Warga Taktakan Kota Serang Tolak Sampah Tangsel

- Warga menolak kebijakan Pemkot Serang yang menerima sampah Tangsel
- Aksi unjuk rasa sebagai protes atas pengiriman sampah dari Tangsel ke TPAS Cilowong
- Taktakan disebut menjadi daerah yang paling terdampak
- Pencemaran lingkungan hingga terganggunya aktivitas warga karena lalu lintas truk sampah
Serang, IDN Times – Ratusan warga Kecamatan Taktakan, Kota Serang, menggelar aksi demonstrasi menolak kiriman sampah dari Kota Tangerang Selatan (Tangsel), Selasa (6/1/2026).
Dalam aksinya, massa membentangkan spanduk dan poster berisi penolakan, serta menggeruduk Kantor Kecamatan Taktakan di Jalan Taktakan–Gunungsari, Kota Serang. Sejumlah spanduk penolakan juga dipasang di pagar kantor kecamatan.
1. Warga menolak kebijakan Pemkot Serang yang menerima sampah Tangsel

Aksi unjuk rasa tersebut merupakan bentuk protes atas kebijakan pengiriman sampah dari Kota Tangsel ke Tempat Pembuangan Akhir Sampah (TPAS) Cilowong, Kelurahan Cilowong, Kecamatan Taktakan, Kota Serang. Diketahui, Pemkot Tangsel mulai mengirimkan sampah ke TPAS Cilowong sejak Kamis (1/1/2026).
Berdasarkan kesepakatan kerja sama antar daerah, sebanyak 500 ton sampah per hari dari Tangsel direncanakan dibuang ke TPAS Cilowong.
Koordinator aksi warga Kelurahan Taktakan, Yudha, menilai kebijakan tersebut merugikan masyarakat sekitar TPAS maupun warga yang dilintasi truk pengangkut sampah.
“Mereka (Pemkot Serang) hanya memikirkan keuntungan. Satu kata untuk kali ini, lawan. Tolak!” kata Yudha.
2. Taktakan disebut menjadi daerah yang paling terdampak

Ia menyebutkan, wilayah Taktakan menjadi pihak yang paling terdampak akibat kebijakan tersebut, mulai dari pencemaran lingkungan hingga terganggunya aktivitas warga karena lalu lintas truk sampah.
“Kampung kita tercinta Taktakan kini dicemari sampah. Taktakan dianaktirikan. Mereka tidak memikirkan sengsaranya rakyat,” katanya.
Usai berorasi, perwakilan massa aksi diterima oleh perwakilan Pemerintah Kota Serang untuk melakukan audiensi. Dalam pertemuan tersebut, warga menyampaikan berbagai keluhan dan tuntutan agar pengiriman sampah dari Tangsel ke TPAS Cilowong dihentikan atau setidaknya dikaji ulang.
3. Warga juga menyoroti dampak kesehatan terhadap warga

Salah seorang warga menyampaikan, truk pengangkut sampah yang melintas di wilayah Taktakan menimbulkan bau menyengat dan kerap menyebabkan sampah berceceran di jalan. “Apakah sampah yang lewat Taktakan disemprot udara bersih supaya tidak bau? Kami yang merasakan langsung. Sampah berceceran juga tidak dibersihkan,” kata warga saat audiensi.
Warga juga menyoroti dampak kesehatan akibat aktivitas pengangkutan dan penumpukan sampah tersebut. Menurut mereka, kesiapan fasilitas kesehatan justru menunjukkan pemerintah sudah mengetahui potensi dampak buruk bagi warga. “Kalau puskesmas disiapkan untuk orang sakit, berarti pemerintah sudah tahu akibatnya,” katanya.
Selain itu, warga menilai rencana pembangunan Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) seharusnya disiapkan terlebih dahulu sebelum menerima kiriman sampah dari daerah lain. “Harusnya alat PSEL disediakan dulu, baru menerima sampah. Faktanya, tidak ada warga yang setuju dengan kebijakan ini,” katanya.


















