Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

APRINDO dan UBM Kerja Sama Kembangkan Data Science dan AI untuk Ritel

Kota Tangerang
APRINDO dan UBM Kerja Sama Kembangkan Data Science dan AI untuk Ritel
APRINDO dan UBM Kembangkan Data Science dan AI untuk Ritel (IDN Times/Muhamad Iqbal)
  • APRINDO dan UBM menandatangani MoU untuk mengembangkan inovasi, data science, dan AI di ritel, sekaligus membangun ekosistem talenta yang kompeten serta siap menghadapi perubahan industri.
  • Kolaborasi mencakup pertukaran data penelitian AI, rencana S1 Manajemen Ritel, Short Course Specialist, dan Retail Talent Academy untuk menyiapkan lulusan maupun meningkatkan kompetensi pekerja ritel.
  • Pembelajaran akan mengangkat digitalisasi, omnichannel, rantai pasok, analisis data, dan AI; teknologi ini dinilai dapat mempercepat inventaris serta membantu pekerjaan ritel berisiko tinggi atau berskala besar.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Tangerang, IDN Times - Menghadapi tantangan ritel saat ini, Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (APRINDO) bersama Universitas Bunda Mulia (UBM) melakukan pengembangan inovasi serta pemanfaatan data science dan Artificial Inteligence (AI) di sektor ritel. Kolaborasi tersebut ditandai dengan penandatanganan nota kesepahaman (MoU) APRINDO dan UBM di Kampus UBM Serpong, Tangerang Selatan.

Ketua Umum APRINDO, Solihin menegaskan, kerja sama tersebut bukan sekadar seremoni penandatanganan MoU, melainkan langkah awal untuk membangun ekosistem pengembangan talenta ritel secara berkelanjutan.

“Bagi kami, MoU hari ini bukan sekadar kerja sama antara organisasi dan perguruan tinggi. Ini adalah bagian dari upaya kita bersama untuk menjawab kebutuhan yang sangat nyata di industri ritel Indonesia, yakni talenta ritel yang kompeten, profesional, dan siap menghadapi perubahan zaman,” ujar Solihin, Jumat (11/9/2026).

  1. 1. APRINDO bakal tukar data dalam penelitian AI

    Menurut Solihin, APRINDO memiliki akses langsung terhadap industri dan kebutuhan dunia usaha, sementara UBM memiliki kapasitas pendidikan untuk menyiapkan talenta. Kolaborasi keduanya diharapkan dapat mempertemukan supply talenta dari dunia pendidikan dengan demand tenaga kerja dari industri ritel.

    “Industri memiliki kebutuhan dan persoalan nyata, sementara kampus memiliki talenta dan pengetahuan. APRINDO menjadi jembatan yang menghubungkan keduanya,” kata dia.

    Solihin mengatakan, industri ritel terus berkembang dan menghadapi perubahan yang semakin kompleks. Namun, selama ini kebutuhan tenaga kerja di sektor ritel banyak dipenuhi lulusan dari berbagai disiplin ilmu. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa industri ritel membutuhkan kompetensi lintas disiplin, sekaligus membuka ruang bagi pengembangan bidang ilmu yang secara khusus mempelajari industri ritel.

    “Semakin besar industri ritel berkembang, semakin besar pula kebutuhan kita terhadap sumber daya manusia yang memahami ritel secara spesifik,” ujar Solihin.

    Berdasarkan data yang disampaikan APRINDO, sektor perdagangan merupakan kontributor terbesar kedua terhadap produk domestik bruto (PDB) Indonesia setelah industri pengolahan. Pada 2025, kontribusinya mencapai 13,17 persen terhadap PDB nasional, sementara perdagangan besar dan eceran tumbuh 5,49 persen.

    "Karena itu, APRINDO dan UBM menjajaki pengembangan S1 Manajemen Ritel yang dirancang dengan mempertimbangkan kebutuhan industri," jelasnya.

    Program tersebut diharapkan menjadi langkah awal agar Indonesia tidak hanya menghasilkan lulusan dengan latar belakang pendidikan umum yang kemudian bekerja di industri ritel, tetapi juga mulai mencetak talenta yang sejak awal mendapatkan pendidikan khusus mengenai ritel.

    Kolaborasi APRINDO dan UBM dirancang tidak hanya untuk mencetak fresh graduate atau lulusan baru, tetapi juga meningkatkan kompetensi pekerja yang sudah berada di industri. Konsep tersebut dikembangkan melalui tiga jenjang, yakni Short Course Specialist, Retail Talent Academy, dan dalam jangka panjang S1 Manajemen Ritel.

    “Dalam jangka pendek, kita akan membuat program future leader yang akan disiapkan sebagai sumber daya kompeten bagi para pengusaha ritel, terutama anggota APRINDO,” kata Solihin.

  2. 2. Digitalisasi manajemen ritel juga bakal berguna dalam pengembangan ritel di Indonesia

    IMG-20260911-WA0001.jpg
    APRINDO dan UBM Kembangkan Data Science dan AI untuk Ritel (IDN Times/Muhamad Iqbal)

    Dengan model tersebut, pengembangan SDM tidak hanya berorientasi pada talent acquisition, tetapi juga mencakup upskilling dan reskilling pekerja yang sudah ada.

    Salah satu kekuatan kerja sama ini adalah keterlibatan langsung pelaku industri dalam proses pembelajaran.

    APRINDO dapat membawa berbagai persoalan dan perkembangan nyata di industri ritel ke lingkungan akademik. Dengan demikian, pembelajaran tidak hanya dibangun berdasarkan teori, tetapi juga studi kasus dan pengalaman praktis dari dunia usaha.

    Berbagai isu yang dapat menjadi bahan pembelajaran antara lain digitalisasi ritel, omnichannel, supply chain, merchandising, customer experience, keberlanjutan, pemanfaatan kecerdasan artifisial (AI), analisis data, hingga perubahan perilaku konsumen.

    Solihin menilai, konsep pengembangan talenta tersebut berpeluang diperluas secara nasional mengingat jaringan anggota APRINDO tersebar di berbagai wilayah Indonesia. Pemanfaatan pembelajaran secara hybrid memungkinkan praktisi ritel dari berbagai daerah, seperti Surabaya, Medan, Makassar, Bali, Papua, dan wilayah lainnya, terlibat dalam proses pembelajaran tanpa harus selalu hadir secara fisik di Jakarta.

    “Dengan jaringan anggota APRINDO yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia, program ini memiliki peluang untuk dikembangkan secara hybrid. Pembelajaran dan pengalaman industri tidak hanya terpusat di Jakarta, tetapi dapat menjangkau talenta-talenta dari berbagai daerah,” kata Solihin.

  3. 3. AI bisa permudah alur pengaturan stok, keuangan, hingga kebutuhan di manajemen ritel

    Dekan Fakultas Teknologi dan Desain UBM, Adhiguna Mahendra mengungkapkan, secara teknis, AI dalam dunia ritel bisa digunakan untuk memudahkan manajemen ritel yang kompleks agar lebih efektif dan efisien.

    Misalnya saja, penggunaan teknologi drone yang dilengkapi AI untuk penghitungan inventaris secara cepat maupun pemanfaatan robotik dan era humanoid untuk membantu pekerjaan yang memiliki resiko tinggi atau membutuhkan tenaga masif.

    "Sehingga nantinya manajemen ritel tidak hanya disibukkan dengan soal stok, inventaris tetapi bisa untuk menghadapi yang lebih kompleks," kata dia.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More