkarya melalui media lain seperti membuat channel youtube dengan nama "Cak Kartolo Channel".

"Kemarin ini saya diundang tampil di Surabaya Bisnis Festival, kalau gak ada tanggapan sehari-hari saya paling momong putu (jagain cucu)," tuturnya.

Tradisional bukan berarti tidak modern. Hal ini juga yang mendorong pegiat Bondres Dadong Rerod di Bali dalam menarik minat penonton. Mereka mengikuti perkembangan zaman dengan melakukan promosi di media sosial, maupun kanal YouTube.

"Kita harus menyesuaikan diri dengan perkembangan yang terjadi. Tidak boleh ketinggalan," kata Sudarsana. 

Made Puja Darsana asal Banjar Lebah, Kelurahan Kangin, Kabupaten Klungkung, Bali merupakan tokoh kesenian Bondres yang cukup populer di sana. Ia tergabung dalam Kelompok Seni Bondres Buluh Mas dan kerap memakai nama panggung Bengol saat pentas.

Sampai saat ini Made Puja Darsana masih memiliki asa untuk melestarikan kesenian Bondres. Namun, dia mengakui, kesenian Bondres semakin jarang mendapat perhatian masyarakat. Hal itu ditandai dengan semakin jarangnya para seniman Bondres  mendapatkan kesempatan menghibur masyarakat.

“Biasanya dulu pentas saat ada upacara keagamaan. Semisal piodalan di pura, dapat saja undangan untuk tampil. Tapi sekarang mulai berkurang. Beberapa seni pertunjukan seperti Arja juga sudah jarang. Demikian halnya drama gong yang sudah mati suri. Kami tetap berusaha untuk bisa mempertahankan bondres ini melalui lawak inovatif,” ujar Puja Darsana, Jumat (27/5/2022).

Lawak inovatif yang dimaksudkan yakni dengan menambahkan nuansa modern atau mengikuti perkembangan zaman. Mulai dari sisi penampilan karakter, materi lawak, hingga bahasa yang digunakan.

“Modern di sini tentu tanpa menghilangkan pakem seni Bali. Lawak yang mengikuti perkembangan zaman ini, tanpa menghilangkan pakem seni Bali ini, akan lebih bisa diterima berbagai lapisan masyarakat,” ungkapnya.

Baca Juga: Teater Ubrug, Sarana Perjuangan Rakyat Banten Hingga Hiburan

Bertahan di tengah hantaman pandemik COVID-19

Perjuangan Kelompok Lawak Daerah di Balik Hiburan dan Kritik SosialGrafis Covid-19. IDN Times/Arief Rahmat

Tantangan lain yang harus dihadapi para pegiat seni lawak adalah pandemik COVID-19. Nyawa dari setiap pertunjukan adalah kerumunan penonton--yang terlarang di saat pandemik. 

Bondres Dadong Rerod yang berasal dari Bali, misalnya, harus merasakan pahitnya tak ada pemasukan saat di awal pandemik. Tak ada permintaan tampil, artinya tidak ada uang.

Setiap anggota pun terpaksa mencari pendapatan lain. Ada yang menggeluti bisnis kuliner, ada juga yang membuat konten di YouTube.

Turunnya kasus COVID-19, semakin pulih juga perekonomian. Mereka berangsur menerima permintaan untuk tampil lagi meski tidak 100 persen sepeti sebelum pandemik.

"Adalah 30 persen pulih. Jika dulu bisa 20 kali tampil sebulan, maka sekarang baru sekitar lima hingga enam kali tampil," jelas Sudarsana.

Kartolo juga mengaku hal yang sama. Selama dua tahun pandemik ia sempat sepi job. Tak banyak orang yang mengundangnya untuk tampil di panggung, maupun acara tv lokal.

"Saya grub lawak sama 4 orang, kadang main wayang orang, kadang ludruk dan campursari. Ada tanggapan (undangan) di luar tapi gak sebanyak dulu sebelum pandemik," ungkapnya.

Kelompok Lebah Begantong juga merasakan masa-masa beratnya pandemik. Lebah Begantong sempat vakum di pentas. Namun, mereka memilih untuk tidak berdiam diri dengan kondisi itu.

"Cara bertahan di tengah pandemik itu dengan tetap buat konten, live di akun sosial media. Kami juga ikut penggalangan dana untuk seniman mewakili musik Melayu dan kami sudah buat beberapa lagu juga," ujar Arifin.

Seniman bondres asal Bali, Puja Darsana, mengungkapkan sebelum pandemik dia dalam sebulan bisa 15 kali tampil menghibur masyarakat. “Dibombardir COVID-19, nyaris tidak ada undangan untuk tampil,” ungkapnya.

Penulis: Khaerul Anwar, Masdalena Napitupulu, Rangga Erfizal, Silviana, Fariz Fardianto, Khusnul Hasana, Daruwaskita, Ni Ketut Wira Sanjiwani, Wayan Antara, Azzis Zulkhairil.

Topic:

  • Ita Lismawati F Malau

Berita Terkini Lainnya