Serang, IDN Times - Luas Baku Sawah (LBS) di Provinsi Banten terus menyusut. Dinas Pertanian Banten mencatat luas lahan yang sebelumnya mencapai sekitar 194 ribu hektare, kini tersisa sekitar 187 ribu hektare.
Plt Kepala Dinas Pertanian Provinsi Banten Saiful Bahri Maemun mengatakan penyusutan LBS terjadi cukup signifikan dari tahun ke tahun. "Kalau lihat per tahun, LBS kita ya dari 194 ribu hektare sekarang 187," kata Saiful, Kamis (1/10/2026).
Menurut Saiful, alih fungsi lahan untuk kawasan industri dan pembangunan perkotaan menjadi salah satu faktor utama penyusutan lahan sawah di Banten. Pemerintah kabupaten dan kota, kata dia, menghadapi dilema antara mendorong pertumbuhan industri dan mempertahankan lahan pertanian.
"Kita tidak bisa memungkiri, alih fungsi lahan ini sangat berpengaruh. Teman-teman di kabupaten/kota tentu ingin meningkatkan sektor industri. Namun di sisi lain, peningkatan industri ini kerap memakan lahan baku sawah, sehingga menciptakan dilema dan berdampak pada ketersediaan lahan pertanian kita," ujarnya.
Luas Sawah Banten Menyusut, Industri Gerus Ribuan Hektare Sawah

1. LBS Kota Tangerang dan Tangsel mulai habis
Penyusutan paling kentara terjadi di wilayah perkotaan Tangerang. Saiful mengatakan LBS di Kota Tangerang dan Kota Tangerang Selatan telah habis akibat masifnya pembangunan.
"Ya sekarang kayak Tangerang kan sudah mulai, biarpun ya masih kecil-kecil. Apalagi kan kayak Kota Tangerang sudah tidak ada, Tangsel sudah tidak ada, sudah nol LBS-nya," katanya.
Dinas Pertanian Banten kini merekonsiliasi data LBS sekaligus mendorong pemerintah kabupaten dan kota menetapkan Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan (LP2B). Penetapan tersebut diharapkan menjadi instrumen untuk menahan laju alih fungsi lahan pertanian.
Menurut Saiful, pemerintah daerah diharapkan dapat mempertahankan sedikitnya 84 persen lahan pertanian. Namun, angka LBS terbaru belum dapat dihitung secara keseluruhan karena pemerintah masih menunggu penetapan LP2B dari masing-masing kabupaten dan kota. "Kita belum hitung semuanya (LBS-red), tapi kita nunggu dari penetapan LP2B dari masing-masing kabupaten/kota," ujarnya.
2. Lahan menyusut, produksi dikejar
Penyusutan lahan membuat pemerintah harus mengejar produksi pangan dari lahan yang tersisa. Dinas Pertanian Banten mengandalkan program Luas Tambah Tanam (LTT) dengan meningkatkan frekuensi penanaman pada lahan yang sama.
"Biarpun luas lahan berkurang, kita berupaya meningkatkan efisiensi dan frekuensi tanam. Lahan yang tadinya hanya bisa ditanam satu atau dua kali setahun, kita dorong melalui LTT menjadi tiga kali tanam agar target produksi pangan tetap tercapai," jelasnya.
3. Upaya Pemprov Banten pertahankan pertanian
Di tingkat pemerintah provinsi, upaya mempertahankan lahan pertanian juga dilakukan melalui pengusulan LP2B kepada pemerintah pusat.
Asisten Daerah Bidang Perekonomian dan Pembangunan Sekretariat Daerah Provinsi Banten Budi Santoso mengatakan Pemprov Banten tengah mengusulkan LP2B kepada pemerintah pusat.
"Gubernur Banten Andra Soni mengusulkan Lahan Baku Sawah (LBS) seluas 195,8 ribu hektare dengan Lahan Sawah Dilindungi (LSD) seluas 165 hektare," katanya.
Curated For You
- [INFOGRAFIS] AI Jadi Tempat Curhat: Tren Baru Gen Z & Milenial 09 Sep 2026, 13:52 WIB
- Belanja Banten Dipangkas Rp414 Miliar, Anggaran Pegawai Malah Naik30 Sep 2026, 14:17 WIB
- Penegakan Hukum Keracunan MBG Dipertanyakan, 11 Tokoh Bersuara21 Sep 2026, 07:00 WIB
- Pemprov Banten Targetkan Tarif Trans Banten Berlaku Januari 202729 Sep 2026, 16:29 WIB