Kawah Gunung Anak Krakatau Mirip Telur Ceplok, Ini Penjelasan Ahli

- Penampakan kawah Anak Krakatau mirip telur ceplok viral setelah erupsi awal September 2026, menampilkan bagian tengah kuning dan area putih di sekelilingnya dari udara.
- Ahli IABI Daryono menjelaskan pola itu berasal dari interaksi alami antara genangan air, gas vulkanik sulfur, serta batuan dan mineral yang mengalami alterasi hidrotermal.
- Genangan mengisi dasar kawah, sementara pengendapan mineral menciptakan kontras warna; fenomena terkait perubahan sistem hidrotermal pascaerupsi saat status gunung tetap Level III Siaga.
Cilegon, IDN Times – Penampakan kawah Gunung Anak Krakatau yang menyerupai telur ceplok belakangan ramai diperbincangkan. Dari udara, bagian tengah kawah terlihat berwarna kuning dengan area putih di sekelilingnya.
Fenomena tersebut muncul setelah aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau pada awal September 2026 dan kemudian videonya viral di media sosial sejak 18 September.
Anggota Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia (IABI), Daryono menjelaskan, penampakan tersebut bukan fenomena misterius. Pola kuning-putih di kawah merupakan hasil proses geokimia alami akibat interaksi air, gas vulkanik, serta batuan dan mineral di lingkungan kawah aktif.
1. Terjadi karena interaksi air dan gas vulkanik
Daryono menyebut, penampakan seperti telur ceplok terbentuk ketika air menggenang di bagian dasar kawah dan berinteraksi dengan gas vulkanik, terutama senyawa sulfur atau belerang. Interaksi tersebut juga melibatkan batuan serta mineral yang telah mengalami alterasi hidrotermal.
“Fenomena kawah Anak Krakatau yang tampak seperti ‘telur ceplok’ terjadi karena interaksi antara air yang menggenang di dasar kawah dengan gas vulkanik, terutama senyawa sulfur/belerang, serta batuan dan mineral hasil alterasi hidrotermal,” kata Daryono.
Warna kuning di bagian tengah berkaitan dengan sulfur dan material mineral yang terbentuk atau terlarut akibat aktivitas vulkanik.
Sementara itu, warna putih di sekelilingnya berasal dari batuan dan mineral yang mengalami perubahan atau alterasi akibat berinteraksi dengan fluida serta gas panas.
2. Mengapa bentuknya mirip telur ceplok?

Potret erupsi Gunung Anak Krakatau dari satelit. (dok. Badan Geologi Kementerian ESDM) Daryono menjelaskan, genangan air secara alami akan menempati bagian terendah dari kawah. Di sekelilingnya berlangsung proses kimia dan pengendapan mineral.
Perbedaan warna antara genangan dan material mineral di sekitarnya kemudian menciptakan pola yang jika dilihat dari udara menyerupai kuning telur dengan putih telur.
“Genangan air menempati bagian terendah kawah, sementara proses kimia dan pengendapan mineral di sekitarnya menciptakan kontras warna yang dari udara terlihat sangat menyerupai kuning telur dengan putih telur,” ujarnya.
Daryono menyebut fenomena tersebut dapat muncul atau mengalami perubahan setelah episode erupsi. Hal itu berkaitan dengan perubahan sistem hidrotermal dan suplai gas di dalam kawah.
3. Muncul setelah aktivitas erupsi
Gunung Anak Krakatau mengalami episode erupsi menerus pada awal September 2026. Badan Geologi Kementerian ESDM mencatat episode erupsi menerus berlangsung sekitar 25 jam, dari 4 September pukul 23.07 WIB hingga 6 September pukul 00.04 WIB. Aktivitas gunung kemudian tetap dipantau dan statusnya berada pada Level III atau Siaga. (Kementerian ESDM)
Setelah aktivitas permukaan mereda, rekaman udara memperlihatkan genangan di dasar kawah dengan pola warna kuning dan putih. Penampakan itu kemudian beredar luas di media sosial sejak 18 September 2026. (detikcom)
Menurut Daryono, kemunculan pola tersebut dapat dipahami sebagai bagian dari perubahan kondisi geokimia di lingkungan kawah setelah aktivitas erupsi.
Daryono juga menegaskan istilah “telur ceplok” yang beredar di masyarakat merupakan sebutan berdasarkan bentuk visual kawah tersebut.
Ia menyebut fenomena tersebut lebih tepat dipahami sebagai genangan kawah yang mengalami perubahan geokimia akibat interaksi air, gas vulkanik, dan batuan, termasuk proses acid-sulfate alteration.
Dengan demikian, pola kuning-putih yang terlihat dari udara merupakan gambaran proses geokimia alami yang berlangsung di lingkungan kawah vulkanik aktif.
![[INFOGRAFIS] AI Jadi Tempat Curhat: Tren Baru Gen Z & Milenial](https://image.idntimes.com/post/20260429/upload_9c2883de31fbc7ad993691764c90e6e3_dfc3c6ee-e42f-48f6-9f1a-cde1ce74477c.jpg)






















