Kemarau Makin Panjang, Banten Utara Baru Hujan pada Desember

- BBMKG memprediksi musim hujan di Banten selatan mulai November 2026, sedangkan Banten utara baru Desember, mundur sekitar satu bulan akibat El Nino.
- Kemarau lebih panjang berisiko mengganggu air bersih, cadangan waduk, pertanian, dan kualitas udara; petani diminta menyesuaikan pola tanam.
- Pemprov Banten dan BBMKG akan melakukan survei untuk memetakan wilayah prioritas, termasuk risiko longsor saat tanah retak akibat kekeringan diguyur hujan.
Take a Deeper Reads

Serang, IDN Times - Musim hujan di wilayah utara Provinsi Banten diprediksi baru dimulai pada Desember 2026. Kondisi ini membuat musim kemarau berlangsung lebih panjang dari kondisi normal.
Plt Kepala Balai Besar Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BBMKG) Wilayah II, Ana Oktavia Setiawati, mengatakan awal musim hujan tahun ini mundur hingga tiga dasarian atau sekitar satu bulan dari normalnya.
"Bahwa musim hujan itu baru akan mulai di November. Itu pun mulai dari wilayah bagian selatan, Lebak. Nah, yang perlu diantisipasi adalah Banten bagian utara itu baru mulai musim hujan tuh diprediksi di Desember tahun 2026," kata Ana kepada wartawan di Gedung Negara Banten, Rabu (7/10/2026).
1. Musim hujan mundur akibat El Nino

Ilustrasi El Nino, Netral, dan La Nina (BMKG.go.id) Menurut Ana, mundurnya musim hujan dipengaruhi fenomena El Nino yang membuat intensitas hujan tertarik ke wilayah Samudra Pasifik. Kondisi tersebut menyebabkan kedatangan musim hujan di Banten mengalami keterlambatan.
Ana mengatakan kondisi kekeringan akibat mundurnya musim hujan berpotensi sama parahnya dengan yang terjadi pada 2023.
"Karena adanya fenomena El Nino yang mengakibatkan intensitas hujannya itu tertarik gitu ya. Jadi tertarik ke wilayah Samudra Pasifik, sehingga kita musim hujannya itu mundur daripada normalnya," ujarnya.
2. Air bersih hingga pertanian terancam

Ilustrasi Kekeringan. (IDN Times/Anjani Asra) Mundurnya musim hujan berpotensi berdampak pada sejumlah sektor, terutama ketersediaan air bersih. Durasi musim hujan yang lebih singkat dapat mengurangi cadangan air di dalam tanah maupun waduk.
Kondisi tersebut juga berdampak pada sektor pertanian. Petani perlu menyesuaikan pola tanam dengan waktu datangnya musim hujan agar kebutuhan air dapat diperhitungkan.
Di sektor kesehatan, masyarakat juga diminta mewaspadai penurunan kualitas udara yang dapat meningkatkan risiko gangguan pernapasan, seperti infeksi saluran pernapasan akut (ISPA).
Selain kekeringan, Ana mengingatkan potensi bencana hidrometeorologi ketika hujan mulai turun. Kekeringan yang berlangsung panjang dapat menyebabkan tanah merekah sehingga lebih rentan mengalami longsor saat diguyur hujan.
"Karena kekeringan yang sangat panjang, sehingga tanah-tanah itu menjadi merekah. Nah, pada saat terjadi hujan, ini potensi terjadinya tanah longsor ini menjadi lebih besar daripada biasanya," katanya.
Untuk mengantisipasi risiko tersebut, BBMKG merekomendasikan survei bersama dengan Pemprov Banten untuk memetakan wilayah yang perlu mendapat perhatian dan penanganan lebih awal.
Ana juga menjelaskan hujan yang turun di sejumlah wilayah Banten beberapa waktu lalu belum dapat dijadikan penanda masuknya musim hujan.
Hujan masih dapat terjadi selama musim kemarau akibat dinamika atmosfer.
"Ada faktor-faktor dinamika atmosfer seperti saat ini beberapa hari yang lalu itu terjadi hujan karena adanya gelombang Kelvin dan gelombang Rossby yang membawa massa udara ke wilayah Banten sehingga di Banten bisa terjadi hujan, seperti itu," ujarnya.
3. Pemprov Banten siapkan mitigasi

Andra Soni mengadakan rakor di pos pemantau gunung anak Krakatau (Dok. Pemprov Banten) Menanggapi prediksi BBMKG tersebut, Gubernur Banten Andra Soni mengatakan mundurnya musim hujan perlu diantisipasi. Terlebih, durasi hujan diperkirakan lebih pendek dan tidak merata.
"Beberapa hal disampaikan dan yang disampaikan ini patut kita antisipasi, salah satu adalah terkait dengan mundurnya musim hujan, dan kemudian tidak meratanya hujan, dan kemudian durasi yang pendek daripada hujan, dan kemudian dampak daripada kekeringan ini terkait dengan potensi bencana," kata Andra.
Terkait potensi tanah merekah akibat kemarau panjang yang dapat meningkatkan risiko longsor ketika hujan turun, Andra meminta organisasi perangkat daerah terkait melakukan survei bersama.
Langkah tersebut dilakukan untuk menentukan wilayah yang membutuhkan penanganan lebih awal.
"Saya memberikan arahan kepada dinas terkait untuk melaksanakan survei bersama sehingga kita bisa memitigasi apa yang harus kita kerjakan dan hal-hal lain," ujarnya.




















