Comscore Tracker

Museum Multatuli, Referensi Wisata Sejarah Antikolonialisme Indonesia

Belajar sambil wisata di Museum Multatuli, Rangkasbitung

Lebak, IDN Times - Museum Multatuli di Rangkasbitung, Kabupaten Lebak, Banten menjadi museum yang mendokumentasikan paham antikolonial pertama di Indonesia.

Museum Multatuli hadir sebagai wahana pembelajaran sejarah bagi masyarakat, sarana rekreasi sejarah yang mudah aksesnya, dekat dengan ibukota, dan tak dikenakan biaya tiket masuk alias gratis.

Di dalam museum, terdapat sekitar 34 artefak asli maupun replika dari tokoh Eduard Douwes Dekker yang bisa jadi sudut foto Instagramable.

Berlokasi tak jauh dari Stasiun Kereta Api Rangkasbitung, tepatnya di Jalan RM. Nata Atmaja, Rangkasbitung, Lebak, Banten, museum ini cocok untuk tujuan berlibur karena banyak hal yang bisa dilihat dan diketahui dari sini. Apa saja, ya? 

Baca Juga: 5 Food Museum yang Bisa Dikunjungi, Pecinta Kuliner Ayo Merapat

1. Patung para tokoh roman "Max Havelaar" Multatuli, Saijah, dan Adinda

Museum Multatuli, Referensi Wisata Sejarah Antikolonialisme IndonesiaIDN Times/Muhamad Iqbal

Memasuki kawasan museum, para pengunjung akan disambut dengan patung Multatuli yang sedang membaca buku dan di sampingnya terdapat rak-rak buku. Sementara itu, patung Saijah terlihat berdiri tegak, sedangkan Adinda sedang duduk di kursi panjang sambil memandangi rak buku. Saijah dan Adinda merupakan dua tokoh yang diceritakan dalam salah satu bab dari buku Max Havelaar.

Patung-patung karya Dolorosa Sinaga tersebut, kesemuanya bermaterial tembaga.

Lokasi patung ini bagus banget untuk berfoto ria dan menghasilkan foto yang Instagramable.

2. Pesan singkat Multatuli

Museum Multatuli, Referensi Wisata Sejarah Antikolonialisme IndonesiaIDN Times/Muhamad Iqbal

Memasuki ruangan museum, para pengunjung akan disambut dengan wajah Multatuli yang terbuat dari kaca dan sepenggal kalimat “Tugas Manusia Adalah Menjadi Manusia”.

Di ruangan ini, para pengunjung dipersilakan untuk mengisi buku tamu saja, tanpa ada biaya tiket masuk alias gratis.

3. Sejarah awal kedatangan Belanda ke Indonesia

Museum Multatuli, Referensi Wisata Sejarah Antikolonialisme IndonesiaIDN Times/Muhamad Iqbal

Memasuki ruang teater, para pengunjung disajikan video dan diorama kapal layar Eropa yang menggambarkan bagaimana awalnya kolonial Belanda datang ke Indonesia.

Mereka datang melalui perdagangan cengkeh, pala, kopi, lada, dan kayu manis. Dari ruangan ini, kita dapat mengetahui lahirnya yang namanya tanam paksa di selatan Banten atau Cultuurstelsel.

4. Gambaran periode tanam paksa pohon kopi di nusantara

Museum Multatuli, Referensi Wisata Sejarah Antikolonialisme IndonesiaIDN Times/Muhamad Iqbal

Ruangan selanjutnya adalah gambaran tentang periode tanam paksa dengan fokus budidaya kopi. Dalam ruangan ini, para pengunjung dapat melihat biji-biji kopi, alat giling, alat tumbuk, dan lain-lain yang berbau perkopian. 

Dalam ruangan ini pula, terpajang peta sebaran perkebunan kopi nusantara dari zaman kolonial.

4. Orang-orang yang terinspirasi Multatuli

Museum Multatuli, Referensi Wisata Sejarah Antikolonialisme IndonesiaIDN Times/Muhamad Iqbal

Ruang selanjutnya disebut ruang Multatuli. Ruangan ini berisi foto-foto tokoh yang terinspirasi oleh Multatuli. Multatuli atau Eduard Douwes Dekker menulis roman berjudul Max Havelaar, yang pada akhirnya menginspirasi tokoh-tokoh Indonesia, seperti Soekarno, R.A Kartini, Pramoedya Ananta Toer soal kolonialisme itu buruk. Akhirnya, timbul perlawanan dan pemberontakan.

5. Surat-surat Multatuli kepada kerajaan Belanda

Museum Multatuli, Referensi Wisata Sejarah Antikolonialisme IndonesiaIDN Times/Muhamad Iqbal

Dalam ruangan ini pula, diketahui pengelola museum telah bekerja sama dengan Pemerintah Belanda (Multatuli Genootschap) dalam pengadaan artefak-artefak Multatuli, seperti buku roman Max Havelaar edisi pertama berbahasa Prancis, ubin bekas kediaman Multatuli, litografi Multatuli, dan peta Rangkasbitung tempo dulu.

Selain itu, di museum ini terdapat buku Max Havelaar dalam berbagai bahasa dan surat-surat Multatuli untuk kerajaan Belanda.

6. Sejarah perlawanan kolonialisme di Indonesia

Museum Multatuli, Referensi Wisata Sejarah Antikolonialisme IndonesiaIDN Times/Muhamad Iqbal

Ruangan selanjutnya adalah ruangan merah. Dalam ruangan ini, terdapat gambaran-gambaran pemberontakan rakyat terhadap kolonial dari masa ke masa. Salah satunya diceritakan perjuangan para petani di Cilegon, Banten dalam mempertahankan lahan pertaniannya.

Dengan membaca tulisan-tulisan di ruangan ini, pengetahuan soal sejarah dapat bertambah.

7. Rentang sejarah Lebak dari masa ke masa

Museum Multatuli, Referensi Wisata Sejarah Antikolonialisme IndonesiaIDN Times/Muhamad Iqbal

Ruangan berikutnya adalah ruangan bercat cokelat yang menampilkan rentang sejarah Kabupaten Lebak dari masa ke masa. Dalam ruangan ini, terdapat benda sejarah yang amat penting di Lebak, yaitu surat keputusan atau staatsblad pembentukan Kabupaten Lebak tahun 1828 yang menjadi referensi hari lahir Kabupaten Lebak.

Ruangan ini juga diisi dengan foto-foto Lebak tempo dulu, serta replika prasasti yang terdapat di Kabupaten Lebak.

8. Orang-orang hebat Rangkasbitung

Museum Multatuli, Referensi Wisata Sejarah Antikolonialisme IndonesiaIDN Times/Muhamad Iqbal

Ruangan terakhir yang dapat dikunjungi, yaitu ruang berisi potret-potret dari orang-orang hebat keturunan Rangkasbitung, atau mereka yang terinspirasi dari Rangkasbitung. Salah satunya ialah Rendra, yang menulis puisi “Orang-orang Rangkasbitung”. Puisi tersebut juga diputar di ruangan ini.

Baca Juga: 10 Hal Ini Hanya Bisa Kamu Temukan di Osulloc Tea Museum Jeju

Topic:

  • Elfida

Just For You