Kala Air Waduk Karian Surut, Kampung yang Hilang Itu Muncul Kembali

- Muka air Waduk Karian turun sekitar 80 sentimeter pada musim kemarau, menampakkan bekas rumah, jalan, dan fondasi permukiman di Desa Sukarame serta Sukajaya.
- Kawasan yang terlihat merupakan permukiman terdahulu yang lahannya dibebaskan untuk Bendungan Karian; bangunan tidak dibongkar saat waduk mulai digenangi pada 2023.
- Fenomena ini memicu wisata perahu dan aktivitas memancing, tetapi warga Sukajaya menghadapi sumur mengering selama dua pekan serta belum menerima bantuan air bersih.
Lebak, IDN Times - Di kejauhan, garis perbukitan yang mengelilingi Waduk Karian tampak tenang. Permukaan air membentang luas, memantulkan langit musim kemarau yang nyaris tanpa awan. Dari tepian Kampung Somang, Desa Sukarame, Kecamatan Sajira, Kabupaten Lebak, rakit bambu bermesin kecil bersandar menunggu penumpang.
Bagi wisatawan, perjalanan melintasi waduk menawarkan panorama yang menenangkan. Namun bagi sebagian warga yang pernah tinggal di sana, perjalanan itu adalah cara untuk kembali melihat kampung yang pernah mereka tinggalkan.
Dengan tarif Rp150 ribu untuk sekali perjalanan pulang-pergi, satu perahu dapat mengangkut empat orang. Tarif tersebut tetap berlaku meski penumpangnya hanya seorang. Hanya beberapa menit kemudian, hamparan air mulai berganti dengan pemandangan yang tak biasa, dinding-dinding rumah tanpa atap berdiri di tengah genangan yang surut.
Bangunan-bangunan itu bukan reruntuhan akibat bencana. Mereka adalah sisa sebuah kampung yang pernah dihuni, sebelum proyek Bendungan Karian mengubah lanskap kawasan ini.
Musim kemarau tahun ini membuat muka air waduk turun sekitar 80 sentimeter. Penurunan yang terlihat kecil itu cukup untuk memperlihatkan kembali bekas rumah, jalan kampung, hingga fondasi bangunan yang selama hampir tiga tahun tersembunyi di bawah permukaan air.
Namun, menurut warga setempat, anggapan bahwa kampung tersebut “muncul kembali” tidak sepenuhnya tepat.
“Sebetulnya kampung itu tidak pernah benar-benar tenggelam seluruhnya. Kalau musim kemarau seperti sekarang, memang kelihatan lagi karena airnya surut,” kata Sandi warga Rangkasbitung yang kerap mengunjungi lokasi, Kamis (6/8/2026).
Jejak kampung yang ditinggalkan

Bendungan Karian merupakan salah satu Proyek Strategis Nasional (PSN) yang pembangunannya dimulai pada 2015. Setelah melalui proses pembebasan lahan dan relokasi ribuan warga, bendungan mulai diisi air (impounding) pada awal 2023, sebelum akhirnya diresmikan Presiden Joko Widodo pada Januari 2024.
Bendungan berkapasitas sekitar 314 juta meter kubik itu dibangun untuk memasok air baku ke Jakarta, Tangerang, dan Serang, mengairi puluhan ribu hektare sawah, mengendalikan banjir, hingga menjadi sumber pembangkit listrik.
Tetapi, di balik manfaat tersebut, tersimpan cerita tentang kampung-kampung yang perlahan ditinggalkan penghuninya.
Kepala Bagian Umum dan Tata Usaha Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Cidanau-Ciujung-Cidurian (C3), Maretha Ayu Kusumawati mengatakan, bangunan yang kini kembali terlihat berada di kawasan hulu genangan Desa Sukarame dan Desa Sukajaya.
“Lokasi di ujung genangan Desa Sukarame dan Desa Sukajaya berada di area hulu dan sebelumnya memang merupakan kawasan permukiman padat,” katanya.
Menurut Maretha, seluruh lahan di kawasan tersebut telah dibebaskan sebelum bendungan dioperasikan. Namun bangunan rumah tidak dibongkar.
“Seluruh area genangan memang sudah dibebaskan, tetapi bangunannya tidak kami robohkan. Tim konstruksi hanya melakukan pembersihan tanaman,” ujarnya.
Ia menjelaskan, volume air waduk hanya berkurang sekitar lima persen. Namun, penurunan elevasi sekitar 80 sentimeter sudah cukup memperlihatkan kembali sisa bangunan.
Menjadi tujuan wisata baru

