23.723 Siswa di Banten Alami Gangguan Penglihatan, Dinkes Beberkan Pemicunya

- Pemeriksaan terhadap 994.202 siswa di Banten hingga 1 Oktober 2026 menemukan 23.723 anak, atau sekitar 2,4 persen, mengalami gangguan penglihatan.
- Mayoritas kasus berupa gangguan refraksi sebanyak 20.321 siswa, sedangkan 3.402 lainnya mengalami kelainan lain; miopia menjadi salah satu kondisi yang umum.
- Dinkes Banten menyoroti penggunaan gawai, aktivitas jarak dekat, minim kegiatan luar ruang, genetika, serta pola makan dan gizi sebagai faktor terkait kesehatan mata anak.
Serang, IDN Times - Sebanyak 23.723 siswa di Provinsi Banten mengalami gangguan penglihatan. Temuan itu berdasarkan hasil pemeriksaan mata terhadap 994.202 siswa di sekolah hingga 1 Oktober 2026, yang tercatat dalam dashboard Aplikasi Sehat IndonesiaKu (ASIK). Dari jumlah siswa yang diperiksa, sekitar 2,4 persen diketahui mengalami gangguan penglihatan.
Kepala Seksi Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular dan Tidak Menular Dinas Kesehatan Banten, Nenden Diana Rose, mengatakan mayoritas kasus merupakan gangguan refraksi.
Gangguan refraksi merupakan kondisi ketika mata tidak mampu memfokuskan cahaya secara tepat sehingga menyebabkan penglihatan kabur. Salah satu yang paling umum adalah rabun jauh atau miopia. "Sebanyak 20.321 gangguan refraksi, lalu kelainan lainnya 3.402," kata Nenden, Jumat (2/10/2026).
1. Kebiasaan main gawai jadi salah satu faktor

ilustrasi anak sekolah (pexels.com/muallim nur) Nenden menjelaskan, gangguan penglihatan pada anak usia sekolah dapat dipengaruhi sejumlah faktor. Salah satunya kebiasaan melakukan aktivitas dengan jarak pandang dekat dalam waktu lama, seperti menggunakan gawai, komputer, maupun membaca.
Jarak membaca yang terlalu dekat serta minimnya jeda saat melakukan aktivitas jarak dekat juga perlu diperhatikan.
Selain itu, rendahnya aktivitas anak di luar ruangan berkaitan dengan meningkatnya risiko miopia. Faktor genetik juga dapat berpengaruh, terutama pada anak yang memiliki orang tua dengan riwayat miopia. Gangguan penglihatan juga dapat berkaitan dengan infeksi atau peradangan mata, trauma atau cedera, gangguan nutrisi, hingga penyakit sistemik tertentu.
"Kekurangan vitamin A yang berat, misalnya, dapat menyebabkan gangguan pada mata dan dalam kondisi tertentu berujung pada gangguan penglihatan serius," katanya.2. Dinkes Banten soroti pola makan anak

ilustrasi anak sekolah (pexels.com/Rebecca Zaal) Sementara Kepala Dinas Kesehatan Banten, Ati Pramudji Hastuti mengatakan, pemeriksaan melalui program Cek Kesehatan Gratis (CKG) memberikan gambaran mengenai berbagai persoalan kesehatan yang dialami masyarakat, termasuk anak usia sekolah.
Menurutnya, gangguan mata, termasuk mata minus, menjadi salah satu persoalan yang banyak ditemukan pada anak sekolah.
Sementara pada kelompok remaja hingga lansia, Ati menyebut persoalan kesehatan yang lebih banyak ditemukan berkaitan dengan hipertensi dan diabetes.
"Banyak anak-anak sekolah yang menderita kelainan mata, baik itu mata yang minus," ujarnya.3. MBG diklaim bisa dukung kesehatan anak

Kepala dinas kesehatan Banten Ati Pramudji Hastuti (Dok. Khaerul Anwar) Ati mengatakan temuan gangguan kesehatan pada anak juga menunjukkan pentingnya peningkatan kualitas pola makan dan pemenuhan gizi seimbang.
Menurutnya, pemenuhan gizi menjadi salah satu aspek yang perlu diperhatikan untuk mendukung kesehatan dan tumbuh kembang anak.
"Nah, oleh karenanya maka ini combine bagaimana program MBG ini dijalankan, salah satunya bagaimana daya tahan tubuh termasuk visualisasi mata ini bisa diperbaiki dengan baik," kata dia.
![[INFOGRAFIS] AI Jadi Tempat Curhat: Tren Baru Gen Z & Milenial](https://image.idntimes.com/post/20260429/upload_9c2883de31fbc7ad993691764c90e6e3_dfc3c6ee-e42f-48f6-9f1a-cde1ce74477c.jpg)



















