Kemarau Panjang Tiba, Ratusan Warga Tangsel Mulai Kesulitan Air Bersih

- Musim kemarau panjang membuat puluhan warga Kecamatan Setu, Tangsel kesulitan air bersih karena sumur mengering dan debit air tanah menurun drastis.
- Pemerintah Kota Tangsel bersama BPBD menyalurkan sekitar 5.000 liter air bersih serta memantau wilayah terdampak sesuai instruksi Wali Kota Benyamin Davnie.
- Sebagian warga sempat memakai air sungai sebelum bantuan datang, kini mereka kembali menggunakan air bersih dan lebih hemat dalam pemakaiannya.
Tangerang, IDN Times - Musim kemarau panjang mulai berdampak ketersediaan air bersih di wilayah Tangerang Selatan. Puluhan warga Kecamatan Setu mulai kesusahan mendapatkan air bersih.
Salah satunya dialami Wisnu, warga Keranggan, sehari-harinya mengandalkan air tanah untuk mandi, mencuci ataupun kebutuhan air bersih harian. Namun sudah beberapa minggu, debit air sangat kecil bahkan tidak keluar sama sekali.
"Jadi kadang kalau tidak ada keluar air, ya enggak mandi dan mandi di kantor," katanya, Selasa (21/7/2026).
1. Masak dan minum harus beli air galon isi ulang
Memenuhi kebutuhan makan dan minum, Wisnu dan keluarga mengandalkan air galon isi ulang. Beruntung, bantuan air bersih datang dari BPBD yang digilir ke beberapa wilayah.
"Tapi sudah beberapa hari ini digilir ada bantuan air bersih dari BPBD. Kalau datang, isi berember-ember. Bahkan ada penampungannya pakai toren,"ujarnya.
2. Wali kota instruksikan ASN pantau warga yang kekurangan air bersih
Sementara itu, Wali Kota Tangerang Selatan Benyamin Davnie menginstruksikan seluruh jajaran terkait untuk melakukan pemantauan dan respons cepat terhadap wilayah yang mulai terdampak kekeringan selama musim kemarau.
"Pemerintah Kota Tangerang Selatan terus memantau wilayah yang berpotensi mengalami kekeringan dan memastikan kebutuhan dasar masyarakat, khususnya air bersih, tetap terpenuhi selama musim kemarau berlangsung," ujar Benyamin.
Sementara Camat Setu Erwin Gemala Putra mengatakan, dampak musim kemarau mulai dirasakan warga di Kelurahan Keranggan, tepatnya yang mendiami RW 01 RT 01 dan RW 02 RT 04.
"Jumlah kepala keluarga (KK) terdampak di dua RW tersebut sebanyak 35 KK, terdiri atas 15 KK di RW 01 dan 20 KK di RW 02. Sumur warga mulai mengering akibat musim kemarau," katanya.
Untuk membantu memenuhi kebutuhan warga, Pemerintah Kota Tangerang Selatan melalui Kecamatan Setu bersama Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Tangerang Selatan berkoordinasi dengan Perumdam untuk mendistribusikan air bersih ke wilayah terdampak.
"Alhamdulillah, mulai minggu lalu telah didistribusikan sekitar 5.000 liter air bersih kepada warga terdampak," ujarnya.
3. Warga sempat memanfaatkan air sungai untuk kebutuhan sehari-hari
Erwin menjelaskan, sejak awal musim kemarau masyarakat melakukan langkah antisipasi dengan menghemat penggunaan air agar kebutuhan sehari-hari dapat terpenuhi. Berdasarkan hasil peninjauan lapangan, sebagian warga sempat menggunakan air sungai untuk kebutuhan tertentu.
"Setelah bantuan air bersih didistribusikan, warga kembali menggunakan air bersih untuk kebutuhan sehari-hari. Memasuki musim kemarau ini, masyarakat juga mulai lebih bijak dalam menggunakan air," jelasnya.



















