Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Whitesky Roadshow Asia, Bidik Ekosistem Taksi Udara eVTOL

Kab. Tangerang
4 min read
Whitesky Roadshow Asia, Bidik Ekosistem Taksi Udara eVTOL
Whitesky Aviation dan AutoFlight Bangun Ekosistem eVTOL (Dok. Whitesky Aviation)
  • Whitesky Aviation menggelar roadshow Asia untuk menjajaki kolaborasi eVTOL dan AAM dengan mitra di China, Jepang, serta Korea selama satu tahun ke depan.

  • Perusahaan mencari ekosistem terintegrasi mencakup pesawat, pembiayaan, baterai, pengisian daya, perawatan, pelatihan, infrastruktur, dan dukungan teknis agar eVTOL dapat beroperasi komersial di Indonesia.

  • Pengalaman operasional helikopter menjadi fondasi Whitesky; eVTOL diposisikan sebagai pengembangan layanan, didukung kapabilitas manufaktur China, engineering Jepang, teknologi Korea, serta pasar dan konektivitas Indonesia.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Tangerang, IDN Times - Whitesky Aviation, operator helikopter asal Indonesia, mulai memperluas kolaborasi pengembangan electric Vertical Take-Off and Landing (eVTOL) dan Advanced Air Mobility (AAM) melalui rangkaian roadshow ke sejumlah negara Asia.

Rangkaian tersebut dipimpin Founder dan CEO Whitesky Group, Denon Prawiraatmadja. Dalam satu tahun ke depan, Whitesky akan menjajaki kerja sama dengan berbagai mitra di China, Jepang, dan Korea, mulai dari produsen pesawat, perusahaan pembiayaan, pengembang teknologi baterai dan pengisian daya hingga mitra infrastruktur.

Denon mengatakan, penjajakan tersebut bukan sekadar mencari produsen pesawat eVTOL. Whitesky ingin membangun ekosistem yang memungkinkan teknologi tersebut diterapkan secara nyata di Indonesia.

“Roadshow Asia ini bukan hanya tentang mencari aircraft. Kami sedang mencari partner yang bisa melengkapi operating ecosystem, mulai dari technology, financing, energy, infrastructure hingga technical capability,” ujar Denon dalam keterangan tertulis, Rabu (23/9/2026).

  1. 1. Whitesky jajaki kolaborasi dengan pemain eVTOL China

    Dalam kunjungannya ke China, Whitesky melanjutkan penjajakan dengan sejumlah perusahaan yang bergerak di sektor eVTOL, di antaranya AutoFlight dan Volant Aerotech. Selain produsen pesawat, Whitesky juga membuka pembicaraan dengan perusahaan financial leasing serta pengembang teknologi baterai dan pengisian daya.

    Menurut Whitesky, pengembangan eVTOL untuk kebutuhan komersial tidak cukup hanya mengandalkan teknologi pesawat. Pengoperasian dalam skala besar membutuhkan dukungan pembiayaan, perawatan, energi, infrastruktur hingga kemampuan teknis.

    Dengan demikian, perusahaan menilai pengembangan AAM membutuhkan ekosistem yang terintegrasi agar pesawat dapat dibiayai, dioperasikan, dirawat, diisi energi, dan digunakan secara berkelanjutan.

  2. 2. Pengalaman operasional helikopter jadi modal

    Denon mengatakan, Whitesky memiliki pengalaman operasional penerbangan yang dapat menjadi fondasi untuk masuk ke sektor electric aviation.

    Perusahaan tidak memulai pengembangan tersebut dari nol karena selama ini telah menjalankan bisnis operasional helikopter. Pengalaman tersebut mencakup aspek keselamatan, perawatan, disiplin operasional, infrastruktur, dukungan di darat hingga pengelolaan pelanggan.

    “Kami membawa operating experience yang sudah terbentuk. Yang sekarang kami bangun adalah partnership supaya capability tersebut dapat berkembang ke generasi aviation berikutnya,” kata Denon.

    Menurut dia, kehadiran eVTOL bukan untuk menggantikan helikopter maupun bisnis penerbangan yang telah berjalan. Teknologi tersebut justru dipandang sebagai pengembangan dari kemampuan yang sudah dimiliki Whitesky.

    Helikopter selama ini digunakan untuk kebutuhan perjalanan point-to-point, mobilitas korporasi, aktivitas industri hingga perjalanan menuju wilayah yang memiliki keterbatasan akses.

    Sementara itu, eVTOL dinilai berpotensi membuat sejumlah kebutuhan tersebut dapat dikembangkan dengan skala yang lebih luas seiring perkembangan teknologi, regulasi, dan infrastruktur.

    Drone ambulans EHang terbang di atas kota
    Drone ambulans EHang terbang di atas kota (Pexels eVTOL / flying taxi)
  3. 3. China, Jepang, Korea punya keunggulan berbeda

    Whitesky melihat China, Jepang, dan Korea memiliki kemampuan berbeda yang dapat mendukung pengembangan ekosistem AAM di Indonesia.

    China dinilai berkembang pesat dalam manufaktur pesawat, pengembangan eVTOL, dan rantai pasok. Jepang memiliki kekuatan di bidang engineering, teknologi penerbangan, dan kolaborasi industri.

    Sementara Korea memiliki perkembangan pada teknologi mobilitas, ekosistem baterai, dan infrastruktur digital yang berkaitan dengan AAM.

    Indonesia sendiri memiliki pasar yang besar, kebutuhan konektivitas antardaerah, pengalaman operasional penerbangan, serta kondisi geografis yang membuka berbagai peluang penggunaan AAM.

    Bagi Whitesky, teknologi eVTOL tidak cukup hanya dikembangkan. Teknologi tersebut juga membutuhkan operator, pasar, infrastruktur, serta penggunaan nyata agar dapat diterapkan secara komersial.

    “Asia memiliki banyak capability yang berkembang sangat cepat. Yang ingin kami bangun adalah bagaimana teknologi dan expertise dari berbagai partner dapat bertemu dengan operating capability, market, dan kebutuhan konektivitas Indonesia sehingga benar-benar dapat digunakan secara komersial,” ujar Denon.

  4. 4. Tak hanya pesawat, Whitesky bangun jaringan mitra strategis

    Pendekatan tersebut membuat penjajakan kerja sama Whitesky dengan mitra internasional tidak hanya berfokus pada pengadaan pesawat.

    Pembahasan juga mencakup pembiayaan, infrastruktur pengisian daya, pemeliharaan, dukungan teknis, pelatihan, serta kesiapan operasional.

    Kebutuhan tersebut dinilai semakin penting ketika eVTOL nantinya dioperasikan dalam jumlah besar.

    Pesawat listrik membutuhkan infrastruktur energi yang berbeda dengan penerbangan konvensional. Sementara ekspansi armada membutuhkan skema pembiayaan yang dapat menjaga kelayakan bisnis dalam jangka panjang.

    Karena itu, Whitesky mengarahkan roadshow Asia untuk membangun jaringan mitra strategis, bukan hanya jaringan pemasok pesawat.

    Perusahaan menilai pengembangan AAM di Indonesia pada akhirnya membutuhkan keterhubungan antara kemampuan manufaktur China, engineering Jepang, ekosistem teknologi Korea, serta kemampuan operasional dan pasar Indonesia.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More