Fenomena itu kini menarik rasa ingin tahu masyarakat. Setelah gambar-gambar perkampungan ini viral, pengunjung berdatangan untuk melihat bekas kampung yang muncul di tengah waduk. Mereka menyewa perahu milik warga menuju kawasan genangan.
Bagi warga sekitar, situasi ini menjadi sumber penghasilan baru. Perahu yang sebelumnya lebih banyak digunakan mencari ikan kini mengangkut wisatawan yang ingin menyaksikan “kampung tenggelam” dari dekat.
Di beberapa titik, bekas fondasi rumah masih terlihat utuh. Ada pula tembok yang berdiri sendiri, seolah menjadi penanda bahwa kehidupan pernah berlangsung di tempat itu.
Surutnya waduk juga menghadirkan berkah lain. Puluhan pemancing memadati tepian Bendungan Karian sejak pagi. Sebagian bahkan menggunakan getek untuk menuju tengah waduk mencari lokasi yang dianggap lebih menjanjikan.
Nandang, salah seorang pemancing, mengatakan musim kemarau justru menjadi waktu terbaik berburu ikan.
“Kalau air lagi surut begini, ikan lumayan banyak. Bahkan saya pernah mendapatkan ikan dengan bobot sekitar 1,5 kilogram,” katanya.
Ikan nila, mujair, hingga ikan mas menjadi tangkapan yang paling banyak diburu. Sebagian dijual kepada warga sekitar, sebagian lagi dibawa pulang sebagai lauk keluarga.
“Banyak juga warga luar yang sengaja datang memancing. Melimpahnya ikan membuat para pemancing penasaran,” ujarnya.
Tidak semua merasakan manfaat kemarau ini
Di sisi lain waduk, musim kemarau menghadirkan cerita yang berbeda. Neneng (45), warga Desa Sukajaya, kini rutin datang ke tepian waduk setiap pagi dan sore. Sumur di rumahnya mengering sekitar dua pekan lalu.
Ia membawa ember berisi pakaian kotor, beberapa jeriken, dan galon kosong.
“Sudah dua minggu sumur di rumah kering total. Mau mandi, mencuci juga bingung, makanya kami ke sini,” katanya.
Air waduk yang sedikit keruh tetap dimanfaatkan untuk mandi dan mencuci. Untuk kebutuhan minum, keluarganya terpaksa membeli air galon. Neneng mengatakan hingga kini bantuan air bersih belum juga datang.
“Belum ada bantuan air bersih. Kami berharap pemerintah segera menyalurkannya ke desa kami,” ujarnya.
Potret Kampung Cisomang dari tahun ke tahun, dilihat dari satelit
Di antara kenangan dan perubahan
Bagi pemerintah, Bendungan Karian tetap menjalankan fungsi utamanya. Kepala BBWS C3, Dedi Yudha Lesmana, memastikan penyusutan muka air belum mengganggu pasokan air untuk wilayah hilir.
“Kalau kebutuhan air di hilir meningkat, kami masih bisa mengalirkannya dari Bendungan Karian,” katanya.
Namun bagi sebagian warga, surutnya air waduk bukan sekadar fenomena hidrologi. Setiap kali musim kemarau datang, tembok-tembok yang muncul dari permukaan air seakan mengingatkan bahwa sebelum bendungan menjadi sumber air baku, tempat itu pernah dipenuhi suara anak-anak bermain, jalan kampung yang ramai dilalui warga, dan rumah-rumah yang kini hanya menyisakan dinding tanpa atap.
Di Waduk Karian, musim kemarau bukan hanya memperlihatkan dasar genangan. Ia juga membuka kembali ingatan tentang sebuah kampung yang belum sepenuhnya hilang.




















