Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Benarkah Kualitas Udara Tangsel lebih Buruk Dibanding Jakarta?

Kota Serang
3 min read
Benarkah Kualitas Udara Tangsel lebih Buruk Dibanding Jakarta?
Ilustrasi udara yang tercampur benda asing (unsplash.com/Amir Hosseini)
  • Kualitas udara Tangerang Selatan kerap tercatat lebih buruk dari Jakarta; pada 7 Oktober 2026, indeks IQAir berada di 140–166, kategori tidak sehat bagi kelompok sensitif hingga tidak sehat.
  • Pemantauan kualitas udara di Tangsel dan Banten belum optimal karena hanya satu alat standar tersedia, sementara perangkat BBMKG bersifat portabel; BMKG mendorong penambahan alat melalui kolaborasi pemerintah daerah.
  • BMKG menyebut mobilitas kendaraan, penggunaan AC rumah tangga, dan aktivitas UMKM berkontribusi pada polusi Tangsel; riset menunjukkan PM2.5 PLTU Suralaya bergerak ke Jakarta, bukan Tangsel.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Serang, IDN Times - Kualitas udara di Tangerang Selatan (Tangsel), Banten, kerap disebut lebih buruk dibanding Jakarta. Namun, kondisi tersebut belum bisa dipantau secara optimal, lantaran saat ini baru terdapat satu alat pemantauan kualitas udara yang memenuhi standar.

Plt Kepala BBMKG Wilayah II Ana Oktavia Setiowati mengatakan, Tangsel selama ini kerap berada di peringkat pertama pemantauan kualitas udara. Bahkan, kualitas udara di wilayah tersebut disebut berada di atas Jakarta.

Berdasarkan pemantauan IQAir South Tangerang, kualitas udara Tangsel pada Rabu, 7 Oktober 2026, berada di kisaran angka 140–166. Angka tersebut masuk kategori tidak sehat bagi kelompok sensitif hingga tidak sehat. "Tangerang Selatan itu memang selalu menduduki peringkat pertama, bahkan di atas dari Jakarta. Tetapi pemantauannya kan baru ada satu yang standar milik Dinas Lingkungan Hidup di Kota Tangerang Selatan," kata Ana, Kamis (8/10/2026).

  1. 1. Alat pemantau di Banten masih terbatas

    Polusi udara (Pinterest.com/Ben Holden)
    Polusi udara (Pinterest.com/Ben Holden)

    Ana mengatakan, keterbatasan alat pemantauan membuat kondisi kualitas udara di wilayah lain di Banten belum terpantau secara optimal. Saat ini, perangkat pemantauan yang tersedia di kantor BBMKG Wilayah II di Tangerang Selatan masih berupa perangkat portabel. Karena itu, BMKG mendorong pemerintah daerah di Banten berkolaborasi untuk menambah peralatan pemantauan kualitas udara.

    "Penambahan alat penting agar pemerintah memiliki data yang lebih luas mengenai kondisi kualitas udara di berbagai wilayah Banten," katanya.

  2. 3. Mobilitas kendaraan jadi penyumbang polusi

    Ilustrasi Polusi Udara.
    Ilustrasi Polusi Udara. (IDN Times/Anjani Asra)

    Selain persoalan keterbatasan alat pemantauan, BMKG juga menemukan sejumlah faktor yang berkontribusi terhadap buruknya kualitas udara di Tangsel. Salah satunya tingginya mobilitas kendaraan. Tangsel menjadi jalur pergerakan masyarakat dari Bogor menuju Jakarta maupun sebaliknya.

    "Hasil dari riset itu menyatakan bahwa aktivitas manusia yang lalu lalang, kalau dari Bogor itu kan lewatnya Tangsel yang mau ke Jakarta. Begitu kembali juga seperti itu. Jadi untuk lalu lintas mobilitasnya tinggi," kata Ana.

    Selain emisi kendaraan, penggunaan pendingin udara atau air conditioner (AC) rumah tangga juga turut berkontribusi terhadap kualitas udara. Aktivitas usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) juga disebut menjadi salah satu penyumbang yang cukup signifikan.

    "Di sana (Tangsel) sebetulnya ada usaha-usaha kecil. Nah, itu dari hasil riset menyumbang cukup signifikan untuk kualitas udara di Tangsel," ujar Ana.

  3. 3. Polusi PLTU Suralaya tak mengarah ke Tangsel

    ilustrasi polusi udara membatasi jarak pandang (id.wikipedia.org/Saperaud)
    ilustrasi polusi udara membatasi jarak pandang (id.wikipedia.org/Saperaud)

    Ana juga membantah dugaan buruknya kualitas udara Tangsel disebabkan emisi dari Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Suralaya di Kota Cilegon. Menurutnya, BMKG telah melakukan penelitian terhadap arah pergerakan polusi partikel halus atau PM2.5 dari kawasan PLTU tersebut.

    Hasil penelitian menunjukkan pergerakan PM2.5 dari Suralaya mengarah ke Jakarta, bukan Tangerang Selatan. "Isu itu kemudian kan diteliti. Nah, hasil penelitian itu sebenarnya tidak relevan, karena memang tidak mengarah ke Tangsel," kata Ana.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More