Mandiri Kelola Sampah, Warga Ciputat Bikin Puluhan Komposter

- Warga Ciputat membuat puluhan komposter untuk mengurai sampah organik di lingkungan tempat tinggalnya
- Upaya ini dilakukan secara swadaya tanpa bantuan dana pemerintah, sebagai langkah konkret dalam pengelolaan sampah
- Pengelolaan sampah mandiri juga sebagai upaya membangun kesadaran publik dan diharapkan mendapat dukungan pemerintah
Tangerang Selatan, IDN Times – Di tengah krisis pengelolaan sampah yang melanda Kota Tangerang Selatan, sekelompok warga Perumahan Bukit Nusa Indah di Kelurahan Serua, Kecamatan Ciputat, justru memilih bergerak mandiri. Mereka menyulap tong penampung air menjadi komposter untuk mengurai sampah organik di lingkungan tempat tinggalnya.
Inisiatif ini muncul saat Tangsel tengah menghadapi persoalan tumpukan sampah di berbagai ruas jalan utama. Alih-alih menunggu solusi dari pemerintah, warga Serua mengambil langkah konkret dengan mengelola sampah sejak dari sumbernya.
Puluhan komposter dibuat secara swadaya dan akan digunakan untuk menampung sampah organik dari tiga RW yang menaungi 26 RT. Sampah seperti sisa makanan dan dedaunan akan diolah menjadi kompos dan pupuk cair yang dapat dimanfaatkan kembali oleh warga.
1. Jadi upaya kurangi sampah dari rumah tangga

Tak hanya komposter, warga perumahan ini juga sebelumnya telah membuat lubang biopori di sejumlah titik lingkungan. Seluruh kegiatan pengelolaan sampah ini dilakukan secara gotong royong, tanpa bantuan dana pemerintah.
Menariknya, proses pembuatan komposter dilakukan oleh para warga yang mayoritas berusia di atas 50 tahun. Dengan peralatan sederhana, mereka bergotong royong memotong, melubangi, dan merakit tong plastik agar bisa difungsikan sebagai alat pengurai sampah organik.
“Ini kami lakukan untuk mengatasi persoalan sampah di tiga RW. Sekaligus membantu pemerintah dalam pengelolaan sampah,” ujar Hohan Barazing (60), Minggu (4/12/2025).
2. Jadi upaya membangun kesadaran publik

Menurut Hohan, pengelolaan sampah mandiri bukan sekadar solusi teknis, tetapi juga upaya membangun kesadaran warga agar tidak selalu bergantung pada pemerintah.
“Konsepnya dari warga untuk warga. Kami ingin mandiri. Nantinya akan ada sosialisasi dan aturan bersama dengan RT dan RW,” jelasnya.
Pada tahap awal, warga menargetkan pembuatan sekitar 40 unit komposter. Setiap unit memerlukan biaya sekitar Rp450 ribu yang seluruhnya berasal dari swadaya masyarakat.
Selain mengurangi sampah yang dikirim ke TPA Cipeucang, komposter ini juga diharapkan menghasilkan pupuk kompos dan pupuk cair bernilai guna bagi lingkungan sekitar. Untuk sampah non-organik, warga berencana membentuk bank sampah sebagai lanjutan program pengelolaan sampah terpadu
3. Berharap pemerintah memfasilitasi kegiatan seperti ini

Hohan berharap langkah kecil yang mereka lakukan bisa mendapat dukungan pemerintah, baik dalam bentuk fasilitas maupun pendampingan.
“Kami berharap pemerintah bisa hadir dan memfasilitasi. Ini untuk kepentingan bersama, supaya ada simbiosis yang saling menguatkan,” katanya.
















