Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Dinkes Tangerang: DBD Tinggi Karena Kebiasaan Tampung Air Hujan

Dinkes Tangerang: DBD Tinggi Karena Kebiasaan Tampung Air Hujan
Pixabay
Share Article

Tangerang, IDN Times - Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Tangerang, Achmad Muchlis mengungkapkan, penyebab tingginya angka kasus demam berdarah dengue (DBD) di wilayah tersebut lantaran adanya kebiasaan masyarakat menampung air hujan. Sayangnya, kebiasaan tersebut tak dibarengi dengan pengawasan yang intensif akan adanya jentik nyamuk.

"Salah satu faktor penyebabnya adalah perubahan iklim dan curah hujan yang cukup tinggi yang mendukung proses perkembangbiakan Aedes aegypti sebagai vektor DBD sementara kebiasaan perilaku masyarakat yang menampung air hujan yang tidak dipantau," kata Muchlis saat dikonfirmasi IDN Times, Rabu (17/4/2024).

1. Banyak masyarakat yang abai terhadap bahaya DBD

https://ayosehat.kemkes.go.id/
https://ayosehat.kemkes.go.id/

Selain itu, masih banyak pula masyarakat yang abai terhadap bahaya DBD bagi kesehatan masyarakat sehingga tidak adanya kesadaran untuk melakukan 3M sebagai pencegahan berkembangnya jentik nyamuk penyebab DBD. 

"Serta sulitnya menumbuhkan kepedulian dan kemauan masyarakat untuk rutin memantau jentik di lingkungan rumah masing masing yang masih kurang sehingga menjadi tempat dan berkembangbiaknya vektor DBD di masyarakat," ungkapnya.

2. Tingginya kasus kematian juga disebabkan telat penanganan

Ilustrasi seseorang yang sedang sakit(unsplash.com/Olga Kononenko)
Ilustrasi seseorang yang sedang sakit(unsplash.com/Olga Kononenko)

Tingginya kasus kematian, kata Muchlis, juga disebabkan dari telatnya penanganan yang dilakukan oleh keluarga pasien. Pasalnya, dari 4 kasus kematian di Bulan Januari 2024, terdiri dari 3 orang anak usia sekolah dan 1 guru.

"Pada awal gejala muncul hanya minum obat penurun panas saja tanpa dilakukan pemeriksaan laboratorium yang seharusnya sudah dilakukan dengan lama gejala demam yang sudah dialami sehingga kondisi kritis baru pasien tersebut ke rumah sakit," ungkapnya.

Muchlis juga menjelaskan, saat diselidiki secara epidemiologi pada sekolah tempat sehari hari, mereka beraktivitas terdapat banyak jentik nyamuk, terutama di salah satu lokasi pesantren tempat 1 orang kasus meninggal yang merupakan santri, dimana tingkat kebersihan lingkungan pesantren tersebut sangat kurang.

"Dan banyak sekali perindukan nyamuk DBD serta jentik DBD di lokasi tersebut," tuturnya.

3. Kasus DBD tersebar di beberapa wilayah kecamatan

Ilustrasi nyamuk Aedes aegypti (pixabay.com/Mohamed Nuzrath)
Ilustrasi nyamuk Aedes aegypti (pixabay.com/Mohamed Nuzrath)

Peningkatan jumlah kasus DBD tersebut tersebar di beberapa wilayah kecamatan yaitu diantara nya Kecamatan dengan kasus tertinggi adalah Kecamatan Cikupa, Kecamatan Panongan, Kecamatan Tigaraksa, Kecamatan Curug, Kecamatan Legok, Kecamatan Sukamulya, Kecamatan Cisoka, Kecamatan Solear, Kecamatan Kronjo, Kecamatan Balaraja, Kecamatan Jambe, Kecamatan Kelapa Dua, Kecamatan Sindang Jaya dan Kecamatan Jayanti. 

"Untuk Kasus kematian akibat DBD berada pada wilayah Kecamatan Jambe, Kecamatan Panongan serta Kecamatan Cikupa," ungkapnya.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Topics
Editorial Team
Ita Lismawati F Malau
EditorIta Lismawati F Malau

Latest News Banten

See More

Polisi Pantau 30 Akun Medsos Diduga Kelompok Gangster di Tangerang

29 Mei 2026, 18:15 WIBNews