Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Ironis! Alat Pendeteksi Tsunami di Banten Jadi Sasaran Pencurian
Ilustrasi tsunami (IDN Times/Mardya Shakti)
  • Komponen alat peringatan dini tsunami di Banten, termasuk baterai, kabel, aki, dan bagian besi, kerap dicuri sehingga BPBD meminta warga tidak mengambilnya.
  • Sebanyak 28 perangkat peringatan dini tsunami tersebar di pesisir Banten; hilangnya komponen berisiko mengganggu deteksi ancaman dan penyampaian peringatan kepada warga.
  • BMKG memantau sirene harian serta mengoperasikan HF Radar di Cinangka dan Tanjung Lesung, juga pengukur muka air laut di Pantai Labuan.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Serang, IDN Times – Komponen alat pendeteksi tsunami di wilayah Banten kerap hilang, mulai dari baterai, kabel, hingga aki sirene. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Banten mengingatkan masyarakat agar tidak mengambil komponen perangkat peringatan dini atau early warning system (EWS) karena menyangkut keselamatan warga, khususnya di kawasan pesisir.

Kepala Pelaksana BPBD Banten Lutfi Mujahidin mencontohkan enam baterai perangkat EWS milik Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) di kawasan Gunung Anak Krakatau yang dilaporkan hilang. Selain baterai, komponen berbahan besi pada perangkat yang ditempatkan di laut juga rawan diambil untuk dijual.

“Kami memohon kepada warga, selapar apa pun, sebutuh apapun, tolong alat deteksi-deteksi tsunami, baik yang di laut maupun di pulau, jangan diambil dong. Itu karena menyangkut hajat hidup orang Banten semuanya,” kata Lutfi, Senin (12/10/2026).

1. Alat pendeteksi tsunami tersebar di Pesisir Banten

Ilustrasi tsunami (IDN Times/Arief Rahmat)

Lutfi mengatakan perangkat EWS tersebar di sejumlah kawasan pesisir Banten, mulai dari Anyer, Pasauran, Labuan, hingga Panimbang. Perangkat tersebut berfungsi mendukung pemantauan ancaman tsunami dan penyampaian peringatan kepada masyarakat.

Menurutnya, perangkat buoy yang mengapung di laut juga rentan hilang. Selain berpotensi dimanfaatkan untuk menambatkan perahu, bagian berbahan besi pada perangkat tersebut dapat diambil karena memiliki nilai jual.

Lutfi mengingatkan, hilangnya komponen dapat mengganggu fungsi alat pendeteksi tsunami. Jika perangkat tidak berfungsi ketika ancaman muncul, proses penyampaian peringatan kepada masyarakat berpotensi terganggu.

Lutfi menyebutkan terdapat 28 unit alat peringatan dini tsunami di wilayah Banten. Sebanyak 22 unit merupakan milik BNPB, sedangkan lima unit lainnya milik Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG). Ia tidak merinci kepemilikan satu unit lainnya.

“Kalau ada itu sampai mati, tsunami nggak terdeteksi, ya, kan rugi kita semua,” ujarnya.

2. Kabel dan aki sirene BMKG juga kerap hilang

Ilustrasi tsunami (IDN Times/Mardya Shakti)

Kepala Stasiun Geofisika Kelas I Serang, Margiono, mengatakan kehilangan komponen juga terjadi pada sirene peringatan dini tsunami milik BMKG. Komponen yang kerap hilang adalah kabel dan aki, salah satunya pada sirene yang terpasang di dekat menara BTS di Pasauran, Kabupaten Serang.

“Yang di Pasauran tuh ada sirene yang di dekat BTS. Itu sering hilang aki, kabel-kabel,” kata Margiono.

Menurut Margiono, kehilangan komponen terakhir diketahui sekitar tiga bulan lalu. BMKG telah mengganti kabel yang hilang. Meski nilai komponen tersebut relatif kecil, kehilangan kabel dan aki dapat menyebabkan sirene tidak berfungsi.

Margiono mengatakan BMKG memantau kondisi sirene setiap hari dan menguji perangkat tersebut setiap tanggal 26 setiap bulan. Jika sirene terdeteksi tidak aktif, petugas akan memeriksa langsung ke lokasi untuk mengetahui penyebabnya.

“Kalau itu enggak besar. Itu kan enggak besar, cuman kabel-kabel biasa saja. Kan orang yang diambil tembaganya, kadang aki,” ujarnya.

3. BMKG pantau gelombang Selat Sunda

Ilustrasi zona evakuasi tsunami (unsplash.com)

Selain sirene, BMKG mengoperasikan dua high frequency radar (HF Radar) di Cinangka dan Tanjung Lesung untuk memantau kondisi gelombang di Selat Sunda. Kedua perangkat tersebut memiliki jangkauan sekitar 100 hingga 200 kilometer.

BMKG juga memiliki alat pengukur ketinggian muka air laut di sepanjang Pantai Labuan untuk memantau kondisi air laut ketika mencapai wilayah pantai. Perangkat pemantauan tersebut menjadi bagian dari upaya kesiapsiagaan menghadapi ancaman tsunami setelah bencana Selat Sunda pada 2018.

Margiono menegaskan, hilangnya komponen dapat mengganggu fungsi perangkat peringatan dini yang dibutuhkan untuk melindungi masyarakat dari ancaman tsunami.

“Karena kalau diambil komponennya jadi enggak fungsi,” ujarnya.

Curated For You

Editorial Team

Related Article